Pernyataan Keras Dubes Indonesia Terkait Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon
Dubes Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Umar Hadi menyampaikan pernyataan keras terkait gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian UNIFIL di Lebanon. Peristiwa ini menimbulkan reaksi tajam dari pihak Indonesia, khususnya dari Umar Hadi, yang sebelumnya dikenal sebagai diplomat berpengalaman dan bertangan dingin.
Pernyataan tersebut disampaikan secara tegas oleh Umar Hadi dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, pada Selasa (31/3/2026). Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan menerima alasan atau justifikasi apa pun dari Israel terkait serangan yang menargetkan pos penjaga perdamaian.
Umar Hadi mendesak PBB agar turun langsung menyelidiki kematian tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon dan mengabaikan penyangkalan Israel. “Biar saya perjelas, kami menuntut penyelidikan langsung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan sekadar alasan-alasan dari Israel,” tegasnya.
Latar Belakang Sosok Umar Hadi
Umar Hadi bukanlah nama baru di dunia diplomasi. Ia dikenal sebagai diplomat bertangan dingin dengan pengalaman luas di berbagai posisi penting. Sebelum menjadi Dubes RI untuk PBB, ia pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Korea Selatan. Sebelumnya, ia juga menjabat sebagai Direktur Jenderal di Kementerian Luar Negeri.
Ia dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/8/2025). Lahir pada 11 Februari 1968, Umar Hadi adalah lulusan S1 Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran (Unpad), serta memiliki gelar S2 dari Fletcher School of Law and Diplomacy, Amerika Serikat. Ia juga pernah mengambil Program Spesialisasi Multilateral di Graduate Institute of International and Development Studies, Swiss.
Sebelum menjabat sebagai Dubes RI untuk PBB, Umar Hadi pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Kedutaan Besar RI di Belanda (2009), Direktur Eropa Barat Kemlu (2012), dan Konsulat Jenderal di Los Angeles, AS (2014). Pada 2017 hingga 2021, ia menjabat sebagai Dubes Indonesia untuk Korea Selatan, kemudian menjadi Direktur Jenderal Amerika dan Eropa di Kemlu (2022–2025).
Data Harta Kekayaan
Berdasarkan data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan pada 14 Januari 2025 untuk periode 2024, Umar Hadi tercatat memiliki kekayaan senilai Rp2.200.803.463. Dalam laporan tersebut, aset terbesar Umar Hadi bersumber dari kas dan setara kas, tanpa adanya catatan utang.
Rincian Data Harta:
* Tanah dan Bangunan: Rp—
* Alat Transportasi dan Mesin: Rp—
* Harta Bergerak Lainnya: Rp—
* Surat Berharga: Rp—
* Kas dan Setara Kas: Rp2.200.803.463
* Harta Lainnya: Rp—
* Utang: Rp—
* Total Harta Kekayaan: Rp2.200.803.463
Kritik Keras terhadap Israel
Perdebatan antara Indonesia dan Israel terlihat dalam rapat Dewan Keamanan PBB yang disiarkan dalam kanal United Nations, Selasa (31/3/2026) malam. Wakil Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, membantah keras pernyataan Israel melalui duta besar, Danny Danon, yang menuduh Hizbullah sebagai pihak yang harus bertanggung jawab dalam peristiwa penyerangan pasukan perdamaian PBB di Lebanon.
Umar Hadi mengatakan, ada framing dari Israel yang akan memberikan pertanyaan mendasar dari peristiwa penyerangan tersebut. “Siapa yang bertanggung jawab menciptakan dan melanggengkan zona permusuhan itu?” kata Umar Hadi.
Dia menegaskan bahwa peristiwa penyerangan UNIFIL yang menewaskan tiga prajurit TNI itu tidak hadir dari ruang hampa, melainkan buah dari serangan militer Israel yang berulang ke Lebanon Selatan.
Tuntutan Indonesia dalam Sidang DK PBB
Berikut tiga tuntutan Indonesia yang disampaikan Umar Hadi dalam sidang DK PBB tersebut:
- Pemulangan jenazah tiga personel yang gugur secara cepat, aman, dan bermartabat, serta perawatan medis terbaik dan komprehensif bagi lima prajurit yang terluka.
- Jaminan pasti dari seluruh pihak yang terlibat, termasuk Israel, untuk menjunjung tinggi hukum internasional dan menghentikan tindakan agresif yang membahayakan personel serta aset PBB.
- Penerapan langkah-langkah darurat oleh DK PBB dan Sekretaris Jenderal PBB guna memastikan perlindungan penuh bagi personel UNIFIL, termasuk peninjauan protokol keamanan dan rencana evakuasi.
Umar Hadi menambahkan, eskalasi yang terjadi di Lebanon berakar dari serangan militer Israel yang berulang kali melanggar kedaulatan Lebanon dan mengancam perdamaian dunia, serta dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional.
Peristiwa Gugurnya Tiga Prajurit TNI
Total tiga prajurit TNI gugur di Lebanon saat bertugas menjadi pasukan perdamaian PBB. Ketiga prajurit TNI tersebut gugur dalam peristiwa dua serangan berbeda.
Prajurit pertama yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon dalam serangan yang terjadi di Posko United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon pada Minggu (29/3/2026). Kemudian serangan kedua kembali menimpa pasukan Perdamaian PBB dan membuat dua prajurit TNI meninggal dunia.
Kedua prajurit TNI yang meninggal dunia dalam serangan kedua Senin (30/3/2026) adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Kedua prajurit TNI tersebut terkena serangan saat mengawal kegiatan UNIFIL.
“Perkembangan terbaru yang diterima pada 30 Maret 2026 menunjukkan kembali terjadinya insiden di wilayah Lebanon Selatan yang berdampak pada personel Satgas TNI yang sedang melaksanakan tugas pengawalan untuk mendukung kegiatan operasional UNIFIL,” tulis TNI.
Dalam insiden tersebut, dua prajurit TNI dilaporkan gugur, sementara dua prajurit lainnya mengalami luka berat. Para prajurit yang mengalami luka saat ini telah mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan di Beirut.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











