Peringatan 40 Hari untuk Ayatollah Ali Khamenei
Jutaan warga Iran memperingati 40 hari kematian Ayatollah Ali Khamenei, yang menjadi momen duka nasional. Namun, jenazah sang pemimpin belum juga dimakamkan secara resmi, memicu spekulasi tentang pembangunan mausoleum megah di Qom.
Krisis kepemimpinan menghantui Teheran setelah suksesor Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, dilaporkan tidak sadarkan diri akibat luka serangan udara yang sama pada 28 Februari lalu.
Di tengah duka nasional, IRGC mengklaim kemenangan strategis lewat 100 gelombang serangan balasan rudal yang memaksa AS menerima gencatan senjata sementara.
Gelombang Duka dan Amarah yang Luar Biasa
Gelombang duka dan amarah yang luar biasa menyapu Iran pada Kamis (9/4/2026). Jutaan orang membanjiri jalanan ibu kota Teheran untuk menandai Arba’een atau peringatan 40 hari wafatnya Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Namun, di balik lautan manusia yang menuntut balas, sebuah anomali besar menjadi sorotan dunia: jenazah sang Pemimpin dikabarkan belum juga dimakamkan.
Misteri Makam yang Belum Terisi
Dalam tradisi Islam, khususnya mazhab Syiah yang dominan di Iran, pemakaman biasanya dilakukan sesegera mungkin. Namun, hingga peringatan 40 hari kemartirannya, belum ada laporan resmi mengenai prosesi penguburan Ali Khamenei.
Fenomena ini memicu spekulasi mendalam mengenai kondisi keamanan, stabilitas politik, atau strategi simbolis rezim di tengah perang yang masih berkecamuk dengan aliansi AS-Israel.
Warga revolusioner yang memadati rute dari Lapangan Jomhouri hingga lokasi serangan teror 28 Februari lalu, terus meneriakkan sumpah setia. Bagi mereka, meskipun jasad sang Pemimpin belum menyatu dengan tanah, semangat perlawanannya justru kian membara di seluruh penjuru negeri.
Ketiadaan prosesi pemakaman resmi Ali Khamenei selama 40 hari terakhir memicu berbagai analisis. Laporan intelijen terbaru menunjukkan bahwa rezim sedang mempersiapkan sebuah mausoleum raksasa di Qom—pusat spiritual Iran—sebagai tempat peristirahatan terakhir yang permanen sekaligus simbol resistensi abadi.
Padahal sebelumnya Presiden Iran mengatakan pemakaman jenazah Ali Khamenei direncanakan di kota suci Mashhad. Pemakaman ini akan dilakukan di kompleks makam Imam Reza setelah upacara besar di Teheran. Mashhad dipilih karena merupakan tempat kelahirannya dan lokasi makam ayahnya.
Jutaan Manusia di Jalan
Pemandangan di Teheran, Kamis menunjukkan betapa duka telah bertransformasi menjadi pembangkangan kolektif. Bendera hitam menyelimuti 22 distrik, dari Lapangan Vali Asr hingga Tajrish, sementara seruan “pembalasan keras” terus bergema di tengah lantunan ayat suci Al-Quran.
Krisis Suksesi: Mojtaba dalam Koma
Di balik layar, Iran menghadapi badai politik yang tak kalah hebat. Mojtaba Khamenei (56), putra Ali Khamenei yang digadang-gadang sebagai penerus takhta, dikabarkan tidak sadarkan diri. Memo diplomatik yang dilihat oleh The Times menyebutkan Mojtaba sedang dalam perawatan medis darurat di Qom akibat luka parah dari serangan teroris AS-Israel pada 28 Februari yang juga menewaskan ayahnya.
Ketidakhadiran Mojtaba secara fisik selama 40 hari perang memicu keraguan tentang siapa sebenarnya yang memegang kendali atas negara nuklir tersebut. Meski televisi pemerintah sempat merilis klip yang diduga hasil rekayasa AI (Artificial Intelligence) untuk menenangkan publik, intelijen Barat menilai Mojtaba tidak mampu terlibat dalam pengambilan keputusan strategis apa pun.
Jejak Darah di Minab dan Serangan Balas Dendam
Tragedi ini berawal dari kampanye militer skala besar tanpa provokasi oleh AS dan Israel yang meluluhlantakkan infrastruktur sipil Iran. Salah satu serangan paling mematikan menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, merenggut nyawa lebih dari 170 warga sipil, mayoritas adalah anak-anak.
Menanggapi “entitas paling kriminal” tersebut, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan 100 gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan regional AS dan wilayah pendudukan Israel. Eskalasi ini akhirnya memaksa musuh ke meja perundingan, di mana gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan diumumkan pada Rabu lalu setelah AS menerima proposal 10 poin dari Iran.
Warisan yang Mengeras
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa kemartiran Ali Khamenei justru memperkuat revolusi lebih dari saat ia masih hidup. “Kesedihan rakyat telah berubah menjadi perlawanan yang tak tergoyahkan,” ungkap Seyed Mohsen Mahmoudi, kepala Dewan Koordinasi Teheran.
Kamis malam, di bawah langit Teheran yang gelap, sumpah setia terus diperbarui. Antara makam yang masih kosong, suksesor yang terbaring koma, dan ancaman perang yang belum sepenuhnya padam, Iran sedang menavigasi periode paling kritis dalam sejarahnya sejak Revolusi 1979.
Rakyat Iran berdiri tegak, mentransformasi air mata menjadi energi untuk menghadapi agresi asing yang mereka sebut sebagai “kesombongan dunia.”
Tuntut Uang Darah
Di tengah itu semua, televisi pemerintah Iran kembali menyiarkan pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, kepada rakyat Iran. Pernyaatannya seolah menjadi doping tinggi yang membawa keyakinan.
Mojtaba memastikan Iran akan terus memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz yang strategis dan mengelolanya ke tahap baru yang dinilai lebih menguntungkan bagi rakyat Iran. Selain itu Mojtaba Khamenei juga memastikan tidak membiarkan AS dan Israel yang sudah menyerang mereka secara militer lolos dari hukuman dan akan menuntut uang darah para martir dan korban lainnya kepada kedua negara itu.
Hal itu dikatakan Khamenei dalam pernyataan dan pesan tertulisnya kepada rakyat Iran dilansir dari Tasnim News, saat memperingati hari ke-40 martirnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, para komandan elit, dan anak-anak Minab akibat serangan mendadak dan brutal militer AS-Israel pada 28 Februari, Kamis (9/4/2026).
“Dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa, kami tentu tidak akan membiarkan para agresor kriminal lolos begitu saja. Kami tentu akan menuntut ganti rugi atas setiap luka yang ditimbulkan, uang darah untuk para martir, dan ganti rugi untuk para veteran cacat akibat perang ini, dan kami tentu akan memajukan pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru,” kata Mojtaba.
Khamenei juga mendeklarasikan bahwa rakyat Iran telah meraih kemenangan mutlak dalam perang atau konflik yang disebutnya sebagai ‘perang paksa ketiga’ melawan Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Iran bukan hanya hasil kekuatan militer, tetapi juga buah dari ketahanan dan partisipasi rakyat Iran yang heroik.
“Saudara-saudari di tanah air! Hari ini, dan hingga saat ini dalam kisah perang ketiga yang dipaksakan, dapat dengan berani dinyatakan bahwa kalian, rakyat Iran yang heroik, telah menjadi pemenang sejati di arena ini,” kata Mojtaba.
Pemimpin Baru Revolusi Islam itu mendeklarasikan bahwa Iran kini telah bertransformasi menjadi kekuatan dunia yang tak tergoyahkan. Mojtaba Khamenei menyebut dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel kerap dinarasikan Iran mengalami kekalahan. Namun semua yang dihembuskan musuh, katanya telah patah oleh ketahanan rakyat Iran.
“Ini tidak diragukan lagi adalah berkah ilahi yang telah diberikan kepada kita melalui darah pemimpin kita yang gugur dan para martir lainnya, saudara-saudara sebangsa yang tertindas, dan bunga-bunga yang ditaburkan di sekolah di bawah pohon mulia Minab,” ujarnya.
Ia menggambarkan Republik Islam bukan lagi tunas muda yang terluka seperti saat ayahnya mengambil alih kepemimpinan 37 tahun lalu, melainkan pohon mulia yang akarnya telah menghujam dalam dan cabangnya menaungi dunia.
“Melalui permohonan dan doa-doa rakyat kepada Yang Maha Kuasa, partisipasi aktif mereka di jalan-jalan, lingkungan sekitar, masjid-masjid, dan pengorbanan tanpa pamrih mereka, berkah ini telah diberikan kepada rakyat Iran,” katanya.
Atas berkah itu, Mojtaba menyerukan rakyatnya bersyukur karena semuanya diraih melalui upaya tanpa henti untuk mencapai Iran yang kuat. Ia menyoroti perlunya keterlibatan publik yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan strategis sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemimpin yang gugur.
“Oleh karena itu, meskipun diasumsikan bahwa kita telah memasuki fase keheningan militer, adalah tugas setiap warga negara yang mampu hadir di jalanan, lingkungan, dan masjid untuk meningkatkan partisipasi mereka,” ujar Mojtaba.
Ia menegaskan bahwa seruan rakyat di jalanan berdampak pada negosiasi yang akan dilakukan di Islamabad. “Tentu saja, suara Anda di jalanan memiliki pengaruh langsung pada negosiasi, sama seperti jutaan orang yang luar biasa dan terus bertambah dalam kampanye ‘Para Martir untuk Iran’ juga merupakan faktor kunci dalam upaya ini,” katanya.
Merefleksikan transformasi Republik Islam sejak didirikan, Ayatollah Khamenei memuji pencapaian dekade-dekade terakhir. Beliau menekankan bahwa jalan menuju Iran yang lebih kuat terletak pada persatuan di antara berbagai komunitas di negara itu, seperti yang sering ditekankan oleh pemimpin yang gugur.
“Sebagian besar persatuan ini telah tercapai dalam empat puluh hari terakhir ini: hati rakyat semakin dekat, perpecahan antara berbagai kelompok dan kecenderungan mereka yang berbeda-beda mulai mencair, dan semua telah berkumpul di bawah bendera tanah air,” katanya.
Menurutnya hari demi hari, pertemuan meningkat baik dalam jumlah maupun kualitas, sehingga banyak orang sekarang memandang masa depan dengan perspektif peradaban. “Saat ini, banyak orang memandang ke cakrawala yang jauh, menciptakan citra yang tidak didasarkan pada fantasi tetapi berakar pada realitas masa kini dan masa depan,” katanya.
Hal itu menurutnya adalah kualitas yang hanya terlihat oleh mereka yang tekun dengan menyinggung pertumbuhan pesat dan ajaib bangsa Iran. “Dengan demikian, setiap pengamat dapat memahami pertumbuhan pesat dan ajaib, bangsa ini,” katanya.
Menyaksikan Mukjizat
Satu bagian yang paling disorot adalah seruan langsungnya kepada negara-negara tetangga Iran di wilayah Teluk (Selatan). Mojtaba mendesak mereka untuk membuka mata terhadap perubahan konstelasi kekuatan di kawasan.
“Kepada tetangga-tetangga kita di selatan, saya katakan: Kalian sedang menyaksikan sebuah mukjizat. Berdirilah di tempat yang tepat, dan waspadalah terhadap janji-janji palsu dari orang-orang jahat,” tegasnya.
Ia memberikan pilihan pragmatis: bergabung dalam persaudaraan regional atau terus dieksploitasi oleh kekuatan arogan Barat. “Kami masih menunggu tanggapan yang tepat dari kalian, agar kami dapat menunjukkan persaudaraan dan niat baik kami kepada kalian,” katanya.
Menurutnya tujuan tidak akan tercapai kecuali negara tetangga menjauhkan diri dari kekuatan-kekuatan arogan yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mempermalukan dan mengeksploitasi.
Pemimpin Tertinggi itu menekankan bahwa pengaruh Ayatollah Khamenei, bukannya berkurang karena kemartirannya, justru semakin kuat. Citra simbolis kepalan tangan Ayatollah Khamenei saat pembunuhannya kini telah menjadi lambang bagi rakyat Iran dan bagi banyak orang di seluruh dunia yang mendambakan keadilan dan kebenaran, tambahnya.
Kemartirannya, kata Pemimpin Tertinggi, hanya memperkuat resonansi seruannya untuk kebebasan dan perlawanan terhadap penindasan. “Semangatnya tetap hidup, membimbing rakyat Iran dan gerakan global untuk keadilan,” tambah Mojtaba dalam pesannya.










