Pemicu Konflik Iran-Israel
Pascakematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026, konflik antara Iran dan Israel semakin memanas. Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap titik utama di Israel, termasuk kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Klaim ini disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang menyebut serangan tersebut sebagai aksi “mendadak”.
Menurut pernyataan IRGC, Kantor Perdana Menteri Israel dan lokasi komandan Angkatan Udara rezim itu dihantam dalam serangan terarah menggunakan rudal balistik Kheybar Shekan pada gelombang ke-10. Namun, pihak kantor Netanyahu menegaskan bahwa tidak ada serangan rudal yang menghantam lokasi tersebut. Mereka menyebut klaim IRGC sebagai berita bohong.
Kekhawatiran atas Fasilitas Nuklir Iran
Di tengah eskalasi konflik, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyampaikan kekhawatiran tentang situasi di sekitar fasilitas nuklir Iran. Ia memperingatkan bahwa kemungkinan pelepasan radiologis dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk kebutuhan untuk mengevakuasi wilayah seluas atau lebih besar dari kota-kota besar. Grossi menambahkan bahwa upaya untuk menghubungi otoritas regulasi nuklir Iran masih terus dilakukan, namun sejauh ini belum ada respons.
Sementara itu, Duta Besar Iran untuk IAEA, Reza Najafi, menegaskan kembali bahwa pasukan AS dan Israel menyerang lokasi nuklir Iran sehari sebelumnya, dan menyebut fasilitas Natanz termasuk yang dihantam. Israel belum mengonfirmasi serangan terhadap Natanz maupun kantor Netanyahu.
Konflik Meluas ke Lebanon
Konflik juga meluas ke Lebanon. Israel dan Hizbullah saling melancarkan serangan setelah gencatan senjata rapuh selama setahun runtuh. Ledakan mengguncang pinggiran Beirut, ibu kota Lebanon, sementara kepala staf militer Israel meminta warga bersiap menghadapi konflik berkepanjangan. Hizbullah menyatakan, peluncuran roketnya merupakan balasan atas kematian Khamenei. Israel kemudian menyerang lokasi-lokasi yang berafiliasi dengan Hizbullah di selatan Beirut.
Otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas akibat serangan udara tersebut. Konflik kini memasuki hari ketiga dengan korban terus bertambah di berbagai wilayah.
Serangan Israel dan Amerika Serikat
Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan ribuan serangan udara di seluruh Iran, termasuk Teheran. Iran membalas dengan menembakkan drone dan rudal ke Israel serta sekutu AS di Teluk Persia. Di Kuwait, tiga tentara AS dilaporkan tewas, sementara sembilan orang meninggal di Israel bagian tengah.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 115 orang tewas, banyak di antaranya anak-anak, di sebuah sekolah dasar perempuan dekat pangkalan angkatan laut di Iran selatan. Di Lebanon, sedikitnya 31 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel.
Respons Militer Israel dan AS
Militer Israel menyatakan, pihaknya menyerang peluncur rudal Iran, sistem pertahanan udara, markas pemerintah, serta pusat komando. Sementara itu, pasukan AS menargetkan fasilitas rudal balistik Iran, menghancurkan markas besar IRGC, dan menenggelamkan setidaknya satu kapal perang Iran.
Di dalam negeri Iran, rencana suksesi tengah berjalan dengan komite sementara menjalankan pemerintahan hingga pemimpin tertinggi baru dipilih oleh Majelis Ahli. Di sisi lain, pelayaran melalui Selat Hormuz dan Laut Merah terganggu, memengaruhi pasokan minyak global.











