Kesaksian Prajurit AS yang Selamat dari Serangan Drone Iran
Prajurit Amerika Serikat yang selamat dari serangan drone Iran pada 1 Maret akhirnya angkat bicara. Mereka memberikan kesaksian yang berbeda dengan narasi resmi Pentagon, yang menyatakan bahwa insiden tersebut disebabkan oleh sebuah drone “squirter” yang berhasil menembus sistem pertahanan.
Dalam wawancara dengan CBS News, para prajurit yang bertugas di Kuwait menggambarkan suasana kacau saat drone Iran menghantam pusat operasi taktis mereka. Serangan itu menewaskan enam anggota Cadangan Angkatan Darat AS dan melukai lebih dari 20 prajurit lainnya. Kesaksian mereka secara terbuka membantah narasi resmi Pentagon tentang apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa insiden tersebut disebabkan oleh sebuah drone “squirter” yang secara anomali berhasil menembus sistem pertahanan unit yang disebutnya telah diperkuat. Namun, versi ini ditolak mentah-mentah oleh para korban selamat. Salah satu prajurit yang terluka menyatakan, “Menggambarkan seolah-olah ‘satu drone lolos’ itu kebohongan. Unit kami sama sekali tidak siap mempertahankan diri. Itu bukan posisi yang diperkuat.”
Menurut pengakuan mereka, para prajurit ditempatkan di deretan bangunan kecil berbahan seng yang difungsikan sebagai kantor darurat menjelang dimulainya Operasi Epic Fury. Pada saat yang sama, unit-unit lain justru dipindahkan ke lokasi yang dinilai lebih aman di Yordania dan Arab Saudi. Para prajurit juga mempertanyakan keputusan komando yang tetap menempatkan mereka dalam jangkauan serangan rudal dan drone Iran. Salah seorang di antaranya mengaku telah melihat laporan intelijen yang mencantumkan pos tersebut sebagai target potensial.
“Kami justru dipindahkan lebih dekat ke Iran, ke wilayah yang jelas-jelas tidak aman dan sudah diketahui sebagai target,” katanya. “Tidak pernah ada alasan yang masuk akal dijelaskan kepada kami.”
Pernyataan resmi dari Washington kembali memicu kemarahan para penyintas. Dalam unggahan di platform X, Asisten Menteri Pertahanan Sean Parnell menegaskan bahwa “semua langkah pengamanan telah diambil” dan fasilitas tersebut dilindungi dinding setinggi enam kaki. Namun, realitas di lapangan disebut sangat berbeda. “Perlindungan kami cuma penghalang ledakan tipis yang berdiri tegak tanpa perlindungan dari atas,” ungkap seorang prajurit. “Kalau bicara bunker, itu selemah-lemahnya perlindungan.”
Saat drone Iran meledak tepat di tengah area kerja, situasi berubah menjadi neraka. “Itu benar-benar kekacauan,” ujar prajurit yang terluka. “Tidak ada antrean korban untuk ditangani. Kamu berada di satu sisi api atau di sisi lainnya.” Para korban menggambarkan pemandangan mengerikan pascaledakan, mulai dari luka kepala, pendarahan hebat, gendang telinga pecah, hingga serpihan logam yang menancap di perut, lengan, dan kaki.
Versi resmi Pentagon yang disampaikan dalam konferensi pers di Washington disebut sangat melukai perasaan para penyintas. “Saya tidak berniat merusak moral atau menjelekkan Angkatan Darat,” kata salah satu prajurit. “Tapi mengatakan kebenaran itu penting. Kita tidak akan pernah belajar dari kesalahan ini jika kita pura-pura kesalahan itu tidak pernah terjadi.”
Pengakuan Korban Selamat
- Seorang prajurit mengungkapkan bahwa mereka tidak pernah diberi informasi lengkap tentang ancaman yang bisa datang.
- Beberapa korban menyatakan bahwa mereka merasa dibiarkan sendirian dalam situasi bahaya.
- Ada laporan bahwa sistem pertahanan yang disebut “diperkuat” justru tidak efektif dalam menghadapi ancaman drone.
- Para korban mengharapkan transparansi dan penjelasan yang jelas dari pihak militer.
Tantangan di Lapangan
- Prajurit yang selamat menggambarkan situasi di lapangan sebagai sangat kacau dan tidak terkendali.
- Mereka mengkritik keputusan komando yang memindahkan unit ke lokasi yang dinilai tidak aman.
- Banyak dari mereka merasa tidak siap menghadapi serangan drone karena kurangnya persiapan dan pelatihan.
- Ada kekhawatiran bahwa kebijakan pertahanan yang diambil oleh Pentagon tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Harapan dan Kritik
- Para korban menuntut agar pihak militer melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pertahanan.
- Mereka berharap agar kebenaran dapat diungkap dan kesalahan yang terjadi tidak lagi diabaikan.
- Ada permintaan agar pihak militer lebih transparan dalam memberikan informasi kepada para prajurit.
- Para penyintas ingin agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk mencegah terulangnya serangan serupa di masa depan.









