Fakta Baru Terungkap dalam Kasus Pembunuhan di Samarinda
Pada 5 Januari 2026, sebuah kasus penikaman terjadi di Jalan Otto Iskandardinata (Gunung Manggah), Kota Samarinda, Kalimantan Timur, yang menewaskan korban bernama Wilson Pauang. Kejadian ini kembali menjadi perhatian setelah Polresta Samarinda melakukan rekonstruksi perkara pembunuhan tersebut di halaman Mapolresta Samarinda pada hari Kamis (9/4/2026) sore.
Dalam rekonstruksi tersebut, sebanyak 47 adegan krusial diperagakan. Meski berjalan sesuai Berita Acara Pemeriksaan (BAP), muncul fakta-fakta baru yang memicu perdebatan sengit antara pihak tersangka, keluarga korban, dan para saksi.
Ana Maria, kuasa hukum dari tersangka Vincensius alias Venom, mengungkapkan bahwa kliennya tidak mengenal korban sama sekali. Hubungan yang ada hanya antara tersangka dengan Saksi 1 (Solihin) dan Saksi 2 (istri Solehin). Tersangka bekerja sebagai sopir truk selama 10 bulan terakhir.
“Klien kami bertindak spontan karena diajak oleh saksi 1 untuk ‘mencari’ seseorang. Saat itu tersangka sedang dalam waktu bekerja. Penting digarisbawahi, saksi satu tahu sejak awal bahwa tersangka membawa senjata tajam (badik) karena memang biasa dibawa sopir untuk perlindungan diri,” jelas Ana Maria.
Pihaknya kini mendorong kepolisian untuk mendalami keterlibatan Saksi 1 dan Saksi 2. “Kami berharap kasus ini dibuka terang benderang. Jika memang ada unsur perencanaan, peran saksi satu dan dua harus digali lebih dalam. Siapa yang mengajak dan siapa yang memerintahkan?” tambahnya.
Istri Korban Minta Polisi Tetapkan Tersangka Baru
Suasana rekonstruksi sempat memanas saat Suryanti (38), istri korban Wilson Pauang nyaris melemparkan botol ke arah tersangka. Ia membantah keras tuduhan yang muncul dalam rekonstruksi bahwa suaminya terlibat jambret atau masalah asmara.
“Suami saya pekerja baik-baik, dia baru pulang kerja saat kejadian. Tuduhan jambret itu tidak masuk akal. Saya minta keadilan, saya punya tiga anak yang masih kecil, bahkan yang bungsu baru berusia dua bulan,” ucap Suryanti sambil menangis.
Hal sama juga disampaikan Titus Tibayan Pakalla SH selaku kuasa hukum keluarga korban. Ia pun mendesak polisi menetapkan tersangka baru. Menurutnya, korban lebih dulu dipukul oleh saksi Solihin sebelum akhirnya ditikam oleh Vincensius.
Pihak keluarga korban mencurigai adanya upaya penghilangan barang bukti berupa pisau asli yang digunakan saat kejadian. Rekonstruksi yang awalnya direncanakan 41 adegan bertambah menjadi 47 adegan karena adanya tambahan detail di lapangan.
Meski sempat terjadi bantahan antar saksi terkait aksi tepisan tangan, situasi berhasil dikendalikan oleh pihak kepolisian dan Inafis. Ana Maria menegaskan bahwa adegan pemukulan sebelum penusukan sudah sesuai dengan fakta BAP.
“Apapun bantahannya, fakta di lapangan menunjukkan memang ada pemukulan sebelum penusukan. Kami mendampingi tersangka secara pro agar keadilan tegak selurus-lurusnya bagi semua pihak,” tegasnya.
Awal Mula Kejadian
Peristiwa pembunuhan di Gunung Manggah, Samarinda terjadi pada Senin (5/1/2026) sekitar pukul 14.16 Wita. Tragisnya, peristiwa itu berlangsung di badan jalan yang ramai dilalui kendaraan.
Sejumlah saksi menyebut, sebelum penikaman terjadi, korban sempat terlibat cekcok dengan beberapa orang di lokasi kejadian. Menurut keterangan saksi di lapangan, peristiwa bermula dari keributan yang berujung pada penusukan.
Andra (31), seorang pedagang di sekitar lokasi mengaku sempat mendengar teriakan histeris dari seorang wanita sebelum menemukan korban terkapar bersimbah darah.
“Awalnya korban bertengkar di jalan. Tidak lama datang dua orang berboncengan. Salah satunya memukul korban, lalu yang satu lagi langsung menikam pakai pisau,” ujar Yosi, warga yang melintas di lokasi, Senin.
Korban mengalami luka tusuk serius di bagian tengah perut. Warga dan pengendara yang berada di lokasi sebenarnya sempat berusaha memberikan pertolongan. Namun, upaya tersebut sempat terhenti karena para pelaku justru kembali mengejar warga yang mencoba melerai.
Ketua RT 27 Kelurahan Sungai Dama, Daeng, mengatakan korban sempat menunjukkan tanda-tanda kehidupan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian. Saat warga mencoba mengevakuasi ke rumah sakit, nyawa korban sudah tidak tertolong.
“Kondisinya sudah koma, tidak sadar. Napas masih ada sedikit, tapi tidak lama kemudian sudah berhenti,” kata Daeng seperti dikutip dari kompas.com. (*)
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











