"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Utang Kereta Cepat Dipenuhi APBN, Ekonom Kritik Peran Danantara

Peran Danantara dalam Pembayaran Utang Kereta Cepat Whoosh

Para ekonom menyoroti fungsi Danantara setelah pemerintah mengumumkan bahwa utang kereta cepat Whoosh akan dibayar menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menteri Keuangan menyatakan bahwa pembayaran APBN hanya mencakup 50% dari total utang, dan mengaku belum diundang oleh Istana untuk membahas masalah ini lebih lanjut.

Ekonom Anthony Budiawan dan Mohammad Faisal sepakat bahwa meskipun pembayaran utang kereta cepat akan “membebani” APBN, langkah ini harus dilakukan karena tunggakan bunga utang sudah jatuh tempo. PT Kereta Cepat Indonesia-China (PT KCIC) masih merugi, sehingga diperlukan tindakan segera.

Saat ini, beban bunga utang yang ditanggung pihak Indonesia dalam perusahaan konsorsium sekitar Rp1,2 triliun per tahun. Itu belum termasuk utang pokok yang mencapai ratusan triliun dan mulai dibayarkan pada 2027. Dengan nilai tersebut, para ekonom menyebut pembayaran utang ini akan menambah beban pada APBN yang saat ini mengalami defisit—belanja negara lebih besar dibanding pendapatannya.

Para ekonom kemudian mempertanyakan fungsi Danantara. Sebagai badan pengelola investasi yang mengelola keuntungan dari perusahaan-perusahaan BUMN, seharusnya Danantara yang membayarkan utang ini, kata ekonom Andri Perdana. “Kita cuma memakan busuknya saja dari Danantara, tidak mendapatkan buahnya,” ujarnya.

Walaupun pihak istana sudah memastikan utang kereta cepat dibayar pakai APBN, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku belum membahas lebih lanjut masalah penyelesaian utang kereta cepat. Yang dia ingat, pembahasan sebelumnya masih 50:50, yang artinya tidak semua beban utang ditanggung APBN.

Mendorong Praktik Moral Hazard

Pada Selasa (10/02), Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, memastikan pembayaran utang kereta cepat akan menggunakan APBN. Publik merespons dengan menyampaikan kekecewaannya kepada pemerintah yang dulu berjanji tidak akan pakai APBN untuk membayar mega proyek kontroversial itu.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyebut proyek kereta cepat yang utangnya ditanggung negara ini jadi “preseden yang tidak baik” buat proyek-proyek selanjutnya. “Ini harus betul-betul menjadi poin catatan bagi pemerintah untuk perbaikan,” kata Faisal kepada BBC News Indonesia, Rabu (11/02).

Dia mewanti-wanti, jangan sampai pemerintah mengulang kesalahan yang sama, apalagi ada rencana akan melanjutkan proyek kereta cepat sampai Surabaya. Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, menilai proyek kereta cepat “sudah mendorong praktik moral hazard” karena risiko besar dari proyek ini dialihkan ke rakyat.

“Sementara masyarakat tidak mendapatkan manfaat yang berbanding lurus dengan biaya yang harus mereka tanggung,” ujar Media. Menurut Media, ini “tidak adil” karena pada akhirnya pertanggungjawaban anggaran itu dibebankan untuk generasi berikutnya, “bahkan 100 tahun ke depan”. Dia khawatir kalau proyek serupa terus dilakukan, akan semakin banyak “proyek asal-asalan yang dilakukan oleh pemerintah”.

Peran Danantara yang Dipertanyakan

Ketika negara memastikan bunga utang kereta cepat dibayar pakai APBN, ekonom langsung menyoroti fungsi Danantara—seperti yang dilakukan Menteri Purbaya. “Cuma dapat buntungnya saja kita dari Danantara ini. Danantara ini sudah mengambil dividen, tapi dia tidak berkontribusi untuk membayarkan utang anak-anak perusahaannya,” kata Direktur Riset Bright Institute, Andri Perdana, kepada BBC News Indonesia, Rabu (11/02).

Dividen adalah laba bersih perusahaan yang dibagikan untuk pemegang saham, dalam hal ini pemerintah Indonesia, sebagai imbalan karena negara sudah memberikan modal. Andri menjelaskan, sebelum ada Danantara, dividen itu disetor ke APBN sebagai pendapatan negara bukan pajak (PNPB). Tercatat, total dividen BUMN pada 2024 mencapai Rp85,5 triliun.

Kini, uang puluhan triliun itu ada di tangan Danantara dan dipakai untuk menambah modal, ekspansi proyek, sampai restrukturisasi perusahaan-perusahaan BUMN yang bermasalah, dan sebagainya. Andri mempertanyakan, ketika Danantara akhirnya tidak membayarkan bunga utang kereta cepat yang saat ini rutin dibayarkan tiap tahunnya, ke mana uang puluhan triliun itu?

“Danantara ini kan tidak diaudit oleh BPK [Badan Pengawas Keuangan]. Jadi kita tidak tahu sebanyak apa kasnya, seberapa sanggup dia [membayar utang].” “Habisnya di mana sih duitnya sampai tidak bisa menopang PT KAI?” kata Andri.

BBC News Indonesia menghubungi Danantara untuk menjawab masalah ini. Namun, salah satu penghubung medianya mengatakan “jadwal belum memungkinkan” untuk mewawancarai CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *