"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Dari Natuna ke Nasional, Nayla Rania Raih Emas Kejurnas Karate Gokasi 2026 di Jambi

Perjalanan Panjang Seorang Karateka Cilik dari Natuna

Di atas podium bernomor satu, seorang gadis kecil berdiri tegap dengan senyum. Medali emas menggantung di lehernya, sementara kedua tangannya memegang piagam kemenangan. Mengenakan jaket warna merah, bawahan celana karate, dan rambut diikat rapi ke belakang, gadis itu menerima penghargaan atas keberhasilannya. Dialah Nayla Rania Putri Syadiah (13), karateka cilik asal Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), yang baru saja menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional.

Siswi yang masih duduk di bangku kelas VII SMP Negeri 1 Bunguran Timur itu, sukses meraih medali emas atau Juara I di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Karate Gokasi 2026, Piala Ketua Umum DPP Gokasi, yang digelar di Kabupaten Batang Hari, Jambi, pada 16-18 Januari 2026 lalu. Ia turun di kelas kumite putri. Prestasi tersebut terasa istimewa. Sebab, kemenangan itu diraih Nayla setelah menempuh perjalanan panjang dari wilayah terluar Indonesia, Kabupaten Natuna.

Bersama ibu tercinta dan satu orang rekannya Carissa, ia berangkat menggunakan kapal laut sebelum bergabung bersama kontingen DPD Gokasi Kepulauan Riau (Kepri). Nayla harus mengarungi Laut Natuna yang dikenal ganas saat musim Utara. Perjalanan laut berjam-jam, gelombang kuat, dilanjutkan perjalanan darat, menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangannya menuju arena tanding.

Namun bagi Nayla jarak dan ombak bukan alasan untuk mundur. “Alhamdulillah ini pengalaman yang sangat berharga dan menambah prestasi saya di dunia karate,” ujarnya kepada , Minggu (25/1/2026).

Didampingi penuh sang ibu, Irmawati, Nayla melangkah ke arena Kejurnas dengan tekad besar. Dukungan orang tua, pelatih, dan rekan-rekan latihan menjadi energi tambahan di setiap pertandingan. Di Kejurnas Gokasi 2026, Nayla tampil di kelas pemula dan harus menghadapi atlet dari 14 provinsi di Indonesia. Namun tekanan itu justru mampu dijawabnya dengan penampilan matang.

“Saya latihan setiap hari. Latihan fisik, teknik, dan persiapan tanding. Dua minggu sebelum berangkat latihan lebih giat lagi,” ungkapnya. Empat kali turun bertanding, empat kali pula dia menang atas lawannya. Satu medali emas berhasil ia persembahkan untuk Natuna dan Kepri.

Awal Mulai Karate

Namun, karate bukanlah hal yang baru bagi Nayla. Ia mulai mengenal bela diri ini sejak duduk di kelas tiga sekolah dasar, setelah melihat latihan karate di Ranai. “Waktu itu cuma lihat orang latihan, terus muncul keinginan ikut. Dari situ mulai latihan terus dan termotivasi,” tuturnya polos.

Sejak 2023, Nayla mulai rutin mengikuti kejuaraan. Mulai dari Kejuaraan Gubernur di Batam, Bangka Belitung, Tanjungpinang, dan berhasil meraih mendali emas. Hingga akhirnya debut Kejurnas di Jambi yang juga lagi-lagi langsung berbuah emas.

Usai Kejurnas, perjuangan Nayla belum berakhir. Bersama rekannya, Carissa Maharani, ia kembali turun bertanding di Kejurprov FORKI Series I yang digelar di Mall Botania, Batam, pada 22-24 Januari 2026. Meski baru saja menempuh perjalanan panjang dari Jambi, Nayla kembali menunjukkan kualitasnya. Ia kembali menyabet medali emas di kelas kadet, kumite -47 kg putri, sementara Carissa, peraih medali perak di Kejurnas Gokasi 2026, juga mempersembahkan medali emas di Kejurprov Forki Series I.

Perjalanan laut kembali harus mereka tempuh. Namun bagi Nayla dan Carissa, membawa nama Natuna adalah sebuah kehormatan. Di balik ketenangannya menaklukkan lawan, tersimpan kisah perjalanan hidup yang membentuk karakter dan fisik tangguh Nayla sejak usia dini.

Nayla diketahui lahir pada tahun 2012 di Kotabumi, Provinsi Lampung. Saat usianya masih sangat belia, takdir membawanya merantau jauh dari tanah kelahirannya. Ia mengikuti sang ayah yang merupakan seorang prajurit TNI AL yang pindah bertugas ke wilayah perbatasan Natuna sejak 2016 lalu. Keluarganya resmi menetap di wilayah perbatasan tersebut, ketika Nayla masih berusia sekitar tiga tahun.

Sejak saat itu, Natuna menjadi rumah kedua sekaligus tempat Nayla tumbuh, belajar, dan menempa mimpi. Sebagai anak tunggal, Nayla tumbuh dengan kedekatan kuat bersama kedua orang tuanya. Dukungan keluarga menjadi fondasi utama dalam setiap langkahnya, termasuk saat ia mulai menekuni dunia bela diri karate.

Lingkungan Natuna yang sederhana, jauh dari hiruk pikuk kota besar, justru menempa mentalnya menjadi pribadi mandiri dan disiplin. Nayla mulai membangun mimpi besar, yang kini satu per satu terwujud. “Ini semua juga berkat dukungan dan doa dari kedua orang tua saya,” tambah Nayla.

Irmawati, ibu Nayla, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ia setia mendampingi putri semata wayangnya itu dalam setiap pertandingan, bahkan rela mengeluarkan biaya pribadi demi mendukung langkah Nayla. “Sangat bangga dan bersyukur, apalagi bisa membawa nama natuna dan kepri ke kancah nasional. Walapun dari daerah perbatasan, ternyata tidak menjadi halangan untuk Nayla mengukir prestasi. Dan selaku orang tua, selagi dia mau kita terus memberikan support,” ujar Irmawati.

Sementara itu, Ketua DPC Gokasi Natuna, Herman, juga mengapresiasi capaian Nayla. Menurutnya, atlet-atlet Natuna memiliki potensi besar meski minim jam terbang dan fasilitas latihan. Ia juga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah, khususnya dalam penyediaan fasilitas latihan yang memadai agar pembinaan atlet dapat berjalan lebih maksimal ke depan.

“Anak-anak Natuna ini punya potensi besar. Walaupun dengan keterbatasan, mereka mampu memberikan yang terbaik. Semoga ini menjadi motivasi bagi anak-anak lainnya,” ujar Herman.

Di atas podium, dengan medali emas di dadanya, Naila berdiri bukan hanya sebagai juara, tapi sebagai bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari mana saja, bahkan dari perbatasan Indonesia.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *