Inspeksi Mendadak Bupati ke RSUD Junjung Besaoh
Bupati dan Wakil Bupati Bangka Selatan, Riza Herdavid serta Debby Vita Dewi bersama jajaran melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Junjung Besaoh. Sidak ini dilakukan setelah menerima aduan dari masyarakat terkait pelayanan kesehatan. Kegiatan tersebut difokuskan pada pengecekan langsung kualitas pelayanan serta memastikan tidak ada kendala dalam program berobat gratis.
Didampingi jajaran pejabat daerah dan manajemen rumah sakit, Riza Herdavid bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain, memperhatikan setiap detail pelayanan yang berlangsung. Di ruang tunggu, ia memperlambat langkahnya, menyapa warga yang tengah menanti giliran berobat.
Riza Herdavid mengatakan, sidak dilakukan sebagai respons cepat terhadap laporan warga yang masuk melalui media sosial. Ia menilai kanal aduan digital menjadi jalur efektif bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan secara langsung kepada kepala daerah. Dengan turun langsung ke lapangan, ia ingin memastikan kebenaran laporan sekaligus melihat kondisi riil pelayanan.
“Kami bisa akses apapun langsung ke saya selaku kepala daerah, tadi ada aduan masuk lewat media sosial makanya saya langsung cek ke sini,” ujar Riza Herdavid, Sabtu (28/3).
Dalam sidak tersebut, ia menyoroti aspek pelayanan yang dinilai masih perlu ditingkatkan oleh pihak rumah sakit. Ia bahkan memberikan teguran kepada jajaran manajemen, khususnya di bagian pelayanan yang bersentuhan langsung dengan pasien.
Menurutnya, kualitas interaksi petugas dengan masyarakat menjadi kunci utama dalam pelayanan kesehatan. “Bu direktur rumah sakit harus memperkuat pelayanan, terutama di bidang pelayanan karena yang saya berikan teguran hari ini bagian pelayanan,” tegas Riza Herdavid.
Selain mengevaluasi pelayanan, dirinya memastikan program berobat gratis menggunakan KTP dan KK tetap berjalan. Ia melakukan pengecekan dengan menanyakan langsung kepada pasien yang sedang dirawat. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada pungutan biaya yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah daerah.
Riza Herdavid mengaku sempat khawatir jika program berobat gratis tidak berjalan optimal di lapangan. Oleh karena itu, sidak menjadi cara untuk memverifikasi langsung implementasi kebijakan tersebut. Ia juga menyinggung pentingnya integrasi program dengan skema Penerima Bantuan Iuran (PBI).
“Saya takutnya program saya ini tidak jalan untuk berobat menggunakan KTP, tapi setelah saya cek semuanya masih bilang gratis,” sebutnya.
Penanganan Kasus Darurat di RSUD Junjung Besaoh
Riza Herdavid juga membuka ruang pengaduan bagi masyarakat yang masih menemukan kendala pelayanan. Ia meminta warga untuk melaporkan langsung jika terdapat fasilitas kesehatan yang tidak memberikan layanan sebagaimana mestinya. Bahkan, ia siap turun tangan apabila laporan tidak ditindaklanjuti oleh instansi terkait.
Ia menilai masih ada kendala akses komunikasi antara masyarakat dengan pihak rumah sakit maupun dinas terkait. Kondisi ini membuat sebagian warga lebih memilih menyampaikan keluhan langsung kepada kepala daerah melalui media sosial.
Ia pun menegaskan akan tetap membuka akses tersebut sebagai bagian dari pelayanan publik. “Apabila ada fasilitas kesehatan yang tidak melayani silakan lapor ke saya, nanti akan saya yang turun tangan,” kata Riza Herdavid.
Tanggapan Manajemen RSUD Junjung Besaoh
Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Junjung Besaoh, Kabupaten Bangka Selatan, angkat bicara terkait aduan masyarakat yang sebelumnya memicu sidak Bupati dan Wakil Bupati Bangka Selatan Riza Herdavid-Debby Vita Dewi dan jajaran. Aduan tersebut menyebut adanya keterlambatan penanganan terhadap seorang pasien yang mengalami kejang saat dirawat. Pihak rumah sakit memastikan bahwa kasus tersebut telah ditangani sesuai dengan prosedur medis yang berlaku.
Direktur RSUD Junjung Besaoh, Helen Sukendy mengatakan, sidak yang dilakukan bupati dan wakil bupati menindaklanjuti aduan yang masuk ke media sosial milik bupati. Keluhan yang disampaikan keluarga pasien memang telah diterima dan menjadi perhatian pihak rumah sakit.
Ia menyebut kondisi pasien saat itu memerlukan penanganan intensif sekaligus koordinasi lanjutan untuk proses rujukan. Dalam situasi tersebut, tenaga medis tetap menjalankan tindakan sesuai standar operasional.
“Memang ada komplain dari masyarakat yang disampaikan kepada Pak Bupati, bahwa bapaknya dirawat namun ada kondisi kejang dan dibilang penanganan oleh rumah sakit lambat,” kata Helen Sukendy, Sabtu (28/3).
Menurut Helen Sukendy, pihak rumah sakit tidak tinggal diam dan terus melakukan penanganan medis selama pasien berada dalam perawatan. Ia menegaskan bahwa prosedur penanganan telah dijalankan oleh tim medis sesuai ketentuan yang berlaku. Kondisi darurat seperti kejang, kata dia, langsung ditangani oleh tenaga kesehatan yang bertugas.
Ia menjelaskan, keluarga pasien sempat meminta agar pasien dirujuk ke rumah sakit lain. Permintaan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan menghubungi sejumlah rumah sakit rujukan. Namun proses rujukan tidak bisa dilakukan secara instan karena harus menunggu ketersediaan tempat dari rumah sakit tujuan.
“Memang pasien ini meminta untuk dirujuk ke rumah sakit lain, namun kami masih menunggu balasan dari sejumlah rumah sakit,” papar Helen Sukendy.
Pihak rumah sakit, lanjut Helen Sukendy, berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, terutama dalam penanganan kasus darurat. Evaluasi internal juga akan dilakukan sebagai tindak lanjut dari aduan masyarakat yang muncul.
Ia berharap masyarakat dapat memahami bahwa beberapa kondisi membutuhkan proses koordinasi lintas fasilitas kesehatan. “Kami tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik sesuai dengan kemampuan dan prosedur yang ada,” ujar Helen Sukendy.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











