Alasan Indonesia Bergabung dengan BoP dan Menandatangani Kesepakatan Tarif dengan Amerika Serikat
Presiden Joko Widodo, atau yang lebih dikenal sebagai Prabowo Subianto, akhirnya membuka tabir di balik keputusan besar yang belakangan memicu polemik, yaitu mengapa Indonesia memilih bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) dan menyepakati perjanjian tarif dengan Amerika Serikat. Langkah ini tidak dilakukan tanpa alasan. Menteri Agraria dan Tata Ruang, Nusron Wahid, menjelaskan bahwa Presiden ingin meluruskan prasangka publik yang menganggap kerja sama ini tidak menguntungkan Tanah Air.
Strategi di Tengah Gejolak Global
Prabowo memaparkan pandangannya mengenai kondisi dunia yang sedang tidak menentu, mulai dari antisipasi dampak ketegangan di Iran hingga potensi krisis pangan dan energi yang mengintai. “Bagaimana kondisi global, kenapa Indonesia masuk BoP, bagaimana antisipasi dampak perang Iran. Jangan sampai perang Iran berdampak terhadap krisis yang ada di sini, baik itu krisis pangan maupun krisis energi,” jelas Nusron mengutip poin-poin diskusi Presiden.
Langkah ini juga dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi ancaman krisis global yang bisa mengganggu pasokan bahan pokok dan energi.
Menjaga Napas Produk Lokal di Pasar Dunia
Salah satu inti dari kesepakatan ini adalah keberlangsungan ekonomi. Melalui Agreement Reciprocal Trade (ART), Indonesia berhasil menekan tarif ekspor ke Amerika Serikat secara signifikan. Jika sebelumnya produk Indonesia dihantam tarif 32 persen, kini angka tersebut menciut menjadi hanya 19 persen, bahkan mencapai 0 persen untuk komoditas tertentu.
Nusron menegaskan bahwa tanpa langkah ini, barang-barang buatan anak bangsa akan sulit bersaing di pasar Negeri Paman Sam karena harganya yang melonjak tinggi akibat pajak. “Kalau kita kena tarif tinggi 32 persen, berarti produk-produk Indonesia di Amerika lebih mahal 32 persen. Karena itu supaya produk-produk Indonesia kompetitif di Amerika, itulah menjadi latar belakang kenapa Indonesia menerima ART,” ungkap Nusron.
Menggeser Arah Impor demi Keuntungan Nasional
Keputusan ini juga membawa perubahan pada peta impor Indonesia. Namun, Nusron menekankan bahwa komoditas yang diimpor dari AS, seperti BBM dan kedelai, bukanlah hal baru bagi pasar domestik. Pemerintah hanya melakukan “pergeseran sumber” untuk mendapatkan posisi tawar yang lebih baik.
Jika sebelumnya Indonesia mengambil BBM dari Gabon atau Nigeria, serta kedelai dari Brasil dan Argentina, kini pasokan tersebut dialihkan dari Amerika Serikat. Strategi ini diambil untuk memenuhi syarat pengurangan tarif ekspor Indonesia ke AS. “Semua sudah dijelaskan sama Pak Presiden, yang intinya kebijakan itu adalah win-win solution,” pungkas Nusron.
Melalui penjelasan ini, Presiden Prabowo menekankan bahwa setiap langkah diplomasi yang diambil termasuk di tengah konflik Timur Tengah yang memanas selalu berlandaskan pada kepentingan nasional dan persatuan bangsa.
Ide Prabowo Jadi Mediator Konflik AS-Iran Dikecam
Namun, ide Prabowo menjadi mediator antara AS dan Iran mendapat kritik keras dari Dino Patti Djalal, mantan juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia meyakini bahwa ide Prabowo untuk terbang ke Teheran untuk melakukan mediasi tidak realistis dan berisiko politik.
“Kalau Presiden Prabowo merencanakan untuk terbang ke Teheran untuk melakukan mediasi, tidak mungkin Presiden Trump atau Menteri Luar Negeri Marco Rubio sebagai pihak yang menyerang Iran akan bersedia berkunjung ke Teheran,” ujarnya. “Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi.”
Dino menambahkan, dalam upaya mediasi, Presiden Prabowo harus bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pihak yang paling utama menyerang Iran. “Dan ini kan secara politik, diplomatik, dan logistik tidak mungkin terjadi, dan ini akan menjadi political suicide atau bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri,” ungkapnya.
Posisi Indonesia Harus Tegas
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri itu menilai, yang paling penting bagi Indonesia bukan mencari peran sebagai juru damai dalam konflik ini karena ini tidak realistis. “Tapi justru untuk menegaskan posisi Indonesia secara jelas, secara tegas, dan secara lugas. Kita harus berani menyatakan apa yang benar, benar dan apa yang salah, salah, apa pun risikonya,” tekannya.
Ia menegaskan, serangan Amerika dan Israel terhadap Iran itu bertentangan dengan segala prinsip yang disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam pidato bersejarah di Sidang Majelis Umum PBB tahun lalu. “Kita harus selalu konsisten menegakkan prinsip perdamaian dan norma-norma hukum internasional.”
Usulan untuk Prabowo
Lebih lanjut Dino menganjurkan agar Prabowo menulis surat kepada Donald Trump yang memberitahukan bahwa Indonesia akan menangguhkan pengiriman pasukan perdamaian untuk International Stabilization Force (ISF) di Gaza sambil mengkaji ulang situasi serius yang sekarang sedang berkembang di Timur Tengah.
“Melalui pesan ini terhadap Presiden Donald Trump, kita juga sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang berprinsip, yang berpendirian, dan tidak mudah di-take for granted oleh negara lain,” ungkapnya.











