CO.ID – JAKARTA.
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) memiliki target pertumbuhan pendapatan sebesar 7% hingga 10% pada tahun 2026. Segmen bisnis perdagangan dan distribusi diprediksi tetap menjadi salah satu pilar utama kinerja perusahaan di tahun tersebut.
Arnanto Januri, Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa katalis untuk mendorong pertumbuhan pendapatan pada tahun ini terbatas. Oleh karena itu, JP Morgan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan AKRA pada tahun 2026 sebesar 9%, yang berada di bawah ekspektasi konsensus analis. Menurutnya, proyeksi tersebut cenderung optimistis dibandingkan dengan perkiraan awal. Pada tahun 2024 dan 2025, konsensus analis telah merevisi estimasi pendapatan AKRA, dengan penurunan sebesar 10% dan 18% masing-masing untuk tahun tersebut.
“Kami melihat potensi revisi negatif dari potensi pengurangan produksi batubara domestik, yang dapat menyebabkan campuran margin yang lebih tidak menguntungkan,” ujar Arnanto dalam risetnya pada 4 Februari 2026.
Pemangkasan produksi batubara nasional menimbulkan risiko penurunan. Hal ini terjadi setelah pemerintah merencanakan pemangkasan produksi batubara domestik Indonesia. Angka tidak resmi menunjukkan penurunan hingga 20% hingga 25% secara nasional. Beberapa laporan bahkan menyebut adanya pemangkasan yang lebih tajam, yaitu antara 40% hingga 70% untuk perusahaan pertambangan tertentu.
JP Morgan Sekuritas memperkirakan pertumbuhan volume minyak bumi akan stagnan pada tahun 2026, karena penjualan yang lebih rendah kepada penambang batubara, yang mencakup sekitar 35% dari volume. Arnanto menduga adanya erosi margin dari penjualan yang lebih rendah kepada pelanggan pertambangan. Namun, hal ini kemungkinan akan dikompensasi oleh kontribusi yang lebih tinggi dari segmen pasar umum dengan campuran margin yang lebih rendah.
Selain itu, Arnanto menyoroti perkiraan penjualan lahan di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). AKRA menargetkan penjualan lahan seluas 90 hingga 100 hektar (ha) pada tahun 2026, yang lebih tinggi dari ekspektasi JP Morgan Sekuritas sebesar 80 ha. Berdasarkan perhitungan Arnanto, setiap 1 ha lahan setara dengan sekitar Rp 4 miliar dalam pendapatan yang dapat diatribusikan untuk AKRA.
“Ketidakpastian atas pasokan gas jangka panjang di Jawa membuat kami kurang optimis terhadap penjualan lahan JIIPE dibandingkan dengan panduan perusahaan,” ungkap Arnanto.
Sementara itu, Bob Setiadi, Analis CGS International Sekuritas Indonesia, mencatat bahwa belanja modal (capex) yang disiapkan AKRA pada tahun 2026 sebesar Rp 1,2 triliun. AKRA berencana menghabiskan Rp 600 miliar untuk bisnis intinya, serta tambahan Rp 600 miliar untuk memperluas armada kapal dan truk untuk bisnis BBM dan kimianya.
“AKRA mengatakan bahwa mereka juga mencari pertumbuhan non-organik melalui akuisisi perusahaan yang sedang beroperasi. Namun, AKRA tidak memberikan rincian lebih lanjut,” ucap Bob saat dikonfirmasi, Senin (2/3/2026).
Manajemen memperkirakan bisnis perdagangan dan distribusi akan tetap solid pada tahun 2026. Didukung oleh pertumbuhan volume gabungan BBM dan kimia sekitar 5% hingga 6%. Saat membahas potensi hambatan seperti menurunnya volume pertambangan batubara, pelaksanaan program B50, dan dampak dari operasi Balikpapan residual fluid catalytic cracking (RFCC), manajemen menekankan jaringan infrastruktur AKRA yang kuat dan kurangnya kapasitas penyulingan domestik yang memadai sebagai keunggulan utama.
Adapun untuk kawasan industri mereka, perusahaan menyoroti pipeline penyewa yang kuat yang dipimpin oleh penyewa di bidang kimia yang telah membeli 40 ha dan berencana membeli tambahan sekitar 80 ha. Ada juga potensi bagi penyewa pabrik peleburan untuk mengamankan cadangan lahan yang cukup besar. Namun, manajemen mencatat tren di mana penyewa baru cenderung memperoleh lahan secara bertahap, bukan sekaligus.
“Kinerja operasional utilitas tumbuh lebih dari 110% secara year on year (yoy) pada tahun 2025 dan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut pada tahun 2026 seiring fasilitas baru penyewa mulai beroperasi,” kata Bob.
AKRA Chart
by TradingView
Namun, Timothy Handerson, Analis UBS Sekuritas Indonesia, mencatat risiko penurunan yang perlu dicermati. Antara lain berasal dari volume dan margin yang lebih buruk dari yang diharapkan untuk bisnis perdagangan dan distribusi, monetisasi lahan kawasan industri yang lebih lambat, serta perubahan peraturan yang merugikan, terutama untuk sektor pertambangan dan logam hilir.
Timothy memproyeksikan, pendapatan dan laba bersih AKRA tahun 2025 masing-masing sebesar Rp 44,01 triliun dan Rp 2,37 triliun. Tahun 2026, pendapatan dan laba bersih diproyeksikan mencapai Rp 44,5 triliun dan Rp 2,79 triliun. Adapun pada tahun 2024, AKRA mengantongi pendapatan Rp 38,73 triliun dan laba bersih Rp 2,23 triliun.
Arnanto merekomendasikan netral saham AKRA dengan target harga Rp 1.330 per saham. Sedangkan Bob merekomendasikan Add saham AKRA dengan target harga Rp 1.530 per saham. Sementara Timothy merekomendasikan beli saham AKRA dengan target harga Rp 1.680 per saham.











