Hujan masih berada di Pidie. Ia turun perlahan, nyaris sopan, namun meninggalkan genangan air yang menempel di telapak kaki dan dalam ingatan.
Tanah itu seperti spons tua: menyerap air, menyerap luka, serta teriakan yang tidak sempat terucap. Di bawah tenda darurat yang kainnya mulai memudar dan bau lembap, orang-orang duduk sambil menghadap ke depan, menunggu hujan reda atau menunggu waktu berlalu tanpa benar-benar tahu apa yang mereka tunggu.
Awan menggantung rendah, tebal, seolah enggan memberikan jarak antara langit dan bumi. Trauma menempel seperti lumut di dinding ingatan. Ada yang masih terisolasi, ada yang sudah dievakuasi, tapi sama-sama terperangkap: oleh kehilangan, ketidakpastian, dan sunyi yang terlalu panjang.
Di sini, hujan bisa menjadi berkah. Tapi kali ini juga membawa kepanikan yang belum selesai. Tak ada kembang api di Pidie. Tidak ada dentum mesiu yang memecah langit, tidak ada hitung mundur yang disambut sorak. Yang ada hanya suara hujan, sesekali diselingi tangis anak kecil atau derit bambu penyangga tenda yang goyah.
Tahun hampir berganti, tapi di Pidie, waktu seperti berhenti di satu titik yang basah dan dingin. Berbeda dengan langit Bogor atau Jakarta. Meski sudah dilarang, kembang api tetap mekar, berwarna-warni, membelah gelap. Ledakan kecil itu disambut tawa, ponsel diangkat, video direkam. Langit di sana tidak memikul awan cemas, tidak mengandung duka yang berat. Ia hanya menjadi kanvas bagi kegembiraan sesaat.
Di Pidie, harga kembang api bisa disetarakan dengan beras atau obat-obatan. Sesuatu yang tak terjangkau, bahkan tak terpikirkan. Yang lebih mahal lagi adalah empati. Ia langka, seperti barang impor yang terhambat distribusi. Kita ini bangsa yang mudah kebal rasa. Bahkan untuk sekadar diam, merenung, memberi ruang bagi duka orang lain, sering terasa terlalu sulit.
Tahun 2025, yang tinggal menghitung menit sebelum pergi, seolah beranjak tanpa pamit. Ia meninggalkan rumah-rumah yang rata dengan tanah, anak-anak yang kehilangan orang tua, ibu-ibu yang menunggu kabar yang tak kunjung datang. Tahun itu tak sempat atau tak mau meninggalkan sisa empati.
Di Langsa, Cut Amina mengirim kabar. Suaranya di telepon terdengar tipis, seperti terpotong hujan. Beberapa desa masih terisolasi, katanya. Bantuan ada, tapi sulit masuk. Jalan putus, jembatan roboh.
Amina adalah putri bungsu. Ayahnya terseret banjir saat mencoba menyelamatkan barang-barang yang tersisa. Kini ia menunggu, bersama ibunya, di rumah yang separuh dindingnya runtuh. Cut Amina hanya satu potret, satu retakan batin di antara banyak keheningan desa-desa kecil yang terkurung air.
Mungkin di Jakarta sana, band-band berdendang. Dangdut koplo menggila di lorong-lorong kampung. Goyangan, lampu warna-warni, teriakan riang. Kegembiraan yang tak bisa dihirup Datuk Dahlan di Gayo Lues.
Lelaki tua itu berdiri di atas tanah yang dulu ia sebut rumah. Satu-satu gubuk miliknya rata ketika banjir bah datang. Kini yang tersisa hanya tiang patah dan pakaian basah yang dijemur seadanya. Ia tak menyalahkan hujan. Ia hanya diam, menatap kosong, seolah mencoba mengingat di mana ia harus memulai lagi.
Di Bogor, pukul 11.35 WIB, langit retak oleh pekikan mesiu. Dentum kembang api berlapis-lapis, gaduh, meriah. Suara itu membungkam empati. Ia menenggelamkan kemungkinan untuk sejenak berhenti dan bertanya: apa kabar mereka yang tak punya apa-apa untuk dirayakan?
Di Aceh Singkil, Rahman, bocah kecil itu, duduk di depan tenda yang lembap. Tanah di bawahnya dingin. Bajunya kebesaran, mungkin sumbangan. Tatapannya kosong, seperti langit setelah hujan. Ia kehilangan ayah dan ibunya, diterjang banjir. Tak ada yang bisa ia hitung mundur. Tak ada tahun baru yang ia tunggu. Yang ada hanya pagi berikutnya, yang datang tanpa janji.
Rekah kembang api bukan hanya menyambut 2026. Ia juga menandai bagaimana 2025 pergi: dengan gemerlap di satu tempat, dan gelap di tempat lain. Ia pergi tanpa menyisakan cukup empati bagi Cut Amina di Pidie, bagi Rahman di Singkil, bagi Datuk Dahlan di Gayo Lues.
Di Pidie, hujan masih turun. Dan mungkin, di sanalah kita seharusnya belajar: bahwa tidak semua pergantian tahun perlu dirayakan dengan ledakan. Ada saatnya langit dibiarkan gelap, agar kita bisa melihat dengan lebih jujur apa yang terjadi di bumi.











