"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Inflasi 70 Persen Picu Kekacauan di Iran



Gelombang demonstrasi di Iran terus berlangsung akibat berbagai masalah ekonomi yang semakin memburuk. Tingginya biaya hidup, laju inflasi yang tinggi, dan kesulitan dalam mencari pekerjaan menjadi pemicu utama. Gelombang protes ini mulai pecah di Teheran pada akhir bulan lalu setelah nilai tukar rial mengalami penurunan drastis hingga mencapai level terendah sepanjang sejarah. Pelemahan mata uang tersebut langsung memengaruhi harga kebutuhan pokok, memperparah krisis ekonomi yang telah berlangsung bertahun-tahun. Krisis ini dipengaruhi oleh isolasi global dan sanksi internasional terhadap Iran. Protes kemudian menyebar ke berbagai wilayah, dan mendapat respons keras dari pemimpin agama dan militer yang mengancam akan menjatuhkan hukuman berat kepada mereka yang dianggap sebagai “perusuh.”

Unjuk rasa massal bukanlah hal baru bagi Republik Islam Iran. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintahan teokratis negara ini sering kali menghadapi gelombang perlawanan publik. Pada 2022, demonstrasi besar dimulai oleh perempuan sebagai respons atas perlakuan represif yang muncul setelah kematian tragis seorang perempuan muda. Sementara pada 2009, protes besar meletus menyusul terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad, yang menjadi kerusuhan terparah sejak kejatuhan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1979.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berhasil meredam perbedaan pendapat dengan cara-cara represif dan kekerasan. Namun, situasi kali ini dinilai memiliki perbedaan penting. Dina Esfandiary, kepala geoekonomi Timur Tengah Bloomberg Economics, bahkan memprediksi bahwa Republik Islam kemungkinan besar tidak akan bertahan dalam bentuknya saat ini hingga akhir 2026. Pernyataan ini mengisyaratkan adanya perubahan yang hampir pasti terjadi, meski wujud akhirnya masih belum jelas.

Salah satu pembeda utama dibandingkan protes-protes sebelumnya adalah kondisi ekonomi Iran yang semakin terpuruk setelah bertahun-tahun berada di bawah sanksi. Nilai rial telah merosot sekitar 40 persen, yang mendorong inflasi pangan melonjak hingga 70 persen secara tahunan, menurut perkiraan Gavekal Research. Tekanan tersebut diperparah oleh kekeringan berkepanjangan serta buruknya pengelolaan sumber daya air yang menekan produksi pangan domestik.

Masalah ekonomi tidak berhenti di situ. Pemadaman listrik yang berkepanjangan dan pasar tenaga kerja yang rapuh, dengan estimasi tingkat partisipasi angkatan kerja hanya sekitar 41 persen, menciptakan lingkungan yang sangat berat bagi usaha kecil dan menengah. Banyak bisnis gulung tikar, sementara perusahaan-perusahaan yang memiliki afiliasi dengan IRGC disebut berusaha mengambil alih ruang yang ditinggalkan.

Seiring semakin banyak warga Iran jatuh ke jurang kemiskinan, rasa frustrasi dan kebencian tumbuh terhadap kelompok yang memiliki koneksi politik sehingga tetap terlindungi. Dalam beberapa hari terakhir, terlihat bahwa sebagian besar penduduk mulai bersatu menyuarakan tuntutan perubahan politik. Bahkan Grand Bazaar Teheran, yang selama ini dikenal sebagai simbol basis konservatif pendukung pemerintah, dilaporkan melakukan mogok hampir dua pekan.

Perbedaan penting lainnya adalah melemahnya posisi geopolitik Iran. Tahun lalu, Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan, mengakhiri aliansi strategis yang selama ini menjadi pilar pengaruh Teheran di kawasan. Iran juga menyaksikan sekutu-sekutunya, Hizbullah dan Hamas, terus dilemahkan oleh serangan di Lebanon dan Gaza. Ketegangan dengan Israel yang berlangsung secara berkala selama dua tahun terakhir mencapai puncaknya ketika Amerika Serikat melancarkan serangan mendadak terhadap fasilitas nuklir utama Iran pada Juni lalu. Presiden Donald Trump bahkan terus melontarkan ancaman tindakan lanjutan, termasuk dukungan terhadap demonstran.

Lalu, seperti apa kemungkinan transisi Iran jika perubahan benar-benar terjadi? Esfandiary mengemukakan empat skenario potensial: runtuhnya pemerintahan secara total, reformasi terbatas untuk meredam keresahan publik, pergantian pemimpin dengan sistem tetap bertahan, atau kudeta yang dipimpin IRGC. Faktor lain yang tak kalah menentukan adalah usia Khamenei yang kini 86 tahun. Potensi wafatnya sang pemimpin tertinggi dapat membuka babak suksesi kedua sejak berakhirnya era Shah.

“Perbedaannya kali ini dibandingkan dengan sebelumnya adalah IRGC jauh lebih dominan,” kata Esfandiary. “Tidak ada skenario di mana pemimpin tertinggi berikutnya tidak bekerja sama erat dengan IRGC,” imbuhnya.

Situasi ini mungkin belum memberi banyak harapan bagi pendukung demokrasi di Iran. Namun, perubahan yang terjadi, apa pun bentuknya, berpotensi membuka ruang pendekatan baru dengan Washington, yang akan menandai bab penting dalam sejarah panjang dan kompleks hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Hafsha Kamilatunnisa

Hafsha Kamilatunnisa adalah seorang Jurnalis yang mengangkat kisah masyarakat, kegiatan sosial, dan gerakan komunitas. Ia aktif dalam kegiatan sukarelawan, hobi memotret aksi sosial, dan membaca kisah inspiratif. Motto: “Empati adalah kekuatan terbesar penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *