Iran Menembakkan Rudal ke Israel Setelah Klaim Perang Netanyahu
Pada malam Kamis, Iran meluncurkan serangan rudal ke arah Israel. Serangan ini terjadi setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa republik Islam tersebut telah “dihancurkan” oleh perang. Hal ini memicu sirene dan ledakan di Yerusalem.
Militer Israel mengidentifikasi tiga kali tembakan rudal dalam waktu satu setengah jam sebelum tengah malam. Sirene serangan udara berbunyi di seluruh Yerusalem, di mana ledakan keras terdengar. Layanan darurat Magen David Adom melaporkan tidak ada korban jiwa atau kerusakan langsung.
Sebelumnya pada hari Kamis, Netanyahu mengadakan konferensi pers yang menegaskan bahwa Israel dan Amerika Serikat “memenangkan” perang tersebut. Ia mengklaim bahwa Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium dan memproduksi rudal balistik. “Kita menang dan Iran sedang dihancurkan,” kata Netanyahu. Perang dimulai ketika sekutu melancarkan serangan terhadap Iran.
Kemudian ledakan terdengar di ibu kota Iran, sistem pertahanan udara diaktifkan. Tidak ada detail yang tersedia mengenai bagian Teheran mana yang terdampak atau penyebab ledakan tersebut. Ledakan terdengar pada hari Jumat di ibu kota Iran, Teheran, dan sistem pertahanan udara diaktifkan sebagai respons, seperti yang dilaporkan oleh media lokal Jamaran.
Serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang hingga saat ini, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Iran membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan Rudal Iran Menghantam Kilang Minyak Haifa
Serangan rudal Iran menghantam kilang minyak di Haifa, wilayah utara Israel, yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Yerusalem. Ledakan akibat serangan tersebut sempat memicu gangguan listrik di wilayah sekitar. Pemerintah Israel menyatakan tidak ada kerusakan signifikan pada infrastruktur utama.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang terus meningkat. Israel mengonfirmasi bahwa kilang minyak di Haifa terkena serangan rudal Iran. Fasilitas ini berada di kawasan industri Teluk Haifa yang merupakan pusat energi strategis Israel.
Reuters melaporkan serangan tersebut menyebabkan kerusakan terbatas pada fasilitas. Menteri Energi Israel, Eli Cohen, menegaskan kondisi masih terkendali. “Kerusakan pada jaringan listrik di wilayah utara bersifat lokal dan tidak signifikan,” ujar Eli Cohen. Ia juga menambahkan, “Tidak ada kerusakan signifikan pada situs infrastruktur Israel.”
Listrik Sempat Padam di Wilayah Utara
Serangan tersebut sempat menyebabkan gangguan listrik di wilayah utara Israel. Pasokan listrik dilaporkan terputus sementara sebelum akhirnya berangsur pulih. Al Jazeera pada Kamis (19/3/2026) melaporkan gangguan terjadi setelah fasilitas energi terdampak serangan. Sebagian besar pelanggan kini telah kembali mendapatkan aliran listrik normal.
Serpihan Rudal Picu Kerusakan dan Korban Luka
Haaretz melaporkan serpihan rudal Iran yang dicegat menghantam area kilang minyak di Haifa. Tidak ada laporan korban jiwa di lokasi kilang tersebut. Namun di wilayah lain, dampak serangan cukup terasa. Sebuah bangunan di Kiryat Shmona dilaporkan terkena serangan langsung. Empat orang dilaporkan terluka, termasuk satu korban dalam kondisi serius.
Seorang saksi mata mengatakan, “Ledakan besar mengguncang seluruh jalan.” Iran Ancam Serangan Tanpa Pengekangan. Serangan ini merupakan bagian dari balasan Iran atas serangan terhadap infrastruktur energinya. Salah satunya adalah serangan terhadap ladang gas South Pars.
Lokasi Strategis Dekat Pusat Israel
Kota Haifa berada di pesisir utara Israel dan menjadi salah satu pusat industri utama. Jaraknya sekitar 150 kilometer dari Yerusalem sebagai pusat pemerintahan Israel. Sementara dari Tel Aviv, kota ini hanya berjarak sekitar 90 kilometer. Letak strategis ini menjadikan kilang Haifa sebagai salah satu objek vital dalam sistem energi nasional Israel.
Konflik Kian Memanas
Eskalasi serangan antara Iran dan Israel menunjukkan konflik semakin meluas. Kedua pihak kini saling menargetkan infrastruktur strategis. Situasi ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Terutama terkait potensi gangguan pasokan energi dunia.
Israel Serang Fasilitas Gas Iran
Serangan Israel terhadap fasilitas gas Iran menandai pergeseran konflik dari konfrontasi militer menuju perang ekonomi yang berpusat pada sektor energi, menurut Umud Shokri, penasihat kebijakan luar negeri dan geopolitik energi yang berbasis di Washington.
Dilansir Iran International, pada 18 Maret, serangan Israel menargetkan fasilitas yang terkait South Pars serta pusat darat (onshore hub) di Asaluyeh, Provinsi Bushehr. Qatar, yang berbagi cadangan tersebut, secara langsung menyalahkan Israel. Sementara itu, Uni Emirat Arab menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan energi global.
Iran dengan cepat merespons dengan menyerukan evakuasi infrastruktur energi di seluruh Teluk Persia, termasuk di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. South Pars bukan sekadar aset hidrokarbon biasa. Bersama North Dome milik Qatar, ladang ini membentuk ladang gas alam terbesar di dunia, yang diperkirakan menyimpan 1.800 triliun kaki kubik gas dan 50 miliar barel kondensat.
Bagian Iran mencakup sekitar 36 persen cadangan gas terbukti dan sekitar 5,6 persen cadangan global, sehingga menjadikannya pilar utama ekonomi negara tersebut yang kini berada dalam risiko. Asaluyeh berfungsi sebagai inti operasional sistem ini, dengan memusatkan infrastruktur hulu, tengah, dan hilir dalam satu kawasan pesisir.
Produksi lepas pantai memasok kilang, kompleks petrokimia, dan terminal ekspor yang mendukung pembangkit listrik, basis industri, serta ekspor energi Iran. Serangan terhadap Asaluyeh tidak hanya mengganggu produksi, tetapi juga mengancam seluruh rantai nilai energi.
Terletak di sepanjang Teluk Persia dan terhubung ke jalur ekspor melalui Selat Hormuz, Asaluyeh berada di persimpangan antara produksi dan jalur transit. Gangguan berkelanjutan apa pun dapat memperburuk guncangan pasokan di pasar global. Israel kini melangkah lebih jauh dari sekadar menargetkan aset militer dan nuklir, dengan menyerang inti ekonomi kekuatan Iran. Hal ini menandakan pergeseran strategi menuju pelemahan ekonomi, di mana sistem energi menjadi target utama.
Respons Iran menunjukkan bahwa eskalasi tidak akan tetap terkendali. Media yang terkait Korps Garda Revolusi Islam telah menerbitkan daftar target potensial, seperti Ras Laffan dan Mesaieed di Qatar, kilang SAMREF dan kompleks petrokimia Jubail di Arab Saudi, serta ladang gas Al Hosn di Uni Emirat Arab.
Dampaknya mulai terlihat. Irak melaporkan penghentian pasokan gas Iran setelah serangan di South Pars, sementara instalasi Ras Laffan di Qatar sedang dievakuasi. Sifat reservoir yang digunakan bersama juga menimbulkan risiko tambahan. North Dome milik Qatar menopang sebagian besar pasokan LNG global ke Eropa dan Asia. Ketidakstabilan di sisi Iran menimbulkan kekhawatiran terkait pengelolaan reservoir, keselamatan operasional, serta efek limpahan.
Kecaman cepat Qatar mencerminkan perhitungan yang jelas, eskalasi di sekitar ladang gas terbesar di dunia mengancam pasar global sekaligus stabilitas regional. Risiko bahkan meluas melampaui kawasan Teluk. Ladang gas lepas pantai Israel, yakni Leviathan, Tamar, dan Karish, sangat penting bagi pasokan domestik dan ekspor regional, serta tetap rentan terhadap potensi pembalasan.
Israel memiliki infrastruktur energi domestik yang relatif terbatas dan rentan terhadap pembalasan langsung, sementara Iran beroperasi di wilayah dengan konsentrasi aset energi yang padat. Iran mungkin tidak dapat dengan mudah meniru serangan tersebut, tetapi dapat menimbulkan gangguan luas dengan menargetkan produsen Teluk, jalur pelayaran, atau infrastruktur lepas pantai.











