"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Iran Mengklaim Kemenangan Perang, Tapi Kekhawatiran Warga Meningkat

Kekhawatiran Rakyat Iran terhadap Represi yang Meningkat

Di tengah gencatan senjata yang masih goyah, rakyat Iran mengalami kekhawatiran besar terhadap kemungkinan penguatan represi oleh rezim terhadap oposisi di dalam negeri. Meskipun serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran telah berhenti sementara, rasa takut belum sepenuhnya hilang dari masyarakat.

Setelah lebih dari sebulan perang, Iran dan AS sepakat pada gencatan senjata bersyarat selama dua pekan yang dimediasi Pakistan. Negosiator kedua negara dijadwalkan bertemu di Islamabad akhir pekan ini untuk membahas kemungkinan kesepakatan permanen. Namun, bagi banyak warga, gencatan senjata hanya membawa kelegaan sementara, bukan rasa damai.

Gencatan Senjata Tidak Menyelesaikan Masalah

Pernyataan resmi pemerintah Iran menyebut gencatan senjata sebagai kemenangan politik. Pemerintah mengklaim bahwa Iran berhasil menahan tekanan militer dan memaksa lawan mundur. Narasi resmi juga menekankan bahwa “kemenangan di medan perang” telah diselesaikan lewat jalur politik. Namun, pandangan itu tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.

Perang memang berhenti sejenak, tetapi sistem politik Iran tetap bertahan. Hal ini justru memicu kekhawatiran bahwa pemerintah petahana yang sempat terpukul oleh perang, akan memperketat represi di dalam negeri. Situasi gencatan senjata yang masih rapuh juga membuat banyak orang cemas konflik bisa kembali pecah kapan saja. Iran disebut mendekati perundingan dengan sangat hati-hati, sementara pejabat AS menegaskan siap melanjutkan perang jika diplomasi gagal.

Rasa Tak Aman Masih Menghantui

Seorang warga Iran yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada DW bahwa gencatan senjata belum meredakan ketakutan yang kini dirasakan banyak orang. “Sekarang ada gencatan senjata dan rezim tidak berubah. Ada kekhawatiran pemerintah akan semakin keras terhadap masyarakat dan situasi akan makin menderita,” ujarnya.

Kekhawatiran itu kini banyak dibicarakan di dalam negeri. Warga bertanya-tanya kelanjutan masa depannya. Warga lain turut mengatakan kepada DW, sebelumnya banyak orang berharap perang akan cepat berujung pada perubahan politik, terutama jika pemimpin senior dan komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) tewas. Namun, harapan itu tidak terwujud. “Kami kira semuanya akan selesai,” katanya. “Sekarang perang memang berhenti sementara, tetapi tidak ada yang benar-benar terselesaikan.”

Narasi Kemenangan Tidak Dirasakan Warga

Media pemerintah dan pejabat Iran mencoba membingkai gencatan senjata sebagai kemenangan, seolah negara berhasil mengubah kelangsungan hidup militernya menjadi keberhasilan politik. Namun bagi banyak warga, narasi itu terasa jauh dari kenyataan.

Pemerintah memang masih bertahan, tetapi dampak perang sulit disembunyikan. Konflik ini menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, serta merusak infrastruktur vital, dan menunjukkan betapa dekatnya Iran dengan krisis yang lebih besar. Sistem politik tetap bertahan, tetapi bertahan dengan biaya sebesar itu tidak otomatis terasa sebagai kemenangan bagi masyarakat.

Pandangan Publik yang Tidak Sederhana

Kondisi ini membentuk suasana publik yang dipenuhi kelelahan, ketidakpastian, dan kecemasan. Pandangan publik di Iran tidak sesederhana yang sering digambarkan propaganda. Banyak warga menyalahkan pemerintah atas kondisi yang membawa negara ke titik ini. Namun di saat yang sama, mereka juga menilai Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut mendorong perang yang berisiko menimbulkan kehancuran lebih besar.

Warga menolak represi negara, tetapi juga menolak eskalasi militer. Sejumlah warga yang berbicara kepada DW mengatakan mereka menentang perang, tetapi bukan dalam kerangka yang diinginkan pemerintah. Mereka tidak ingin pemboman dan penderitaan berlanjut, tapi tetap mengkritik sistem politik yang ada.

Ancaman Trump Picu Kekecewaan

Menjelang gencatan senjata, ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik di Iran memicu kekhawatiran besar di kalangan warga. Seorang sumber di Iran mengatakan kepada DW bahwa setelah peringatan tersebut, harga generator listrik rumah tangga melonjak karena warga berbondong-bondong membelinya.

Menurutnya, yang paling menakutkan bukan hanya kemungkinan serangan lanjutan, tetapi juga perasaan bahwa infrastruktur sipil dasar kini menjadi alat tawar dalam konflik yang tidak bisa mereka kendalikan. Rasa tidak aman ini semakin diperparah oleh pemadaman internet yang berkepanjangan, membuat banyak warga terputus dari informasi global dan hanya bergantung pada jaringan domestik yang terbatas.

Perang Tekan Kondisi Ekonomi Warga

Perang juga memperdalam krisis ekonomi yang sudah berat. Seorang warga Iran mengatakan keluarganya terpaksa menjual tabungan dan emas demi bertahan hidup. Penghasilannya sebelumnya bergantung pada bisnis melalui Instagram, tapi gangguan internet membuat sumber pendapatan itu hilang.

Warga lain menggambarkan tekanan ekonomi yang semakin parah, hingga pilihan untuk sementara tinggal bersama kerabat pun tidak lagi memungkinkan, karena kondisi mereka sama-sama sulit. Bagi banyak keluarga, perang berarti pendapatan menurun, harga meningkat, dan kehidupan sehari-hari terganggu. Gencatan senjata dua pekan pun tidak dilihat sebagai kemenangan, melainkan hanya jeda singkat dari tekanan hidup.

Tekanan Jurnalis Semakin Berat

Perang juga membuat situasi semakin sulit bagi jurnalis, terutama warga Iran di luar negeri yang ingin menentang perang tanpa dianggap mengikuti narasi pemerintah. Jurnalis senior Behrouz Tourani mengatakan kepada DW bahwa kesamaan sikap dengan pemerintah dalam beberapa hal bukan masalah utama. Menurutnya, yang lebih penting adalah menjaga independensi dan tidak ikut menyerap narasi tersebut.

Untuk menghindari jebakan, ia menyarankan jurnalis fokus pada dampak kemanusiaan, politik, dan sosial dari konflik. Meski gencatan senjata menghentikan eskalasi militer untuk sementara, krisis yang lebih dalam belum terselesaikan. Belum jelas bagaimana Amerika Serikat, Israel, dan Iran akan menangani isu penting seperti sanksi, pemulihan, dan represi politik. Ketidakpastian itu membuat situasi di Iran masih terasa rapuh.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *