Kehilangan Buah Duku di Desa Rasuan
Sejak tahun 2025, kebun duku yang menjadi sumber penghidupan utama warga Desa Rasuan, Kecamatan Madang Suku I, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, mengalami perubahan yang sangat mengkhawatirkan. Hampir seluruh pohon duku tidak lagi berbuah meskipun kondisi fisik pohon terlihat sehat dan bebas dari serangan hama.
Perubahan cuaca ekstrem dan pembukaan lahan diduga menjadi penyebab utama gangguan dalam proses pembungaan duku. Fenomena ini menyebabkan penurunan drastis dalam ekonomi petani dan memaksa banyak warga beralih ke sektor pertanian lain seperti sawah.
Indra Hendrawan, salah satu petani setempat, menjelaskan bahwa pohon duku miliknya terakhir kali berbuah normal sekitar dua tahun lalu. Sejak itu, tidak ada lagi hasil panen yang bisa diharapkan. Meski kondisi fisik pohon masih terlihat normal dengan daun hijau dan batang yang tidak menunjukkan tanda-tanda serangan hama maupun penyakit, tetapi tidak ada buah yang muncul.
Perawatan kebun tetap dilakukan secara rutin, mulai dari pembersihan area bawah pohon hingga metode tradisional seperti pengasapan untuk mencegah hama. Namun, menurut Indra, tidak ada serangan hama yang signifikan saat ini.
Ia menduga perubahan pola cuaca menjadi penyebab utama. Dalam beberapa tahun terakhir, musim hujan dan kemarau tidak lagi menentu. Curah hujan tinggi bisa datang tiba-tiba, lalu berganti dengan kemarau panjang. Perubahan iklim ini sangat berpengaruh pada proses pembungaan duku.
Selain faktor iklim, perubahan lingkungan juga diduga turut berperan. Pembukaan lahan untuk program cetak sawah di sekitar kebun disebut telah mengubah ekosistem yang sebelumnya mendukung pertumbuhan duku. Banyak pembukaan lahan dan penebangan pohon di sekitar kebun diperkirakan berdampak pada kondisi tanaman.
Mayoritas pohon duku di Desa Rasuan berasal dari biji, bukan hasil sambung atau okulasi. Usia tanaman pun beragam, mulai dari sekitar 10 tahun hingga lebih dari 30 tahun. Kondisi tanah umumnya lembap, meski pada musim kemarau bisa mengalami kekeringan ekstrem.
Dampak langsung dari fenomena ini adalah penurunan ekonomi warga. Duku yang selama ini menjadi komoditas unggulan daerah tidak lagi dapat diandalkan sebagai sumber penghasilan utama. Banyak petani yang kini beralih fokus ke sawah.
Para petani berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait untuk meneliti penyebab pasti fenomena ini serta mencari solusi yang tepat. Mereka khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, duku Komering yang selama ini menjadi identitas daerah bisa hilang.
Kehilangan buah duku di Desa Rasuan menjadi peringatan bahwa perubahan iklim dan aktivitas lingkungan lokal dapat berdampak besar terhadap keberlangsungan komoditas unggulan daerah. Tanpa penanganan serius, masa depan duku Komering kini berada di ujung ketidakpastian.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kehilangan Buah Duku
- Perubahan Iklim
- Musim hujan dan kemarau tidak menentu.
- Curah hujan tinggi bisa datang tiba-tiba, lalu berganti dengan kemarau panjang.
-
Cuaca yang tidak bisa diprediksi sangat berpengaruh pada proses pembungaan duku.
-
Perubahan Lingkungan
- Pembukaan lahan untuk program cetak sawah di sekitar kebun.
- Penebangan pohon yang mengubah ekosistem.
-
Pengaruh terhadap kondisi tanaman duku.
-
Kondisi Tanah dan Pohon
- Kondisi tanah umumnya lembap, namun bisa mengalami kekeringan ekstrem pada musim kemarau.
- Usia pohon bervariasi, mulai dari 10 hingga lebih dari 30 tahun.
- Pohon berasal dari biji, bukan hasil sambung atau okulasi.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











