"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

DW Berkunjung ke Kampus 2025: Melawan Disinformasi di Era Akal Imitasi Bersama Mahasiswa Universitas Brawijaya

Kolaborasi DW Indonesia dan FISIP UB dalam Menghadapi Disinformasi AI

DW Goes to Campus (DWGC), acara tahunan yang diselenggarakan oleh DW Indonesia, kembali diadakan untuk keempat kalinya. Kali ini, DW Indonesia bekerja sama dengan sivitas akademika Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Malang, dalam rangkaian acara bertema “Fact-checking: How to Tackle AI Disinformation”. Acara ini diikuti oleh 108 peserta, termasuk mahasiswa dan dosen.

Rangkaian acara DWGC berlangsung selama tiga hari. Pada hari pertama, 11 November 2025, dilaksanakan sesi Training of Trainers (ToT). Dalam sesi ini, 10 jurnalis DW Indonesia berbagi pengetahuan tentang berbagai metode pengecekan fakta kepada 10 dosen dari Universitas Brawijaya. Hari berikutnya, acara dilanjutkan dengan sesi Campus Dialogue bertema “Smarter Minds Against Digital Lies”. Sejumlah mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya, dosen, praktisi media dari TVRI dan UBTV, serta jurnalis DW Indonesia berdialog tentang sikap yang harus diambil dalam menghadapi gempuran konten akal imitasi.

Hari ketiga menjadi puncak acara, yaitu lokakarya cek fakta yang dihadiri oleh 108 peserta, termasuk para mahasiswa. Lokakarya ini diselenggarakan di Auditorium Nuswantara FISIP UB pada 13 November 2025.

Pemimpin Redaksi DW Indonesia, Vidi Legowo Zipperer, menjelaskan bahwa tema DWGC dipilih karena fenomena banjir informasi yang dihadapi kaum muda saat ini. “Kaum muda sering dihadapkan dengan informasi yang membingungkan dan diamplifikasi dengan konten akal imitasi yang tersebar di media sosial,” tutur Vidi. Menurutnya, tema tersebut benar-benar merefleksikan tantangan yang dihadapi para mahasiswa. Membicarakan hal tersebut juga menjadi salah satu jalan untuk membuktikan bahwa DW Indonesia, sebagai media massa, tetap menyajikan hal yang relevan dan kredibel dalam menjalani praktik jurnalisme di negeri ini.

Universitas Brawijaya memiliki visi yang sejalan dengan DW Indonesia dalam menghadapi era disinformasi. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Ahmad Imron, menegaskan pentingnya “gotong royong digital” dalam menghadapi era disrupsi informasi. Ia merasa perlu adanya sinergi antara kalangan akademisi dan media dalam mengupayakan produksi informasi yang benar, terutama saat belum adanya regulasi yang mengatur penggunaan akal imitasi di negeri ini.

“Kolaborasi ini adalah sinergi yang mampu meluruhkan gap pengetahuan, keilmuan, dan informasi. Acara seperti ini memunculkan kesepahaman yang bisa menguatkan dalam meneruskan kebenaran informasi ke kelompok maupun generasi yang lebih luas,” kata Ahmad Imron. Kolaborasi lokakarya cek fakta ini merupakan kerja sama pertama yang dilakukan sivitas akademika Universitas Brawijaya dengan media internasional. Imron berharap agar langkah ini bisa membawa manfaat panjang bagi para peserta.

Urgensi Cek Fakta dalam Era Digital

Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya, Genta M. Rozalinna, menyatakan bahwa lokakarya cek fakta tidak hanya penting bagi orang muda atau generasi Z, tetapi juga bagi orang-orang dari kelompok milenial dan lansia. “Generasi Z yang masih muda lebih terampil dalam mengidentifikasi konten AI karena mereka lebih fasih menggunakan media sosial dan gadget. Sementara generasi di atasnya lebih berjarak,” kata Genta.

Dalam momen berbagi informasi antara jurnalis dan dosen, Genta bercerita bahwa butuh waktu dari para dosen untuk mengenali konten yang merupakan hasil akal imitasi. Demikian pula dengan mempraktikkan berbagai metode untuk mengecek fakta. “Saya semangat sekali dengan lokakarya seperti ini di mana kita bisa saling berbagi ilmu yang sesuai dengan tuntutan zaman,” lanjut Genta. Setelah lokakarya, Genta mengajak para mahasiswa untuk merefleksikan hal lanjutan yang bisa diperbuat dari hasil pelatihan. “Pengetahuan yang didapat para mahasiswa dari acara ini harus mengalir dalam bentuk lain dan bisa dinikmati lebih banyak orang. Jangan hanya berhenti di mereka,” tutur Genta.

Pentingnya Sisi Kemanusiaan dalam Penggunaan Teknologi

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya, Arif Budi Prasetya, berpendapat bahwa publik semakin perlu menyadari semakin pentingnya mengasah sisi kemanusiaan dalam fenomena merebaknya konten akal imitasi. “Yang kurang dari akal imitasi seperti chat GPT adalah ‘ethic’. Penggunaan akal imitasi juga berpotensi menumpulkan daya berpikir kritis,” kata Arif. Ditambahkannya, akal imitasi mustahil untuk ditolak mentah-mentah, oleh karena itu manusia perlu tetap mengasah sisi humanis dalam diri dan, “menjadikan teknologi hanya sebagai alat atau perangkat.”

Perspektif Mahasiswa dalam Menghadapi Informasi Digital

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Regan, berkata bahwa lokakarya cek fakta yang diselenggarakan DW Indonesia menjadi sarana untuk mengasah keahlian yang perlu dimiliki dalam era digital. “Arus informasi semakin deras dan kita perlu lebih menyadari jenis konten yang beredar,” kata Regan. “Saya jadi semakin diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam melihat dan menganalisis berita dan informasi yang ada di media sosial,” lanjut Regan.

Perhatian Khusus untuk Kelompok dengan Keterbatasan Sensorik

Ni Komang Yuni Lestari, teman tuna netra yang juga mahasiswi Sosiologi Universitas Brawijaya, menyatakan bahwa akses informasi yang benar dan berkeadilan perlu menjangkau orang-orang dengan keterbatasan sensorik. “Saya sering terpapar konten-konten deep fake di media sosial. Pesohor idola saya membicarakan hal yang di luar ekspertisnya maupun mempromosikan produk yang di luar ranahnya. Ternyata konten itu palsu,” kata Komang.

Semakin hari ia merasa perlu semakin awas dan waspada dalam mendengar informasi-informasi yang beredar di media sosial. “Saya mendengarkan apakah intonasi suaranya konsisten, bagaimana cara orang tersebut berkata-kata. Dari situ saya mengidentifikasi mana konten yang benar dan mana yang AI,” kata Komang. Ketika menghadiri acara lokakarya cek fakta yang berfokus pada pengenalan foto dan video disinformasi akal imitasi, Komang merasa, “Saya jadi mampu melakukan penyelidikan yang lebih valid terkait konten disinformasi. Saya mendapat lebih banyak hal daripada yang saya duga sebelumnya,” katanya.

Ia merasa pelatihan-pelatihan cek fakta perlu lebih banyak dilakukan dan mempertimbangkan kebutuhan dari kelompok dengan keterbatasan sensorik. “Kebutuhan hak atas keadilan akses informasi bagi penyandang disabilitas juga penting untuk diperhatikan. Saya akan berbagi hasil acara hari ini ke teman-teman kelompok keterbatasan sensorik netra,” kata Komang.

Misi Utama DWGC 2025

“Jika partisipan dalam acara DWGC terus menggunakan keterampilan yang kami diskusikan setelah acara selesai, maka DWGC 2025 telah mencapai misi utamanya,” kata Vidi. Ke depannya, DWGC juga bertujuan untuk berkolaborasi dengan sivitas akademika yang ada di luar pulau Jawa.




Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *