"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Prabowo Marah pada I Wayan Koster, Ancam Turunkan TNI Bersihkan Pantai, Tapi Bela Pramono di Jakarta

Kritik Presiden Prabowo Subianto terhadap Gubernur Bali

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan kritik tajam terhadap Gubernur Bali, I Wayan Koster, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah yang berlangsung di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, pada Senin (2/2/2026). Dalam arahannya, Prabowo secara langsung menegur gubernur dan bupati-bupati Bali.

Ia menyoroti masalah sampah yang mengotori pantai-pantai wisata di Bali. Menurutnya, kondisi ini dapat merusak citra pariwisata Indonesia di mata dunia. Sebagai sektor yang menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, pariwisata memiliki potensi besar yang bisa hancur jika kebersihan lingkungan tidak dijaga.

“Pariwisata menyerap lapangan kerja paling banyak, menyiapkannya juga paling cepat dan paling murah dari yang lain-lain. Tapi, saya menggugah saudara-saudara sekalian, pariwisata apakah turis mau datang melihat sampah? Indonesia indah, dia mau datang lihat kumuh?” ujar Prabowo di hadapan para kepala daerah.

Prabowo bahkan menyebut bahwa ia menerima kritik langsung dari pejabat asing terkait kondisi Bali. Ia menirukan ucapan tersebut, “Your excellency, i just came from Bali, Bali so dirty now. Bali not nice.”

Pantai Bali di akhir 2025, kata Prabowo, sangat memprihatinkan. Ia meminta Gubernur dan Bupati untuk segera bertindak menyelesaikan masalah sampah. Ia menyarankan agar SMA, SMP, SD, dan masyarakat umum turut serta membersihkan pantai.

“Ini pantai Bali. Bagaimana turis mau datang ke situ, lihat sampah? Gubernur Bupati, SMA, SMP, SD, di bawah kendali saudara apa susahnya sih entah hari Sabtu, hari Jumat semua anak sekolah kumpul di pantai ini, ini pantai kita ayo kita bersihkan ramai-ramai corve,” ujarnya.

Prabowo juga memerintahkan unsur TNI-Polri untuk terlibat aktif jika Gubernur tak mampu menyelesaikan persoalan tersebut.

“Kalau bupati dan gubernur tidak bisa, saya perintah, Dandim, Danrem saya perintahkan kau, gerakan anak buahmu, corve tiap hari, atau tiap berapa hari,” pungkasnya.

Sikap Kontras terhadap Gubernur Jakarta

Namun, sikap yang bertolak belakang justru ditunjukkan oleh Prabowo terhadap Gubernur Jakarta, Pramono Anung, saat Rakornas. Meskipun Pramono berasal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Prabowo menegaskan akan mendukung penuh kepemimpinan Pramono demi kepentingan warga Jakarta.

Dalam acara tersebut, Prabowo menekankan bahwa dirinya dipilih untuk bekerja bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa melihat latar belakang politik. “Intinya, saya dipilih sekarang saya akan bekerja untuk seluruh rakyat Indonesia. Saya tidak akan tanya, ini Gubernurnya partai mana ya. Dulu milih calon nomor 1, nomor 2 atau nomor 3 saya enggak akan tanya,” ujarnya.

Perbedaan politik dalam pemilu adalah hal biasa. Setelah pertandingan selesai, seluruh pihak semestinya kembali bersatu untuk bekerja demi bangsa dan negara. “Pertandingan ya pertandingan, kalau harus ada pemilihan ya harus ada pemilihan. Ada dua, tiga, lima calon enggak apa-apa bagus. Tapi begitu selesai, sudah lah kerja. Ini yang saya tawarkan,” lanjutnya.

Prabowo pun menyinggung nama Pramono Anung yang diketahui berasal dari PDIP. Meski berbeda partai, Prabowo memastikan dukungannya sebagai Presiden terhadap Gubernur Jakarta itu. “Pak Pram, dari PDIP, tapi tetap saya akan dukung sebagai Gubernur DKI karena tugas saya kewajiban saya adalah seluruh Rakyat Indonesia, termasuk rakyat DKI. Walaupun gubernurnya partai lain, saya akan dukung beliau supaya DKI aman dan selamat,” katanya.

Sikap Tidak Tebang Pilih

Selain Jakarta, Prabowo juga mencontohkan sikapnya terhadap daerah-daerah yang tidak memilih dirinya dalam Pilpres. Ia menyebut Sumatera Barat dan Aceh sebagai contoh wilayah yang tetap dibantu tanpa melihat hasil pemilihan.

“Buktinya, saya kalah di Sumatera Barat, tapi tetap MBG sampai ke Sumatera Barat, tetap koperasi merah putih, tetap kita bangun kita rehabilitasi Sumatera Barat. Saya juga kalah di Aceh kan, tapi tetap kita bangun Aceh habis-habisan. Enggak ada. Tidak boleh ada permusuhan, tidak boleh ada sakit hati, kalah menang biasa. Karena kita mengabdi untuk bangsa dan Rakyat Indonesia,” pungkasnya.


Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *