Pemerintah Tidak Akan Naikkan Harga BBM Bersubsidi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah belum akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, meskipun terjadi lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, pemerintah masih memantau perkembangan konflik tersebut dan dampaknya terhadap harga minyak mentah dunia sebelum mengambil kebijakan lebih lanjut.
“Belum (menaikkan harga BBM subsidi). Kan asumsi makro APBN kita kemarin di 70 dolar AS per barel (ICP). Jadi kita tunggu saja,” ujar Airlangga saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah sedang menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi kemungkinan dampak jangka panjang dari konflik tersebut. “Sampai kapan, ya perang bisa tiga bulan, bisa enam bulan, bisa lebih. Jadi kita masing-masing (menyiapkan) ada skenario,” tambahnya.
Penjelasan Menteri ESDM tentang Harga BBM
Senada dengan Airlangga, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa harga BBM subsidi jenis Pertalite tidak akan naik, meskipun harga minyak dunia melonjak akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
“Kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau (harga minyak dunia) naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM, yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
Namun, untuk bahan bakar minyak nonsubsidi seperti Pertamax, harga akan mengalami penyesuaian sesuai fluktuasi harga minyak mentah dunia. Bahlil menyebutkan bahwa harga minyak sudah naik menjadi 78-80 dolar AS per barel, melebihi asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni 70 dolar AS per barel.

Kapal milik Pertamina mengangkut BBM – (Pertamina)
Dampak Kenaikan Harga Minyak terhadap APBN
Sebagai negara yang mengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari, kenaikan harga minyak dunia memberatkan APBN dengan potensi pembengkakan subsidi energi yang ditanggung oleh negara. Namun, di sisi lain, Indonesia juga mendapatkan tambahan pendapatan dari kenaikan harga minyak dunia tersebut dari produksinya.
“Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung,” ujar Bahlil.
Perhitungan tersebut, menurut Bahlil, akan dilakukan dengan hati-hati karena terkait dengan subsidi energi di dalam negeri. Hingga saat ini, setelah rapat Dewan Energi Nasional, pemerintah belum berencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.
“Sampai dengan kami rapat tadi, belum ada (kenaikan harga BBM subsidi), jadi aman-aman saja. Hari raya yang baik, puasa yang baik, insya Allah belum ada kenaikan harga BBM,” ucap Bahlil.
Prediksi Harga Minyak Dunia yang Melonjak
Pakar energi dari Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti memprediksi harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga 100 dolar AS per barel dari kisaran sekitar 72 dolar AS per barel jika terjadi penutupan Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, berada di antara Oman dan Iran, serta menjadi rute utama perdagangan energi global.
Melalui selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebelum dikirim ke pasar internasional. Dengan posisi tersebut, Yayan menilai Selat Hormuz menjadi titik yang krusial dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak akan naik menjadi 50 persen,” ucapnya.
Ia menambahkan lonjakan harga BBM berpotensi berdampak pada Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak dari kawasan Timur Tengah. Bahkan tanpa penutupan Selat Hormuz sekalipun, konflik yang berlangsung saat ini dapat mendorong kenaikan harga minyak sekitar 10 hingga 25 persen.
Dengan potensi harga minyak yang melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 70 dolar AS per barel, Yayan mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi kemungkinan pembengkakan anggaran.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











