Pengalaman Pahit dan Harapan dari Para Pionir Transmigrasi
Salah satu penyintas kecelakaan tragis rombongan calon transmigran pada tahun 1974, Suyamto, masih ingat betul masa kecilnya ketika ayahnya memutuskan untuk ikut dalam program transmigrasi. Saat itu, ia masih duduk di kelas II Sekolah Dasar (SD) ketika keluarganya bersama puluhan calon transmigran lain berangkat dari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menuju Lampung dan Lubuk Linggau.
Ayahnya menjelaskan kepada keluarga bahwa transmigrasi adalah cara yang bisa mengubah hidup mereka menjadi lebih baik. Pada hari yang ditentukan, sebanyak 70 orang yang terdiri dari kepala keluarga, istri, dan anak diberangkatkan menuju kawasan transmigrasi di Lampung dan Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.
Dalam perjalanan, tidak ada firasat buruk dari para calon transmigran dan keluarganya. Yang ada dalam benak mereka hanyalah segera tiba di kawasan transmigrasi dan menempati rumah serta lahan seluas 2 hektar yang disediakan pemerintah. Namun, tak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi. Ketika bus yang membawa 70 orang itu melaju di Desa Sukra, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tepat di jembatan yang menghubungkan Indramayu dan Kabupaten Subang, bus tersebut bertabrakan dengan bus dari arah berlawanan.
“Braaak…,” suara benturan keras itu memecah keheningan. Benturan dua bus tersebut tidak hanya membuat badan bus ringsek, tetapi juga memicu kobaran api. Kobaran api itulah yang merenggut nyawa bapak, ibu, saudara, dan calon transmigran lainnya.
Dari 70 penumpang, hanya tiga bocah yang selamat; dua di antaranya adalah Suyamto dan Jaelani. Sebanyak 67 korban yang meninggal dimakamkan di lahan tidak jauh dari jembatan tersebut, yang kini dikenal sebagai Makam Pionir Transmigrasi.
Peristiwa yang terjadi pada 11 Maret 1974 itu membawa duka bagi semua, terutama Kementerian Transmigrasi (Kementrans).
Peringatan HBT di Makam Pionir Transmigrasi
Untuk mengenang tragedi yang tidak diharapkan itu, setiap tahun Kementrans memperingati Hari Bhakti Transmigrasi (HBT) yang jatuh pada 12 Desember dengan menggelar tabur bunga dan doa bersama dalam satu rangkaian upacara.
Saat menjadi Inspektur Upacara ke-75 HBT yang dipusatkan di Makam Pionir Transmigrasi, Desa Sukra, Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengajak semua pihak mendoakan arwah para calon transmigran dan keluarganya yang tertimpa musibah agar mendapat tempat mulia di sisi Allah SWT. Ia juga berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan.
Menurut Viva Yoga, para pionir transmigrasi yang mengalami kecelakaan tersebut pergi dengan niat mulia. Mereka ingin mengubah hidup menjadi lebih sejahtera. Dengan lahan yang diberikan pemerintah, para transmigran bekerja keras mengolah tanah. Perjuangan mereka tidak mudah: tinggal di tempat sepi, jauh dari perkampungan masyarakat, dan menghadapi kondisi alam yang belum dikuasai.
Mereka juga memiliki mental yang kuat karena harus meninggalkan kampung halaman tempat mereka lahir dan dibesarkan. “Tak mudah orang meninggalkan asal-usulnya. Namun hidup itu pilihan, dan mereka memilih ikut transmigrasi,” tutur Viva.
Peran Transmigran dalam Pembangunan Bangsa
Dengan ketelatenan, kesabaran, dan keuletan, para transmigran mampu mengubah lahan-lahan kosong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan peradaban baru. Peran transmigran pada masa Orde Baru disebut sebagai pahlawan pembangunan. Kini, mereka disebut patriot bangsa karena kehadiran transmigran di kawasan terdepan dan terluar wilayah Indonesia sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Mereka juga melakukan akulturasi budaya dan perkawinan sehingga menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa. Sejak transmigrasi dilaksanakan secara resmi oleh Presiden Sukarno pada 1950, generasi demi generasi tumbuh di kawasan transmigrasi.
Generasi kedua, ketiga, bahkan keempat kini hidup semakin mapan dan sejahtera. Mereka mengisi berbagai sendi kehidupan, mulai dari kepala daerah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), kepala desa, hingga akademisi di tingkat kabupaten maupun provinsi. Di pusat juga ada yang menjadi anggota DPR dan jabatan lainnya.
Di Makam Pionir Transmigrasi, Viva Yoga tidak hanya melakukan tabur bunga di pusara para korban, tetapi juga memberikan santunan kepada dua penyintas, yaitu Suyamto dan Jaelani. Santunan juga diberikan kepada Suyanto, yang bertugas menjaga makam tersebut.
Kementrans Tanggap Bencana
Saat ditemui wartawan, Viva Yoga mengatakan Kementrans telah mengirim bantuan ke wilayah terdampak bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. “Bapak Menteri Transmigrasi sudah ke lokasi bencana dan memberikan berbagai bantuan yang dibutuhkan,” ujarnya.
Fokus bantuan diberikan kepada kabupaten yang memiliki kawasan transmigrasi, seperti Kabupaten Bireuen dan Bener Meriah. “Kawasan transmigrasi yang terdampak bencana akan terus kami pantau dan tetap diberikan bantuan,” kata Viva. Kementrans, lanjut dia, terus berkoordinasi dan bersinergi dengan kementerian serta lembaga terkait agar penanganan bencana dan dampaknya dapat segera diatasi.











