Perjalanan yang Penuh Ujian dan Keteguhan
Di dalam mobil, suasana hening. Hanya suara hujan, dan tangan Wiwin Aulia yang menggenggam setir dengan hati-hati. Mereka berada di tengah perjalanan yang penuh tantangan.
Dengan naluri bertahan hidup, mereka memutar arah menuju sebuah masjid yang belum selesai dibangun, tempat yang sedikit lebih tinggi dari jalan. Namun, di Jembatan Meureudu, air bah kembali menghadang. Mereka terpaksa berhenti di atas jembatan bersama kendaraan lain.
Malam meringkuk perlahan. Air terus naik. Ketakutan merayap tanpa suara.
Iskandar Abubakar Aman Elsyi (sekitar 64 tahun) atau yang akrab disapa Cik Is bersama istrinya Bik Jasmayati Inen Elsyi, berangkat dari Takengon menuju Banda Aceh pada Senin (24/11/2025). Bersama mereka ikut pula Wiwin Aulia, Mutia, Wandi, serta dua anak kecil Ova dan Sanum.
Mereka menempuh perjalanan dengan mobil pribadi Toyota Avanza. Tujuan utama perjalanan ini sederhana yaitu berobat. Cik Is, seorang petani kopi Gayo yang sehari-hari mengolah kebun di Atu Lintang, harus menjalani kontrol kesehatan rutin.
Jarak Takengon–Banda Aceh sekitar 380 kilometer, yang biasanya dapat ditempuh sekitar enam jam. Setelah urusan pengobatan selesai, mereka memutuskan tinggal satu hari tambahan di Banda Aceh. Mereka ingin melihat Museum Tsunami dan beberapa lokasi wisata, sekadar menghadirkan wisata kecil di tengah hidup yang penuh kerja keras.
Namun, perjalanan pulang pada Rabu, 26 November 2025, berubah menjadi ujian hidup yang tak pernah mereka bayangkan. Hujan turun deras, angin kencang mengiringi mobil yang mereka tumpangi. Mereka memilih jalur biasa, menghindari jalan tol karena cuaca yang mengkhawatirkan.
Ketika kendaraan memasuki kawasan Padang Tiji, setelah turunan Kakib Seulawah, jalanan mulai tergenang. Di dalam mobil, suasana hening. Hanya suara hujan, dan tangan Wiwin Aulia yang menggenggam setir dengan hati-hati. Petir menyambar bersahutan saat mereka tiba di Lueng Putu, Pidie Jaya.
Menuju Meureudu, mereka mendapati jembatan putus. Air meluap di mana-mana. Dengan naluri bertahan hidup, mereka memutar arah menuju sebuah masjid yang belum selesai dibangun, tempat yang sedikit lebih tinggi dari jalan. Di sanalah mereka berhenti, memarkir kendaraan, dan menunggu air surut.
Di tengah derasnya hujan, Wiwin Aulia berjalan menembus genangan air menuju Trienggadeng hanya untuk mencari nasi bungkus. Makanan sederhana itu menjadi anugerah. Mereka makan dengan lahap, bukan karena mewahnya hidangan, melainkan karena rasa syukur masih bisa bertahan.
Saat air tampak mulai surut, mereka melanjutkan perjalanan. Warga menyarankan menggunakan jalan kampung karena jalur utama tak lagi bisa dilewati. Mereka pun memutar, memilih jalur memutar demi keselamatan.
Kebiasaan Baru di Tengah Bencana
Namun, di Jembatan Meureudu, air bah kembali menghadang. Mereka terpaksa berhenti di atas jembatan bersama kendaraan lain. Malam meringkuk perlahan. Air terus naik. Ketakutan merayap tanpa suara. Mereka bermalam di dalam mobil, menyandarkan tubuh di jok, berharap subuh membawa keajaiban.
Tengah malam, air semakin tinggi. Banjir bandang datang tanpa ampun. Mereka terjebak di atas jembatan, bersama puluhan orang lain yang sama-sama pasrah pada takdir. Kamis, 27 November 2025, air masih tinggi hingga sore hari. Sekitar pukul 17.00 WIB, air tiba-tiba surut. Laut di kejauhan pun tampak surut. Dengan perlahan, mereka kembali bergerak menuju Kota Meureudu.
Namun, belum jauh melaju, air kembali naik dari arah gunung. Di simpang dekat rumah dinas Wakil Bupati Pidie Jaya, beberapa mobil mulai terendam. Iring-iringan kendaraan yang tadi ramai, satu demi satu menghilang dari pandangan. Di titik itulah mereka benar-benar pasrah. Mereka tak lagi melawan, hanya berdoa.
Dengan merayap, mobil mereka akhirnya berhasil mencapai ujung sebuah kampung. Sawah-sawah telah berubah menjadi lautan air. Malam itu mereka tiba di Simpang Ulim. Niat awal menuju halaman masjid batal karena sudah penuh kendaraan. Mereka akhirnya parkir di sebuah meunasah yang terletak lebih tinggi. Di situlah mereka bermalam.
Dengan air mineral, mereka berwudhu. Perempuan menginap di dalam meunasah, laki-laki berbaring di emperan. Lelah, lapar, takut menyatu dalam diam.
Menyambung Perjalanan
Jumat, 28 November 2025, selepas subuh, mereka melanjutkan perjalanan. Di Ulee Gle mereka menemukan sarapan di warung kecil sebuah kemewahan di tengah bencana. Di sana pula mereka berhasil mengisi penuh tangki bensin.
Memasuki Batee Iliek, hujan belum berhenti. Kampung-kampung di sisi jalan hancur. Jembatan kecil terputus. Rumah-rumah remuk. Jalan terkelupas. Tiba di Bireuen, mereka memutuskan belok menuju Takengon, namun di Juli mereka harus berhenti. Jembatan Teupin Mane penghubung Bireuen dan Takengon putus total. Tak ada pilihan. Mereka kembali ke Bireuen dan menumpang di rumah keluarga.
Rumah Bik War, yang kini dihuni oleh anaknya, Fahmi (Mimi), dan keluarga. Bik War sendiri sudah lama berada di Takengon. Hari-hari berikutnya mereka menunggu kabar di Posko Masjid Agung Bireuen. Informasi yang datang selalu sama: jalan putus, jembatan tumbang, longsor di mana-mana.
Di Posko ini berkumpul banyak warga yang mau pulang ke Takengon. Kerinduan pada Rumah Semakin Kuat. Wiwin Aulia akhirnya memutuskan pulang lebih dulu ke Takengon dengan berjalan kaki bersama rombongan lain. Ia khawatir pada istri dan bayinya yang ditinggal di rumah. Sementara itu, Cik Is dan rombongan lain bertahan di Bireuen.
Baru pada Sabtu, 6 Desember 2025, mereka berani mencoba pulang. Perjalanan mereka berubah seperti perjalanan zaman lampau. Dari halaman Masjid Agung Bireuen, mereka naik dump truck menuju Teupin Mane. Karena jembatan putus, mereka menyeberang Sungai Teupin Mane menggunakan tongkang warga.
Sungai yang berhulu di Danau Lut Tawar itu tampak lebar dan berarus deras. Sopir Dumptruk tidak bersedia diberi ongkos. Cik Is terharu. Sambutan warga sungguh sangat baik dan ramah. Di seberang, mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil bak terbuka ongkos seratus ribu rupiah per orang hingga Timang Gajah I.
Berkali-kali mereka harus turun dan berjalan kaki: jalan licin, jurang di kanan, tebing curam di kiri. Dari Alur Gading menuju Rime Raya dan Tenge Besi, jembatan telah hancur. Langkah demi langkah terasa seperti pertaruhan nyawa. Akhirnya, di bekas kantor pertanian, mereka mendapat kendaraan lain.
Setelah tawar-menawar, mereka diantar ke Takengon dengan ongkos delapan puluh ribu rupiah per orang. Salah satu lokasi yang hancur adalah kawasan Wihni Kulus, Tenge Besi. Mereka tidak melintasi Emang Emang karena jembatan rontok. Jalan longsor. Kendaraan memilih jalur lain untuk kesekamatan.
Dengan susah payah penuh perjuangan, mereka melewati Pante Raya, belok ke arah Bandara Rembele. Lalu memutar melewati kawasan perkantoran Pemkab Bener Meriah, menghindari Desa Jamur Ujung yang telah hancur. Sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB, bertepatan dengan waktu Ashar, Cik Is dan keluarganya akhirnya tiba di Takengon dengan selamat.
Mobil Toyota Avanza mereka terpaksa ditinggal di rumah keluarga Bik War di Bireuen. Perjalanan sejauh 101 kilometer yang biasanya ditempuh 3 jam, berubah menjadi 8 jam penuh perjuangan. “Alhamdulillah, kami tiba di rumah,” kata Cik Is pelan. “Tapi listrik padam… sinyal hilang… kami seperti terkurung.” Namun mereka sadar satu hal: mereka masih hidup. Dan itulah nikmat terbesar.











