"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Hukum  

Nasib Ashraff Abu, Suami Fadia Arafiq, Aman Usai Terima Rp1,1 Miliar?

Nasib Mukhtaruddin Ashraff Abu, Suami Bupati Pekalongan Fadia Arafiq

Nasib Mukhtaruddin Ashraff Abu, suami Bupati Pekalongan Fadia Arafiq masih aman, meski diduga menerima aliran dana dalam kasus korupsi yang menjerat sang istri. Hingga kini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum menetapkan status hukum terhadap Ashraff Abu. Partai Golkar juga belum menentukan sikap terkait nasib anggota DPR RI tersebut.

Sebagai anggota DPR RI dari Partai Golkar, Ashraff Abu terpilih lewat daerah pemilihan Pekalongan. Nama Ashraff Abu disebut oleh Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu saat mengurai konstruksi perkara yang menjerat Fadia Arafiq. Kasus ini bermula saat Fadia Arafiq, yang baru satu tahun menjabat sebagai Bupati Pekalongan periode 2021-2025, mendirikan perusahaan bersama suaminya sekaligus anggota DPR RI, Mukhtaruddin Ashraff Abu dan anaknya, Muhammad Sabiq Ashraff, bernama PT RNB (Raja Nusantara Berjaya).

PT RNB bergerak di bidang penyediaan jasa dan aktif menjadi vendor dalam pengadaan barang dan jasa (PBJ) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Muhammad Sabiq Ashraff menjabat sebagai komisaris PT RNB, sementara dirinya sendiri menjabat sebagai Direktur. Pada 2024, Fadia mengganti posisi Direktur PT RNB dengan orang kepercayaannya bernama Rul Bayatun.

Setelah satu tahun beroperasi, sepanjang tahun 2023-2026, PT RNB diketahui mendapatkan proyek pekerjaan pengadaan jasa outsourcing di sejumlah Perangkat Daerah Pemkab Pekalongan. Selama periode tersebut, Fadia Arafiq melalui anaknya, Muhammad Sabiq Ashraff dan orang kepercayaannya diduga melakukan intervensi kepada para kepala dinas agar memenangkan PT RNB untuk pengadaan jasa outsourcing di sejumlah dinas, kecamatan, hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kabupaten Pekalongan.

Selain itu, sepanjang tahun 2023-2026, terdapat transaksi masuk ke PT RNB senilai Rp 46 miliar yang bersumber dari kontrak antara PT RNB dan Perangkat Daerah di Pemkab Pekalongan. Dari uang tersebut, hanya sebesar Rp 22 miliar digunakan untuk pembayaran gaji pegawai outsourcing. Sisa di antaranya, dinikmati dan dibagikan kepada keluarga Bupati dengan total mencapai Rp 19 miliar (sekitar 40 persen) dari total transaksi, dengan rincian sebagai berikut:

  • Bupati Pekalongan Fadia Arafiq: Rp 5,5 miliar
  • Mukhtaruddin Ashraff Abu (suami Bupati): Rp 1,1 miliar
  • Rul Bayatun (Direktur PT RNB): Rp 2,3 miliar
  • Muhammad Sabiq Ashraff (anak Bupati): Rp 4,6 miliar
  • Mehnaz (anak Bupati): Rp 2,5 miliar
  • Penarikan tunai: Rp 3 miliar

Sikap Partai Golkar Terhadap Kasus Ini

Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, saat diminta konfirmasi soal keluarga Fadia yang semuanya kader partainya, hanya berkomentar singkat. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan menunggu proses hukum yang sedang berlangsung. “Kita tunggu proses hukum saja ya, kita hormati (proses) hukum ya,” kata Sarmuji.

Saat ditanya apakah Golkar akan mengklarifikasi temuan KPK kepada Ashraff dan Sabiq, Sarmuji hanya menjawab normatif. “Kita serahkan proses hukum,” ucapnya. Sementara itu, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia enggan merespons perihal kasus korupsi Bupati Pekalongan ini. “Ah sudahlah, (lagi) Nuzulul Quran,” kata Bahlil.

Minta Fadia Tak Banyak Omong

Berbeda dengan Sarmuji dan Bahlil yang pelit bicara, Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, berkomentar panjang terkait kasus ini. Dia meminta Bupati Pekalongan Fadia Arafiq untuk tidak banyak berkomentar kepada publik usai ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Doli menegaskan, jika Fadia merasa tidak bersalah dalam kasus dugaan korupsi pengadaan jasa outsourcing tersebut, pembelaan sebaiknya dilakukan melalui jalur pembuktian hukum.

“Tidak usaha banyak mengeluarkan komentar, kalau memang merasa tidak bersalah, buktikan secara hukum,” kata Doli kepada Tribunnews.com, Jumat (6/3/2026). Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI ini menyatakan Golkar menghormati langkah penegakan hukum yang sedang dijalankan oleh lembaga antirasuah. Doli juga berpesan agar Fadia mematuhi dan mengikuti seluruh tahapan pemeriksaan yang sedang berjalan.

“Kami menghormati proses yang saat ini dilakukan KPK. Kami juga berpesan kepada Saudara Fadia untuk mengikuti seluruh proses hukum yang berlangsung,” ujarnya. Ia menyebut, Golkar akan terus memantau perkembangan kasus ini secara intensif.

Bantah Fadia Tak Paham Birokrasi

Ahmad Doli Kurnia juga menanggapi dalih yang diungkapkan Fadia dalam pemeriksaan intensif di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta. Dalam pemeriksaan, Fadia Arafiq mengaku dirinya bukan berasal dari latar belakang birokrat. Fadia juga menegaskan soal latar belakangnya sebagai penyanyi dangdut. Hal itulah yang membuatnya tidak memahami secara mendalam aspek hukum maupun administrasi pemerintahan daerah.

Menanggapi dalih Fadia tersebut, Waketum Golkar Ahmad Doli Kurnia mengaku kecewa dengan kadernya tersebut. Ia mengaku heran, mengapa kini semakin banyak kepala daerah yang terjerat kasus hukum. Ia lantas mempertanyakan, apakah para kepala daerah ini tidak bisa membaca perkembangan informasi yang ada. Mengapa para kepala daerah ini tidak belajar dari kasus-kasus yang ada.

“Iya, tentu kita semua prihatin ya dan kecewa tentunya. Pertama prihatin karena semakin hari, bukan berkurang kepala daerah yang terkena atau terjebak masalah hukum apalagi kena OTT. Dalam berapa bulan terakhir ini kalau tidak salah sekitar 7 apa 8 ini.”

“Nah, artinya kita melihat bahwa mereka ini apa enggak tidak membaca situasi, atau tidak baca perkembangan ya, bahwa ada kolega-koleganya yang sebelum mereka kena itu juga terjadi hal yang sama.”

“Nah, kenapa mereka ulangi? Kan gitu. Kenapa tidak hati-hati?” kata Ahmad Doli dalam Program ‘Sapa Indonesia Pagi’ Kompas TV, Jumat (6/3/2026).

Lebih lanjut, Ahmad Doli menegaskan, Fadia Arafiq ini tak hanya sekadar kader Golkar, tapi juga pernah menjabat sebagai Ketua DPD Golkar di Kabupaten Pekalongan, pada periode 2016-2021. Ahmad Doli lantas terheran-heran, mengapa sosok Ketua DPD Golkar di daerah bisa mengaku tak paham aturan birokrat dan berdalih dengan latar belakangnya sebagai seorang pedangdut.

“Nah, yang kedua sebagai Pimpinan Partai Golkar dimana ada seperti Fadia, dia adalah kader Golkar bahkan ketua di sana. Nah, tentu kita kecewa ya kenapa senaif itu ya,” tegas Ahmad Doli.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *