Kasus Bayi Nyaris Tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin: Babak Baru dengan Keterlibatan Pengacara Terkenal
Kasus bayi nyaris tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung kini memasuki babak baru. Nina Saleha (27), ibu dari bayi tersebut, resmi menunjuk pengacara kondang Krisna Murti bersama Mira untuk mendampinginya dalam menuntaskan persoalan hukum ini.
Penunjukan pengacara ini dilakukan Nina setelah ceritanya mengenai kekecewaan terhadap pelayanan RSHS Bandung viral di media sosial TikTok. Nina menegaskan, langkah ini diambil agar dirinya bisa lebih tenang menjalani proses pemulihan.
“Sehubungan dengan saya ingin fokus kepada pemulihan saya dan anak saya, saya baru pulang berobat,” ucap Nina melalui unggahan TikTok pribadinya, Sabtu (11/4/2026) malam.
Dalam kesempatan tersebut, Nina juga memberikan klarifikasi tegas terkait pernyataan pihak rumah sakit yang sebelumnya mengklaim bahwa masalah telah selesai secara kekeluargaan. Ia membantah adanya kesepakatan damai dengan pihak manajemen RSHS Bandung.
“Perlu saya sampaikan bahwa saya belum menyatakan berdamai dengan pihak rumah sakit,” tegas Nina sembari menunjukkan surat keterangan sakit dari dokter sebagai bukti dirinya tengah fokus berobat.
Peristiwa yang Menghebohkan
Peristiwa yang menghebohkan ini bermula pada Rabu pagi, 8 April 2026. Saat itu, Nina hendak menjemput bayinya yang sedang menjalani perawatan intensif di inkubator RSHS Bandung karena mengalami sakit kuning.
Sebelumnya, pada hari Selasa, pihak rumah sakit telah memberi kabar melalui pesan singkat bahwa bayinya sudah diperbolehkan pulang pada hari Rabu. “Saya dapat kabar hari Selasa kalau anak saya sudah bisa pulang hari Rabu. Tapi saya setiap hari ke sana, datang untuk memberikan ASI dan menjenguk bayi,” kata Nina.
Pada hari kepulangan, Nina sudah bersiap sejak pagi namun terkendala proses administrasi yang lambat. Sembari menunggu, ia sempat berbincang dengan ibu pasien lain yang merasa sedih karena bayinya didiagnosis mengalami paru-paru bocor.
Karena suasana rumah sakit sedang sangat sibuk, Nina dan suaminya sempat keluar sebentar untuk mencari makan. Namun, langkahnya terhenti karena firasat kuat. “Ketika mau makan saya mendapat firasat, seakan ada bisikan di telinga untuk segera ke atas melihat bayi, jadi saya langsung ke atas dan memilih nggak jadi makan,” ungkapnya.
Kejadian yang Menyedihkan
Sesampainya di lorong NICU, Nina terkejut melihat ibu yang tadi berbincang dengannya sedang menggendong bayi dengan selimut yang sangat familiar. “Saya lihat selimutnya kok seperti punya anak saya. Tapi saya belum langsung curiga, sampai saya cek ke inkubator dan ternyata anak saya sudah tidak ada,” katanya.
Kecurigaan Nina terbukti saat melihat wajah bayi tersebut mengenakan baju yang sudah ia siapkan. Ia pun langsung mengonfrontasi ibu tersebut dan berteriak, “Itu anak saya!” hingga akhirnya bayi tersebut berhasil diambil kembali dan diamankan oleh sang suami.
Nina menemukan banyak kejanggalan, salah satunya gelang identitas bayinya yang sudah dilepas oleh perawat dengan alasan agar tidak terkena virus. “Harusnya kan ada prosedur, ada surat pulang. Ini belum ada, tapi anak saya sudah dipegang orang lain. Gelangnya juga sudah diputus,” keluh Nina.
Ia menduga adanya kelalaian fatal dalam sistem pengawasan rumah sakit. “Kalau saya tidak ada, harusnya bayi diamankan dulu, bukan langsung diberikan ke orang lain. Kalau saya telat sedikit saja, mungkin anak saya sudah dibawa pergi,” tutupnya.
Penanganan oleh Pihak Rumah Sakit
Hingga saat ini, perawat yang terlibat dalam insiden tersebut dilaporkan telah dinonaktifkan dan dipindahkan ke bagian non-pelayanan oleh pihak RSHS Bandung.
Kejadian ini menjadi peringatan bagi semua institusi kesehatan untuk meningkatkan sistem pengawasan dan prosedur kerja guna mencegah terulangnya insiden serupa.











