"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Daerah  

Infrastruktur minim, petani Bone berjuang angkut hasil panen

Kehidupan di Tengah Arus Sungai yang Tak Pernah Berhenti

Di Dusun Sompobia, Desa Tadang Palie, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, derasnya arus sungai menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga setempat. Bagi para petani, sungai ini bukan hanya bentuk alam, tetapi juga tantangan yang harus dihadapi setiap hari demi menopang kehidupan mereka.

Pagi itu, beberapa petani tampak memikul karung berisi padi di pundak mereka. Mereka berjalan perlahan melalui dasar sungai yang licin, menghadapi arus yang bisa tiba-tiba mengancam keselamatan mereka. Air bahkan sering mencapai leher orang dewasa. Tidak ada jembatan permanen yang menghubungkan akses antara dua sisi sungai. Yang tersisa hanyalah keberanian dan harapan untuk sampai di seberang dengan selamat.

Pemandangan seperti ini bukan lagi hal yang asing. Ia telah menjadi rutinitas harian bagi warga. Setiap musim panen, ketegangan semakin meningkat. Hasil bumi yang seharusnya membawa kebahagiaan justru berubah menjadi beban yang harus diperjuangkan dengan risiko nyawa.

Rahman (45), salah satu warga, masih ingat betul bagaimana derasnya arus hampir merenggut hidupnya. Saat itu, ia sedang memikul gabah di pundak, berusaha menyeberangi sungai seperti biasa. “Kalau air naik sampai leher, kami hanya bisa pasrah. Gabah di pundak harus tetap dibawa, tapi keselamatan seperti tidak ada jaminan,” ujarnya.

Ia pernah terpeleset dan nyaris hanyut terbawa arus. “Saya pikir waktu itu sudah tidak selamat. Tapi saya ingat keluarga di rumah, jadi saya berusaha bertahan,” katanya lirih.

Cerita serupa juga datang dari Ali (38). Baginya, kondisi ini bukan hanya soal sulitnya akses, tetapi juga tentang rasa diabaikan. “Kami ini petani kecil, hanya berharap bisa hidup dari sawah. Tapi untuk bawa hasil panen saja harus bertaruh nyawa,” katanya.

Menurut Ali, musim panen yang seharusnya menjadi momen penuh suka cita justru berubah menjadi waktu yang paling menegangkan. “Harusnya panen itu membahagiakan. Tapi bagi kami, justru penuh rasa takut—takut jatuh, takut hanyut, takut tidak bisa pulang,” ujarnya.

Gotong Royong dalam Keterbatasan

Di tengah keterbatasan tersebut, warga tidak tinggal diam. Secara swadaya, mereka bergotong royong membangun jembatan darurat dari bambu. Meskipun sederhana dan rapuh, jembatan ini cukup memberi secercah rasa aman dibanding harus langsung berhadapan dengan arus sungai. Jembatan itu kini menjadi urat nadi sementara bagi aktivitas warga.

Potensi wilayah ini tidak kecil. Sekira 100 hektar lahan persawahan terbentang, dengan produksi mencapai 750 ton gabah dalam sekali panen. Dalam setahun, panen bisa dilakukan hingga dua kali—menjadikannya sumber penghidupan utama masyarakat setempat. Namun besarnya potensi itu belum diiringi dengan infrastruktur yang memadai.

Ketiadaan jembatan layak masih menjadi persoalan mendasar yang tak kunjung terselesaikan. Di balik derasnya arus sungai, tersimpan harapan sederhana dari warga: hadirnya perhatian dan solusi nyata dari pemerintah. Agar suatu hari nanti, mereka tak lagi harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk membawa pulang hasil panen.

Harapan Warga untuk Perubahan

Warga setempat berharap agar pemerintah dapat memperhatikan kondisi mereka. Mereka ingin memiliki akses yang lebih aman dan nyaman untuk mengangkut hasil pertanian. Dengan adanya jembatan permanen, kehidupan mereka akan jauh lebih mudah dan aman.

Selain itu, warga juga berharap agar ada program pemerintah yang dapat mendukung pertanian mereka, baik dalam bentuk pelatihan, bantuan teknologi, maupun pendanaan. Dengan dukungan yang tepat, potensi wilayah ini dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Tantangan yang dihadapi warga Dusun Sompobia adalah cerminan dari banyak daerah lain di Indonesia yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur. Namun, dengan kebersamaan dan tekad yang kuat, mereka terus berjuang untuk masa depan yang lebih baik.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *