Kritik Terhadap Keputusan Trump dalam Perang dengan Iran
Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris mengkritik keras keputusan Presiden Donald Trump yang membawa negara tersebut ke dalam konflik dengan Republik Islam Iran. Harris menilai bahwa Trump adalah seorang presiden yang tidak dapat dipercaya, dan keputusannya dianggap terlalu berisiko, yang berpotensi membahayakan pasukan AS serta stabilitas global.
Harris menyatakan bahwa keputusan Trump untuk memulai perang dengan Iran tidak didukung oleh mayoritas warga AS. Ia juga menilai bahwa ambisi perang tersebut bertentangan dengan konstitusi Amerika Serikat. Dalam pernyataannya melalui media sosial, Harris menegaskan bahwa dirinya secara tegas menolak perang dengan Iran dan khawatir tentang keselamatan pasukan AS yang ditempatkan dalam situasi berbahaya akibat pilihan Trump.
“Donald Trump telah membawa Amerika Serikat ke dalam perang yang tidak diinginkan rakyat Amerika. Saya ingin menegaskan bahwa saya menentang perang dengan Iran, dan pasukan kita ditempatkan dalam bahaya demi perang yang dipilih oleh Trump,” ujar Harris.

Ancaman Nuklir Iran dan Solusi yang Tidak Konfrontatif
Meskipun Harris mengakui bahwa AS harus tetap waspada terhadap ancaman nuklir dari Iran, ia menilai bahwa perang bukanlah solusi yang tepat untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir Iran. “Saya sangat tahu ancaman yang ditimbulkan Iran, dan mereka memang tidak boleh diizinkan untuk memiliki senjata nuklir. Tetapi, bukan seperti ini (perang) caranya untuk menghancurkan ancaman itu,” jelasnya.
Harris menyoroti bahwa keputusan Trump untuk memulai perang dengan Iran justru merupakan bentuk kebohongan. Selama kampanye, Trump sering kali berjanji untuk mengakhiri perang, bukan memulainya. Bahkan, pada 2025 lalu, Trump mengklaim telah berhasil melucuti program nuklir Iran. Namun, kini klaim tersebut dinilai sebagai penipuan.
“Selama kampanye, Donald Trump berjanji untuk mengakhiri perang dari pada memulainya. Dan itu saat ini menjadi kebohongan yang besar. Kemudian tahun lalu, dia (Trump) mengatakan telah menghancurkan program nuklir Iran. Dan itu juga adalah kebohongan,” kata Harris.
Kritik dari Tokoh Lain dan Kekhawatiran atas Stabilitas Global
Wali Kota New York Zohran Mamdani juga menyampaikan kecaman terbuka terhadap keputusan Trump. Menurut Mamdani, agresi AS bersama Israel terhadap Iran tidak memiliki dasar pembenaran. Ia menilai bahwa serangan ilegal tersebut berpotensi memicu bencana perang kawasan yang akan berdampak global.
“Serangan terhadap Iran adalah eskalasi bencana dan perang agresi ilegal,” ujar Mamdani. Ia menambahkan bahwa mayoritas warga AS tidak setuju dengan ambisi perang terhadap Iran. “Rakyat Amerika tidak menginginkan perang ini, dan tidak menginginkan perang lainnya dalam usaha penggulingan rezim di Iran,” tambahnya.

Pernyataan Trump dan Harapan untuk Kebebasan di Iran
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyerukan agar anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan seluruh polisi Iran menyerah. Trump menawarkan kekebalan penuh kepada tentara Iran jika mereka meletakkan senjata. “Letakkan senjata kalian. Kalian akan diperlakukan secara adil dengan kekebalan total, atau kalian akan menghadapi kematian yang pasti,” katanya dalam video yang diunggah ke media sosial.
Trump juga menegaskan bahwa tujuan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran adalah untuk menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran. Ia menilai bahwa pemerintah Iran membahayakan rakyat Amerika. “Belum lama ini, militer AS memulai operasi tempur besar-besaran di Iran. Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman dari rezim Iran,” ujarnya.

Dampak Perang di Kawasan Timur Tengah
Perang yang dimulai antara AS dan Iran telah menyebabkan kerusakan besar di kawasan. Api berkobar di Tel Aviv sebagai dampak serangan Iran pada Sabtu (28/2/2026), yang menunjukkan betapa berbahayanya konflik ini. Dampaknya tidak hanya terasa di wilayah tersebut, tetapi juga berpotensi memicu eskalasi global yang bisa merusak hubungan internasional.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











