"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Daerah  

Bali sepi, pengemudi dan pemandu wisata keluhkan sedikit tamu, PHRI: wisatawan tiba mendadak saat Nataru

, DENPASAR –

Bali, yang dikenal sebagai destinasi pariwisata utama di Indonesia, kini menghadapi tantangan signifikan menjelang akhir tahun 2025. Kondisi yang seharusnya menjadi puncak musim liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) justru menunjukkan keadaan yang sepi. Hal ini terlihat dari pengamatan yang dilakukan di berbagai lokasi ikonik seperti Kuta, Legian, dan Jalan Sunset Road, yang biasanya ramai dengan kendaraan dan pengunjung.

Keadaan Sepi di Pusat Pariwisata Bali

Dari pantauan yang dilakukan pada Minggu 21 Desember 2025 sore, tidak ada kepadatan kendaraan atau kemacetan di sekitar area pariwisata Bali. Para driver pariwisata juga mengeluhkan situasi ini, yang viral di media sosial. Narasi perbandingan jumlah penerbangan menuju Chiang Mai, Thailand, yang lebih ramai dibandingkan penerbangan menuju Pulau Dewata pun mulai muncul.

Ketua Forum Perjuangan Driver Pariwisata Bali (FPDPB), Made Darmayasa, membenarkan bahwa penurunan jumlah wisatawan saat jelang Nataru mencapai sekitar 40 persen. Penurunan ini sudah terjadi sejak pertengahan Oktober, dengan beberapa faktor yang diduga menyebabkan kondisi ini. Salah satunya adalah preferensi wisatawan mancanegara (wisman) yang lebih memilih liburan ke Thailand karena layanan yang lebih baik, harga yang lebih kompetitif, dan isu-isu negatif tentang Bali seperti sampah, kemacetan, serta infrastruktur yang kurang memadai.

Faktor-Faktor Penyebab Penurunan Wisatawan

Selain itu, isu bencana alam seperti banjir yang terjadi di beberapa wilayah juga turut memengaruhi persepsi wisatawan. Meski bukan penyebab utama, isu tersebut memperburuk citra Bali. Selain itu, masalah lingkungan dan budaya akibat overtourism juga mulai memicu perhatian negatif.

Tidak hanya para driver pariwisata, tour guide juga merasakan penurunan drastis jumlah wisatawan. Agus Indrawan, salah satu tour guide di Bali, menyebutkan bahwa penurunan mencapai 80 persen dibanding dua tahun lalu. Ia bahkan menyamakan situasi ini dengan masa pandemi Covid-19, meskipun sedikit berbeda karena masih ada turis yang datang.

Kembali Bangkit?

Meski kondisi sepi terjadi, ada harapan bahwa Bali mulai bangkit. Ketua PHRI Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya menyampaikan kabar baik bahwa turis mulai masuk ke Bali pada Sabtu 20 Desember 2025. Ia menyebutkan bahwa tingkat hunian hotel meningkat, terutama untuk periode Nataru.

Menurutnya, karakteristik wisatawan saat ini cenderung memesan secara last minute melalui online travel agent (OTA). Hampir 70 persen bisnis pariwisata menggunakan OTA, sehingga banyak wisatawan yang memilih Bali di waktu terakhir. Namun, isu lingkungan, sampah, dan kemacetan tetap menjadi tantangan bagi Bali dalam menarik minat wisatawan.

Data Kunjungan Wisatawan

Data penumpang internasional Bandara Ngurah Rai Bali menunjukkan adanya peningkatan. Misalnya, pada 14 Desember 2025, jumlah kunjungan wisatawan asing mencapai 40.979 dengan pertumbuhan 8,18 persen. Sementara itu, pada 19 Desember 2025, jumlah kunjungan wisatawan asing meningkat menjadi 41.300 dengan pertumbuhan 6,02 persen.

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menyampaikan bahwa situasi pariwisata di Bali mulai membaik. Ia menekankan pentingnya mitigasi terhadap isu-isu negatif yang muncul, seperti banjir dan sampah, agar Bali tetap diminati oleh wisatawan.

Persaingan dengan Thailand

Meski Bali dinilai sebagai destinasi yang unik, ada narasi bahwa wisatawan lebih memilih Thailand karena destinasi baru yang sedang naik daun. Namun, ketua PHRI Badung menegaskan bahwa Bali tetap akan diminati karena keunikan budaya dan tradisi yang dimilikinya.

General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menilai isu ini sebagai tantangan bagi pelaku pariwisata Bali. Ia yakin bahwa Bali masih memiliki daya tarik tersendiri, meskipun ada beberapa isu yang perlu diperbaiki.

Analisis Pemberitaan Negatif

Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali Komang Artana menyebutkan bahwa pemberitaan negatif di media sosial, termasuk isu banjir, sampah, dan kemacetan, turut memengaruhi persepsi wisatawan. Meski okupansi hotel saat ini rendah, setelah tanggal 20 Desember, booking hotel mulai meningkat hingga mencapai 65-70 persen. Pada akhir tahun, rata-rata booking hotel mencapai 85 persen ke atas.






Gusun Fawaida

Gusun Fawaida merupakan seorang Penulis yang fokus pada isu lingkungan kerja, produktivitas, dan human interest. Ia senang mengamati perilaku manusia, membaca buku self-improvement, dan minum kopi sambil menulis ide. Motto: “Tulislah untuk memberi dampak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *