Kenaikan Ketegangan AS-Iran: Klaim Iran Menembak Jatuh Jet F-35
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah pernyataan keras dari mantan Presiden AS, Donald Trump, yang mengancam akan meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran. Ancaman tersebut langsung dibalas oleh Iran dengan klaim mengejutkan bahwa mereka berhasil menembak jatuh jet tempur F-35, salah satu pesawat paling canggih di dunia.
Jet F-35 merupakan pesawat siluman generasi kelima yang dikenal dengan teknologi mutakhir dan kemampuan menghindari radar. Klaim Iran ini membuat dunia terperanjat karena selama ini F-35 dianggap sebagai aset militer paling superior. Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari AS maupun Israel terkait kebenaran insiden tersebut.
Pernyataan IRGC Mengenai Insiden
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah menembak jatuh sebuah pesawat tempur canggih di wilayah selatan Pulau Qeshm, Teluk Persia, pada Kamis (2/4/2026). Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media lokal. IRGC menjelaskan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mendeteksi dan melumpuhkan pesawat tersebut saat melintas di area selatan pulau tersebut.
“Sistem pertahanan udara (Iran) mencegat pesawat tempur canggih milik AS (Amerika Serikat) dan Israel,” bunyi pernyataan resmi dari korps tersebut. Lebih lanjut, pernyataan itu menyebutkan bahwa pesawat yang menjadi target tersebut jatuh ke perairan Teluk Persia.
Kendati demikian, pihak IRGC belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai jenis pesawat maupun kondisi pilot dalam insiden tersebut. Televisi pemerintah Iran juga turut menayangkan cuplikan rekaman video yang diklaim sebagai detik-detik saat pesawat tempur tersebut terkena serangan.
Eskalasi Konflik di Kawasan Timur Tengah
Ketegangan di kawasan Teluk terus meningkat sejak AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan besar-besaran itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang hingga saat ini, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai bentuk respons, Teheran telah melakukan serangkaian serangan balasan menggunakan drone dan rudal.
Serangan-serangan tersebut tidak hanya menargetkan Israel, tetapi juga menyasar wilayah Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan aset militer AS. Iran juga menutup Selat Hormuz secara parsial yang mengguncang pasar energi dunia dan perekonomian global.
Pernyataan Trump Mengenai Ancaman Militer
Klaim IRGC tersebut disampaikan usai Presiden AS Donald Trump mengancam bahwa pasukannya akan menyerang Iran dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan ini disampaikannya dalam pidato pertama sejak perang di Iran dimulai, Rabu (31/3/2026).
“Kami akan terus berupaya hingga tujuan kami sepenuhnya tercapai. Berkat kemajuan yang telah kami raih, saya dapat mengatakan bahwa kami berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan semua tujuan AS dalam waktu singkat, sangat singkat,” kata Trump, dikutip dari Al Jazeera.
“Kami akan membawa mereka kembali ke zaman batu tempat mereka seharusnya berada,” sambungnya. Menurutnya, perubahan rezim di Iran bukan tujuan AS untuk menyerang negara itu. Pasalnya, perubahan rezim di Iran sudah terjadi seiring usai gugurnya Khamenei dalam serangan hari pertama 28 Februari.
Trump juga memperingatkan Iran akan serangan terhadap pembangkit listrik jika tidak ada kesepakatan yang tercapai. “Jika selama periode waktu ini tidak ada kesepakatan yang tercapai, kami akan mengincar target-target utama,” papar Trump. “Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, kami akan menyerang setiap pembangkit listrik mereka dengan sangat keras, dan mungkin secara bersamaan,” sambungnya.











