JAKARTA — Meski mengalami penurunan, PT United Tractors Tbk. (UNTR) masih mampu membukukan laba bersih yang cukup besar sebesar Rp14,81 triliun pada tahun 2025. Laba tersebut dihasilkan dari kinerja berbagai lini bisnis perusahaan, termasuk kontraktor, alat berat, tambang batu bara, emas, dan nikel.
Pada tahun 2025, anak usaha PT Astra International Tbk. (ASII) ini mencatat pendapatan bersih sebesar Rp131,3 triliun, turun sebesar 2,32% dibandingkan dengan pendapatan sebesar Rp134,4 triliun pada tahun 2024. Sementara itu, laba bersih UNTR juga mengalami penurunan sebesar 24,17% year-on-year (YoY) dari Rp19,53 triliun pada 2024 menjadi Rp14,81 triliun pada 2025.
Segmen Usaha yang Membentuk Kinerja UNTR
Manajemen UNTR menjelaskan bahwa kinerja perusahaan selama tahun 2025 didukung oleh beberapa segmen usaha utama, yaitu mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan batu bara, serta pertambangan emas dan mineral lainnya.
Dari sisi pendapatan, segmen kontraktor penambangan memberikan kontribusi terbesar, yaitu sebesar Rp54,1 triliun. Selain itu, pendapatan dari segmen mesin konstruksi mencapai Rp36,6 triliun, sedangkan segmen pertambangan batu bara mencatatkan pendapatan sebesar Rp24,2 triliun. Sementara itu, segmen pertambangan emas dan mineral lainnya memberikan kontribusi sebesar Rp14 triliun.
Kinerja Operasional Segmen Usaha
Segmen Usaha Mesin Konstruksi
Segmen usaha mesin konstruksi mencatat peningkatan penjualan alat berat Komatsu sebesar 2% menjadi 4.515 unit. Peningkatan ini terjadi karena penjualan yang lebih tinggi dari sektor kehutanan dan perkebunan. Berdasarkan riset pasar internal, pangsa pasar Komatsu adalah 20%, dan perusahaan tetap mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar alat berat di sektor pertambangan.
Penjualan Scania naik dari 436 unit menjadi 466 unit, sedangkan penjualan UD Trucks turun dari 234 unit menjadi 155 unit. Pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat turun 3% menjadi Rp11,3 triliun. Total pendapatan bersih dari mesin konstruksi turun 2% menjadi Rp36,6 triliun.
Segmen Usaha Kontraktor & Batu Bara Melandai
Segmen usaha kontraktor penambangan UNTR dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). PAMA dan KPP Mining menyediakan jasa pertambangan untuk pemilik konsesi tambang, termasuk pekerjaan pemindahan tanah dan produksi batu bara serta mineral lainnya.
Sampai dengan kuartal IV/2025, PAMA Grup mencatatkan volume pekerjaan pemindahan tanah yang lebih rendah sebesar 10% menjadi 1.100 juta bcm dan volume produksi batu bara untuk para kliennya tetap pada 148 juta ton dengan rata-rata stripping ratio sebesar 7,4 kali. Penurunan volume pemindahan tanah disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan penurunan stripping ratio pada beberapa kontrak klien. Total pendapatan bersih dari kontraktor penambangan turun 7% menjadi Rp54,1 triliun.
Segmen Usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi
Segmen usaha pertambangan batu bara termal dan metalurgi UNTR dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources). Pada tahun 2025, tambang batu bara Turangga Resources mencatatkan volume penjualan batu bara sebesar 11,6 juta ton (termasuk 3,7 juta ton batu bara metalurgi), naik 14% dari tahun 2024. Total volume penjualan batu bara termasuk batu bara pihak ketiga mencapai 14,3 juta ton, 9% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Pendapatan segmen usaha ini turun sebesar 7% menjadi Rp24,2 triliun, dikarenakan penurunan rata-rata harga jual batu bara.
Tersengat Harga Emas & Logam Industri
UNTR mencatat kinerja segmen usaha pertambangan emas dan mineral lainnya mengalami peningkatan pendapatan sebesar 41% menjadi Rp14,0 triliun, terutama disebabkan oleh peningkatan harga emas.
Pertambangan Emas
Usaha pertambangan emas perseroan dioperasikan oleh PT Agincourt Resources (PTAR) dan PT Sumbawa Jutaraya (SJR), yang mencatatkan total penjualan setara emas sebesar 227 ribu ons sampai dengan kuartal IV/2025. Capaian ini 2% lebih rendah dari tahun 2024. PTAR mencatatkan penjualan setara emas sebesar 213 ribu ons atau turun 7% dibandingkan dengan 2024. SJR mencatatkan 14 ribu ons penjualan setara emas.
Bisnis Nikel
PT Stargate Pasific Resources (SPR) mengoperasikan tambang nikel mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 2,1 juta wet metric ton (wmt) sampai kuartal IV/2025, yang terdiri atas 0,7 juta wmt saprolit dan 1,4 juta wmt limonit. Nickel Industries Limited (NIC) yang dimiliki sebesar 20,14% merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia.
Kinerja bisnis ini terdampak oleh pencatatan penurunan nilai terkait dua proyek RKEF lama milik NIC pada kuartal IV/2024. Hal tersebut mempengaruhi kinerja perseroan pada kuartal I/2025. Operasional RKEF NIC melaporkan penjualan nickel metal sebesar 93.264 ton sampai kuartal III/2025.











