"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Daerah  

Antrean panjang di SPBU Entrop, harga BBM Jayapura belum naik

Aktivitas Pengisian BBM di SPBU Entrop Masih Normal

Aktivitas pengisian bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina Entrop, Kota Jayapura, Papua, masih berjalan normal meski isu kenaikan harga BBM hingga Rp17.000 per liter ramai diperbincangkan masyarakat menjelang 1 April 2026.

Pantauan di SPBU Pertamina Entrop yang berlokasi di Jalan Kelapa Dua, Distrik Jayapura Selatan, terlihat antrean angkutan kota (angkot) rute Entrop–Abepura, kendaraan roda dua, hingga mobil pribadi yang datang untuk mengisi BBM. SPBU dengan kode 84.991.03 tersebut merupakan salah satu titik distribusi BBM yang cukup penting di Kota Jayapura.

Lokasinya yang berada di kawasan padat penduduk dan dekat dengan pusat pemerintahan membuat SPBU ini hampir setiap hari dipadati kendaraan. Meski antrean terlihat cukup panjang, proses pelayanan pengisian BBM berlangsung tertib. Sejumlah petugas SPBU tampak melayani pengendara yang datang silih berganti sejak pagi.

Hingga akhir Maret 2026, harga BBM di SPBU Entrop masih belum mengalami perubahan. Pertamax masih dijual dengan harga Rp12.600 per liter, sementara Pertalite tetap berada di angka Rp10.000 per liter. Sejumlah pengendara roda dua dan roda empat masih terlihat membeli BBM seperti biasa. Mereka mengaku belum terlalu memikirkan isu kenaikan harga karena sampai saat ini belum ada pengumuman resmi dari pemerintah.

Petugas SPBU yang ditemui di lokasi mengatakan pihaknya masih menjual BBM dengan harga normal karena belum menerima informasi resmi terkait penyesuaian harga BBM pada April 2026. “Belum ada informasi resmi, jadi kami masih jual seperti biasa. Banyak masyarakat yang datang tanya-tanya soal isu kenaikan BBM, tapi kami belum bisa pastikan karena belum ada pengumuman,” ujar salah satu petugas SPBU Entrop.

Menurutnya, masyarakat memang mulai ramai membicarakan kemungkinan kenaikan harga BBM setelah muncul kabar bahwa harga minyak dunia meningkat akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kabar tersebut kemudian berkembang di media sosial dan memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama bagi pengendara, sopir angkutan umum, hingga pedagang kecil yang sangat bergantung pada BBM untuk aktivitas sehari-hari.

Di Kota Jayapura, kebutuhan BBM memang cukup tinggi. Sebagai ibu kota Provinsi Papua, Jayapura menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, dan jasa. Selain menjadi pusat aktivitas ekonomi, Jayapura juga dikenal sebagai kota pendidikan karena terdapat banyak perguruan tinggi, sekolah tinggi, dan lembaga pendidikan yang menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai wilayah di Papua.

Mahasiswa dari daerah pegunungan, pesisir, Papua Selatan, hingga wilayah perbatasan banyak datang ke Jayapura untuk melanjutkan pendidikan. Hal itu membuat mobilitas masyarakat di kota ini cukup tinggi setiap hari. Kawasan seperti Entrop, Abepura, Waena, dan Sentani menjadi titik dengan aktivitas kendaraan paling padat.

Selain kendaraan pribadi, angkutan kota, truk distribusi, hingga kendaraan dinas pemerintahan juga banyak beroperasi di wilayah tersebut. Khusus di Entrop, kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat pemerintahan Kota Jayapura. Kantor Wali Kota Jayapura berada di Jalan Balai Kota, Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan.

Karena menjadi pusat pelayanan publik, aktivitas kendaraan di kawasan Entrop hampir tidak pernah sepi. Banyak warga dari berbagai daerah datang untuk mengurus administrasi, bekerja, berobat, hingga berbelanja. Kondisi itu membuat kebutuhan BBM di Kota Jayapura tetap tinggi setiap hari. Karena itu, isu kenaikan harga BBM menjadi perhatian serius bagi masyarakat.

Salah seorang pengendara motor di Entrop mengaku berharap harga BBM tidak mengalami kenaikan drastis karena akan berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. “Kalau BBM naik, otomatis ongkos transportasi juga naik. Harga barang di pasar bisa ikut naik juga. Jadi kami berharap pemerintah tetap pertimbangkan kondisi masyarakat,” ujarnya.

Selain pengendara pribadi, sopir angkutan kota juga mengaku khawatir jika harga BBM naik karena biaya operasional kendaraan akan semakin besar. Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, sebelumnya meminta masyarakat menunggu keputusan resmi pemerintah terkait harga BBM non-subsidi yang akan diumumkan pada 1 April 2026.

Untuk Maret 2026, harga BBM non-subsidi di sejumlah SPBU memang sudah mengalami penyesuaian. Harga Pertamax berada di angka Rp12.300 per liter, Shell Super Rp12.390 per liter, BP 92 Rp12.390 per liter, dan Revvo 92 milik Vivo juga berada di kisaran Rp12.390 per liter. Namun untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar, pemerintah masih mempertahankan harga tetap agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

Masyarakat di Jayapura berharap apabila nantinya ada penyesuaian harga BBM, pemerintah tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi warga Papua yang biaya transportasi dan harga kebutuhan pokoknya relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *