Banjir di Kabupaten Langkat Masih Mengancam Kehidupan Masyarakat
Banjir yang terjadi di beberapa titik di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, hingga hari ke-13 belum juga sepenuhnya surut. Hal ini berarti masyarakat sudah menghadapi kondisi sulit selama dua minggu. Kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan mulai menipis, sehingga banyak warga mengalami gangguan kesehatan seperti gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya.
Di Desa Suka Maju, Kecamatan Tanjung Pura, ketinggian air masih mencapai sedengkul orang dewasa. Andi, salah satu warga setempat, menyampaikan bahwa air sudah mulai surut, tetapi sebelumnya tingginya mencapai sedada. Ia mengatakan bahwa bantuan sembako telah diterima oleh masyarakat, namun distribusinya tidak merata dan stoknya mulai habis.
Selain itu, masyarakat sangat membutuhkan obat-obatan karena banyak dari mereka mengalami sakit-sakitan. Namun, posko kesehatan tidak tersedia di lokasi tersebut. Bahkan, jika ada, posko tersebut berada di Kota Tanjung Pura, sementara akses jalan masih terganggu oleh genangan air yang tinggi.
Bantuan Tidak Merata dan Akses Terbatas
Tidak hanya di Desa Suka Maju, informasi yang dikumpulkan oleh wartawan menunjukkan bahwa posko di Kecamatan Besitang juga mengalami situasi serupa. Riki, seorang warga setempat, mengatakan bahwa hingga saat ini, pihak pemerintah kabupaten belum datang meninjau lokasi banjir. Banyak rumah warga roboh akibat dampak banjir yang parah.
Pernyataan dari pihak pemerintah kabupaten menyatakan bahwa semua desa telah terjangkau, tetapi fakta di lapangan tidak sesuai dengan pernyataan tersebut. Warga merasa tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari pihak berwenang.
Kritikan terhadap Penanganan Bencana
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Langkat dinilai lambat dalam menangani bencana banjir yang melanda 16 kecamatan dengan korban jiwa sebanyak 11 orang. Lingkar Wajah Kemanusiaan (Lawan) Institute Sumatera Utara meminta agar Kepala BPBD Langkat dicopot dari jabatannya.
Koordinator Lawan Institute Sumut, Abdul Rahim Daulay, menilai bahwa Kepala BPBD gagal dalam menghadapi bencana banjir pada akhir tahun 2025 ini. Ia menyoroti bahwa banyak korban banjir yang meminta pertolongan tetapi akhirnya meninggal dunia. Selain itu, hotline BPBD Langkat tidak aktif saat musibah terjadi.
“Setelah viral, hotline baru dibuka pada 28 November 2025. Tapi tidak ada keterangan kepada media, biasanya Pemkab Langkat cepat menyampaikan informasi ke rekan-rekan media,” ujar Rahim.
Kritikan terhadap Kepala Daerah
Rahim juga menyampaikan kritikan terhadap Bupati Langkat, yang dinilai lambat dalam penanganan bencana banjir. Ia menyarankan agar Bupati turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi masyarakat secara langsung, bukan hanya melalui laporan di meja.
“Jangan hanya di posko, tapi lihat kondisi korban banjir menggunakan perahu karet atau boat, lihat juga kondisi rumah masyarakat yang rusak,” ucap Rahim. Ia menekankan bahwa rakyat yang mengungsi masih ada yang belum mendapatkan bantuan dari Pemkab Langkat.
Dengan kritikan ini, Rahim berharap Pemkab Langkat segera melakukan evaluasi menyeluruh dan mengambil tindakan tegas serta meningkatkan kesiapsiagaan. “Kalau tidak sanggup hadapi korban dan bencana banjir ini, angkat saja bendera putih alihkan ke pemerintah pusat,” ujarnya.
Kebutuhan Dana dan Logistik yang Besar
Menurut Rahim, dana yang dibutuhkan untuk pemulihan ekonomi ratusan ribu masyarakat yang terdampak banjir sangat besar. Selain bantuan logistik makanan, obat-obatan, dan susu, perlu juga dana untuk perbaikan ribuan rumah warga yang rusak. Beberapa rumah bahkan hancur total, sehingga warga tidak memiliki tempat tinggal lagi.
Selain itu, jalan umum dan jembatan yang rusak juga memerlukan perbaikan. Dana APBD Langkat dinilai tidak cukup untuk menangani semua masalah ini. Oleh karena itu, diperlukan bantuan dari pemerintah pusat menggunakan APBN dan perusahaan.
Situasi Terkini
Banjir yang melanda Kabupaten Langkat dilaporkan telah mengganggu 122.527 kepala keluarga. Hingga Sabtu (6/12/2025), sejumlah daerah yang digenangi banjir mulai mengalami penurunan debit air. Jalan Lintas Sumatera Medan-Aceh kini sudah dapat diakses. Namun, genangan banjir masih terjadi di beberapa desa maupun kelurahan di Kecamatan Tanjungpura.











