Pandangan Presiden SBY Mengenai Perang dan Kebijakan Luar Negeri
Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pandangan mengenai perang yang terjadi antara Iran dengan Israel serta Amerika Serikat (AS). Menurutnya, serangan militer yang dilakukan oleh Iran adalah bentuk pembelaan diri setelah lebih dulu diserang oleh kedua negara tersebut. Ia menyebut situasi ini sebagai necessity of war (harus perang), yang menjadi pilihan terakhir dalam menjaga kedaulatan dan wilayah negara.
Namun, SBY tidak tahu pasti apa penyebab awal serangan yang dilakukan oleh Israel dan AS terhadap Iran. Padahal, sebelumnya, AS masih melakukan negosiasi tidak langsung di Jenewa dengan Iran. “Saya tidak tahu apakah karena Presiden Trump dan Benyamin Netanyahu sudah give up terhadap perundingan dan tak tercapai kesepakatan,” ujar SBY dalam wawancara di akun YouTube resminya.
Meski begitu, ia menekankan bahwa pemimpin politik tetap memiliki ruang untuk memilih antara berperang atau mencari solusi lain. Berikut beberapa poin penting dari pandangan SBY:
1. Dukungan Rakyat Jadi Faktor Penentu Durasi Peperangan
SBY menjelaskan bahwa peperangan di suatu negara akan berlangsung lama jika didukung oleh rakyatnya. “Bila rakyat Amerika Serikat mendukung penuh perang yang dilancarkan di Iran, begitu juga rakyat Israel dan Iran, maka itu salah satu faktor penentu para prajurit bisa bertempur dengan baik,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa para prajurit memiliki logika dan hati nurani. Bila perang benar-benar diperlukan, mereka rela mengorbankan jiwa dan raga untuk negara. “Soldiers will not fight and die unless they know what they fight and die for. Itu universal di seluruh dunia. Faktor itu jangan diabaikan,” tambahnya.
SBY, yang berasal dari latar belakang militer, mengaku lebih mencintai perdamaian. Ia selalu berusaha menghindari keputusan untuk berperang. “Kenapa saya tidak menjadi presiden yang gemar berperang? Because I know the cost of war, luar biasa dalamnya. Ribuan janda dan anak yatim yang kehilangan sosok ayah dan suami yang gugur di medan pertempuran.”
Namun, ia mengingatkan kepada pemimpin politik agar berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk berperang. “Bila keliru mengambil keputusan maka liang kubur di taman makam pahlawan akan semakin penuh.”
2. Pergantian Rezim Kepemimpinan yang Dipaksakan Tidak Mudah Dilakukan

SBY juga mewanti-wanti bahwa tidak mudah untuk memaksakan terjadinya pergantian rezim di suatu negara, terlebih jika ada campur tangan negara luar. Ia mengatakan bahwa meskipun tujuan perang AS dan Israel adalah untuk mengganti pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, nyatanya Iran tidak berhenti melakukan serangan balasan.
“Oleh karena itu saya harus mengatakan tidak semudah itu (melakukan pergantian rezim). Bukan berarti tidak mungkin, tapi harus melihat konteksnya secara utuh,” kata SBY.
Ia juga menegaskan bahwa peperangan harus memiliki sumber daya, cara, dan strategi untuk mencapai target militer. “Bila hal tersebut tidak ada, maka peperangan akan menimulkan frustasi belaka.”
3. Peperangan Sudah Meluas ke Wilayah Regional

SBY mencermati bahwa agresi militer Israel dan AS terhadap Iran telah meluas ke wilayah regional. Iran memenuhi janjinya untuk melakukan pembalasan terhadap pangkalan militer AS di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
“So, ini betul-betul sekarang sudah menjadi regional war. Kalau semula Amerika Serikat plus Israel melawan Iran, sekarang menjadi lebih rumit dan kompleks karena negara-negara teluk ikut diserang oleh Iran. Misalnya yang ikut diserang Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab (UEA) hingga Oman,” ujarnya.
Negara-negara di kawasan Timur Tengah juga sedang menegakan kedaulatannya karena melakukan pembalasan terhadap Iran. Belum lagi pangkalan militer Inggris di Siprus juga ikut diserang Iran.
SBY khawatir jika Iran mulai menyerang anggota aliansi NATO, maka Article 5 di dalam piagam NATO akan diberlakukan. “Isi dari Article 5 itu bila ada anggota NATO diserang oleh negara tertentu maka wajib hukumnya bagi negara anggota NATO lainnya bersama-sama dengan Inggris memerangi negara yang menyerang posisi Inggris tersebut. Ini kan menjadi lebih berbahaya lagi.”
Situasi bisa semakin memburuk bila Rusia dan Korea Utara ikut terlibat. SBY pun berharap hal itu tidak terjadi.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











