"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Laila, Jasa Nyekar dan Rawat Makam dengan Tarif Rp50 Ribu

Sosok Laifa, Wanita yang Viral dengan Jasa Jastip Nyekar

Laifa, seorang wanita berusia 27 tahun asal Surabaya, kini menjadi sorotan karena menawarkan layanan jasa jastip nyekar atau berziarah ke makam. Layanan ini terbilang unik dan tidak biasa, namun berhasil menarik perhatian publik. Dengan tarif mulai dari Rp50 ribu, Laifa memberikan layanan pembersihan makam serta doa untuk almarhum.

Layanan yang ia tawarkan ini awalnya muncul dari permintaan seseorang di media sosial yang tinggal di luar Pulau Jawa. Awalnya, Laifa hanya menjalankan layanan tersebut sebagai bentuk bantuan kecil, namun akhirnya berkembang menjadi bisnis sampingan yang cukup diminati.

Awal Mula Ide Jasa Jastip Nyekar

Laifa mengungkapkan bahwa ide ini muncul secara tidak sengaja saat ia sedang scrolling TikTok. Ia melihat ada ojek online yang menerima pesanan untuk berziarah. Hal ini membuatnya terinspirasi untuk membuka jasa jastip nyekar. Awalnya, ia menawarkan layanan ini melalui media sosial Threads, terutama untuk para perantau yang ingin tetap berziarah meski tidak bisa pulang saat Lebaran.

Tarif yang ditetapkan adalah Rp50.000 untuk layanan pembersihan makam dan doa. Namun, awalnya ada pro dan kontra terhadap layanan ini, terutama karena adanya tambahan biaya untuk membaca Yasin. Akhirnya, Laifa memutuskan untuk fokus pada layanan pembersihan dan doa tanpa tambahan biaya.

Proses Merawat Makam

Proses merawat makam dimulai dengan persiapan alat seperti sapu lidi, gunting, kantong plastik, serta lap basah dan kering. Laifa juga membeli bunga tabur segar dari pedagang di pinggir jalan sebelum menuju lokasi makam. Ia mengenakan pakaian serba hitam sebagai bentuk kesopanan saat berziarah.

Di lokasi makam, Laifa membersihkan area sekitar makam, menyapu daun-daun kering, mencabut rumput liar, serta mengelap nisan agar tulisan terlihat jelas. Setelah itu, ia menaburkan bunga dan menyiramkan air segar. Terakhir, ia memanjatkan doa sesuai keyakinannya, lalu mendokumentasikan hasilnya melalui foto yang dikirimkan kepada keluarga pemilik makam.

Batasan dan Tanggapan Masyarakat

Laifa membatasi jangkauan jasanya hingga maksimal 10 kilometer dari tempat tinggalnya di Surabaya. Ia juga memastikan identitas makam dapat dikenali melalui tulisan pada nisan. Jika mengalami kesulitan menemukan lokasi, ia tak segan bertanya kepada juru kunci makam.

Respons masyarakat terhadap jasa ini cukup besar. Banyak pesanan masuk melalui pesan langsung di media sosial. Bahkan, beberapa orang terinspirasi untuk membuka layanan serupa di daerah lain. Beberapa dari mereka bahkan menghubungi Laifa untuk menanyakan bagaimana cara membuka jasa serupa di Jabodetabek.

Pengalaman Pribadi yang Membentuk Ide

Di balik ide bisnis ini, ternyata ada pengalaman pribadi yang mendalam. Laifa pernah merantau dari Lampung ke Jombang untuk sekolah, lalu melanjutkan kuliah dan bekerja di Surabaya. Pada tahun 2017, ia menerima kabar duka bahwa ayahnya meninggal dunia di Lampung. Namun, ia tidak sempat hadir saat pemakaman karena keterbatasan waktu perjalanan.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami perasaan rindu banyak orang yang tidak bisa berziarah langsung. Kini, melalui jasa yang ia jalankan, Laifa merasa bisa menjadi perantara bagi mereka yang ingin menyampaikan doa dan perhatian kepada orang tercinta yang telah tiada.

Kesimpulan

Laifa tidak hanya menjalankan bisnis sampingan, tetapi juga memberikan manfaat bagi banyak orang. Ia melihat makam sebagai rumah terakhir yang harus dirawat, bukan dibiarkan terbengkalai. Dengan semangat dan kepedulian, Laifa berhasil menciptakan layanan yang tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memberikan ketenangan bagi keluarga yang tidak bisa berziarah langsung.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *