Peristiwa Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung
Peristiwa yang mengejutkan terjadi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, yaitu kejadian bayi nyaris tertukar. Insiden ini membuat publik kembali memperhatikan kualitas layanan kesehatan di rumah sakit tersebut. Kejadian ini juga menjadi perhatian pemerintah daerah dan mendorong adanya evaluasi terhadap layanan kesehatan.
Seorang ibu muda bernama Nina Saleha menjadi korban langsung dari insiden ini. Ia bahkan tampak haru ketika mendapatkan perhatian dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Momen tersebut terjadi saat keduanya melakukan panggilan video pada Kamis, 9 April 2026. Dedi Mulyadi menyampaikan keprihatinannya atas insiden yang terjadi di Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) RSHS Bandung.
Politisi yang akrab disapa KDM tersebut menegaskan kepeduliannya terhadap kondisi korban dan keluarga yang terdampak. Sebagai bentuk bantuan nyata, ia memberikan santunan sebesar Rp 10 juta kepada Nina Saleha. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu proses pemulihan serta memenuhi kebutuhan bayi selama masa perawatan dan pemulihan kondisi keluarga.
Dalam percakapan itu, Dedi Mulyadi menyampaikan rasa keprihatinannya atas insiden yang terjadi di Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) RSHS Bandung. “Karena teteh sudah mengalami kesulitan saat melahirkan, saya nitip nanti buat beli popok anak Teteh, memenuhi gizi, dan pemulihan kesehatan Teteh, Rp 10 juta saya kirim ke Teteh,” ucap Dedi Mulyadi.
Nina yang berada di kediamannya di wilayah Nanjung, Margaasih, Kabupaten Bandung, tampak terharu dan meneteskan air mata saat menerima kabar tersebut. Ia pun mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan.
Penggunaan Bantuan yang Diberikan
Dikutip dari akun TikTok pribadinya, Nina mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang diterimanya. Ia berencana memanfaatkan dana tersebut untuk melaksanakan ibadah akikah bagi putranya. “Untuk Pak KDM terima kasih banyak untuk bantuannya. Saya akan beli domba untuk akikah. Alhamdulillah, terima kasih semuanya,” tutur Nina.
Selain itu, ia juga mengapresiasi dukungan warganet yang telah membantu menyuarakan kasusnya hingga mendapat perhatian luas. Kasus ini mencuat setelah Nina membagikan pengalamannya melalui media sosial pada Rabu (8/4/2026). Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan memicu reaksi publik.
Banyak warganet yang menyoroti pentingnya ketelitian tenaga medis dalam menangani pasien, terutama dalam proses penyerahan bayi kepada orangtua.
Respons Pihak Rumah Sakit
Manajemen RSHS Bandung mengakui adanya pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam insiden tersebut. Mereka juga telah mendatangi kediaman Nina untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung.
“Segenap manajemen RSUP Dr Hasan Sadikin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyamanan peristiwa yang dialami oleh anak Ibu Nina Saleha selama mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUP Dr Hasan Sadikin,” tulis manajemen dalam keterangan resminya.
Penyelesaian secara kekeluargaan pun telah ditempuh antara pihak rumah sakit dan keluarga pasien.

Evaluasi Layanan Kesehatan
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat memastikan akan melakukan audit dan evaluasi menyeluruh terhadap mutu layanan di RSHS Bandung. Kepala Dinkes Jabar, dr. R. Vini Adiani Dewi, menegaskan bahwa keselamatan pasien menjadi prioritas utama dalam pelayanan kesehatan.
“Namanya mutu layanan berarti pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada pasien, dari segi keselamatan pasien, keselamatan dalam berbagai hal ya, itu yang nanti kita ingatkan di RSHS-nya. Termasuk tadi ya memberikan bayi juga pasti ada SOP-nya, kita lihat nanti SOP-nya ada tidak,” tegas dr. Vini.
Selain audit, investigasi internal terhadap perawat aparatur sipil negara (ASN) senior yang diduga lalai juga masih berlangsung untuk menentukan sanksi disiplin.











