Penjelajahan Jejak Ikan Sapu-Sapu yang Berakhir di Siomay
Ikan sapu-sapu, yang dikenal sebagai ikan pembersih kaca, kini menjadi bahan dasar siomay yang dijual di sekitar Stasiun Duren Kalibata. Proses penangkapan dan pengolahan ikan ini berlangsung senyap selama bertahun-tahun, jauh dari perhatian publik hingga akhirnya ramai diperbincangkan.
Proses Penangkapan dan Pemilahan Ikan Sapu-Sapu
Pada Kamis (22/1/2026) siang, Kompas.com menemui sekelompok pencari ikan di bawah Jembatan Ciliwung Kalibata yang tengah bergelut dengan tumpukan ikan sapu-sapu hasil tangkapan mereka. Mereka menggunakan rakit apung berwarna hijau cerah dari susunan kubus plastik untuk memproses ratusan ekor ikan yang baru diangkat dari dasar sungai.
Para pencari ikan ini tidak sekadar menjaring, tetapi langsung melakukan pemilahan dan pembersihan di atas rakit tersebut. Pisau-pisau kecil menyayat kulit keras ikan sapu-sapu yang menyerupai perisai. Daging berwarna kemerahan dipisahkan dari cangkang hitam yang kasar. Dagingnya dikumpulkan dalam kantong plastik, sementara kulitnya dibuang langsung ke aliran sungai.
Salah seorang pencari ikan bahkan menunjukkan segenggam telur ikan sapu-sapu berwarna oranye terang. Bagi para pencari ini, ikan sapu-sapu bukan hama, melainkan sumber penghidupan. Setiap bagian memiliki nilai, meski tak semuanya dikonsumsi manusia.
Proses Penjualan dan Harga
Menurut Ali (35), salah satu pencari ikan, ikan sapu-sapu yang ditangkap tidak langsung dijual dalam kondisi utuh, tetapi dipilah terlebih dahulu antara daging dan kulitnya sebelum dipasarkan. “Ikan ini dipilah dulu. Kulitnya dibuang karena keras, enggak bisa diolah,” kata Ali.
Penangkapan ikan sapu-sapu dilakukan dengan dua cara, yakni menggunakan jala maupun secara manual dengan tangan kosong. Para pencari ikan kerap memasukkan tangan langsung ke dalam lubang-lubang di dasar sungai tempat ikan sapu-sapu bersembunyi. “Biasa pakai ini aja, pakai jala sama ban. Kalau lagi banyak, ambilnya sampai di lubang. Ada yang nyebur juga,” ujar Ali.
Penjualan pun hanya dihitung berdasarkan berat daging ikan, bukan keseluruhan tubuh ikan. “Penjualannya per kilo daging. Kulit enggak dihitung,” kata Ali. Menurut Ali, daging ikan sapu-sapu yang telah dipisahkan tersebut dijual untuk berbagai keperluan, termasuk untuk olahan seperti siomay.
Terkait harga, Ali menyebutkan tidak ada patokan yang pasti. Harga daging ikan sapu-sapu bisa berubah sewaktu-waktu. “Per kilonya sekitar Rp25.000. Kadang bisa lebih mahal, kadang juga lebih murah. Enggak ada alasannya, kira-kira segitu,” kata Ali.
Perbedaan Ciri-Ciri Siomay Ikan Sapu-Sapu
Siomay berbahan ikan sapu-sapu memiliki ciri yang berbeda dibanding siomay dari ikan konsumsi pada umumnya. Pengakuan tersebut disampaikan langsung oleh pedagang siomay yang menggunakan ikan sapu-sapu sebagai salah satu bahan bakunya.
Mamat (bukan nama sebenarnya) (51), pedagang siomay di sekitar Stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan, mengatakan, daging ikan sapu-sapu memang tidak bisa disamakan dengan ikan konsumsi yang lazim dijual di pasar. “Kalau pakai daging ikan sapu-sapu, warnanya memang agak lebih gelap, mirip bakso. Beda sama siomay yang kebanyakan tepung atau daging ikan segar yang warnanya agak pink,” ujar Mamat.
Menurut dia, perbedaan paling mudah dikenali justru dari aromanya. Daging ikan sapu-sapu disebut memiliki bau amis yang lebih kuat dibanding ikan konsumsi biasa seperti tenggiri atau bandeng. “Terus memang biasanya lebih amis, tapi itu bisa diakalin pakai jeruk nipis,” kata Mamat.
Pembeli Waspada dan Risiko Kesehatan
Rahma (29), seorang pekerja yang kerap melintas di area sekitar lapak Mamat, sebelumnya merupakan pelanggan siomay kaki lima. Kebiasaan ini berubah setelah ia mengetahui adanya pedagang yang menggunakan ikan sapu-sapu sebagai bahan siomay. “Pas tahu ternyata ada yang pakai ikan sapu-sapu, saya jadi mikir ulang. Soalnya kan ikannya dari kali yang kotor,” ujar Rahma.
Dari sisi medis, perbedaan aroma dan warna bukan sekadar soal selera, melainkan bisa menjadi indikator kondisi bahan pangan. Pakar penyakit dalam Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, mengingatkan bahwa bahaya utama ikan sapu-sapu terletak pada lingkungan tempat hidupnya. “Jika ikan itu tercemar dengan berbagai macam bakteri, kemudian juga kuman, dan juga biasanya logam, logam berat yang ada pada ikan tersebut,” ujar Ari saat dihubungi Kompas.com.
Ari menegaskan bahwa masyarakat perlu bijak memilih sumber ikan. “Masyarakat harus bijak di dalam mengkonsumsi ikan. Apalagi kita tahu bahwa ternyata ikan itu hidup dari tempat yang sudah tercemar airnya. Termasuk juga kita tahu ikan sapu-sapu,” ujar Ari.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











