"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Mengapa UMI Makassar Kirim Bantuan Bencana Sumut, Bukan Cari Nama

Kepedulian UMI terhadap Korban Banjir Sumatera

Saat cuaca masih hujan, banjir kembali terjadi di beberapa wilayah Sumatera. Hal ini menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak, termasuk Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof Hambali Thalib. Dalam sebuah video call yang berlangsung di sela-sela konferensi pers di lantai 1 Menara UMI, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (7/12/2025) sore, Prof Hambali Thalib berbincang dengan Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazri Penarik.

Konferensi pers ini membahas bentuk kepedulian UMI terhadap korban banjir yang meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Pertemuan antara Rektor UMI dan Wali Kota Sibolga berlangsung selama sekitar 10 menit, membahas kondisi banjir di daerahnya.

“Kondisi saat ini setelah 11 hari, ada 54 meninggal dunia. Masih ada 4 orang belum ditemukan karena tertimbun, masih terus dilakukan pencarian,” kata Akhmad Syukri, dengan nada sedih, menyampaikan kondisi wilayahnya kepada pimpinan UMI.

Laporan langsung itu turut didengarkan oleh Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof Masrurah Mokhtar, dan Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof Mansyur Ramly, yang duduk di samping Rektor UMI Prof Hambali Thalib. Wakil rektor, pimpinan fakultas, hingga puluhan jurnalis dari berbagai media juga turut mendengarkan percakapan tersebut.

Di depan layar hp, Rektor UMI, Prof Hambali Thalib, menyampaikan duka mendalam atas bencana banjir Sumatera. “Kami sudah menerjunkan tim medis beberapa hari lalu untuk berpartisipasi. Kami juga menggalang donasi, seluruh civitas, dan kami dari Yayasan Wakaf UMI akan membantu meringankan,” kata Prof Hambali, yang hadir mengenakan jas almamater UMI berwarna hijau.

Bantuan Kemanusiaan dari UMI

Prof Hambali menjelaskan bahwa UMI senantiasa hadir membantu di setiap bencana, termasuk banjir Sumatera. Bahkan, jarak UMI ke Sumatera bukanlah penghalang untuk memberikan bantuan kemanusiaan. “Jarak Makassar ke Sumatera dengan perjalanan 2.500 sampai 3.000 kilometer bukanlah halangan bagi kemanusiaan. Di mana ada saudara kita menderita, di situ Insya Allah UMI akan hadir,” jelasnya.

Relawan UMI telah terbang dari Makassar menuju Sumatera, membantu para korban banjir. Relawan terdiri dari tim medis Fakultas Kedokteran (FK) memberikan pelayanan kesehatan bagi penyintas di camp pengungsian. Menurut Prof Hambali, tim relawan berangkat bukan untuk mencari nama, tetapi untuk menjalankan nilai yang sejak dulu menjadi jiwa UMI. “Menolong adalah ibadah. Membantu sesama adalah perintah agama dan perintah kemanusiaan,” kata Guru Besar Fakultas Hukum UMI tersebut.

Lebih dari itu, pimpinan Yayasan Wakaf UMI dan Rektor juga telah menyerahkan bantuan sebesar Rp60 juta untuk korban banjir Sumatera. Bantuan disampaikan pada acara Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) dan Peringatan Milad Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ke-35 di Bali pada Sabtu (6/12/2025).

Gerakan Donasi Kemanusiaan

Saat ini, melalui lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM), UMI juga membuka gerakan donasi kemanusiaan untuk korban banjir Sumatera. Misi kemanusiaan ini menjadi prioritas utama bagi UMI dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana alam.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof Mansyur Ramly, menyampaikan bantuan UMI bukan yang pertama kalinya. Sejak dulu, kata dia, UMI telah turun langsung pada berbagai situasi dan kondisi musibah bencana di berbagai wilayah. “Kita lihat apa yang paling prioritas (kita akan bantu). Semoga ke depan tim lebih gencar lagi memberikan bantuan,” kata Prof Mansyur Ramly.

Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof Masrurah Mokhtar, menyampaikan UMI akan terus membantu dengan misi kemanusiaan. Tidak hanya finansial, UMI juga akan membantu melalui kajian lebih dalam mengenai penyebab banjir. “Kami senantiasa menunggu kira-kira apa dibutuhkan nantinya. Kami merasa prihatin melihat saudara kita di sana,” kata Prof Masrurah Mokhtar.

Data Bencana Banjir di Sumatera

Berdasarkan data BNPB per Minggu (7/12/2025), sebanyak 921 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dalam rapat terbatas (ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah kementerian/lembaga terkait.

“Per hari ini, Bapak Presiden. Per hari ini meninggal dunia 921 orang,” kata Suharyanto dalam siaran langsung YouTube Sekretariat Presiden. Sementara itu, sebanyak 392 orang dilaporkan masih hilang kontak dan 975.079 orang mengungsi. “Ini di tiga provinsi baik Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat,” katanya.

Di Sumatera Utara, korban meninggal 329 orang dan hilang 82 orang. Kemudian Sumatera Barat yang meninggal dunia 226 orang dan yang hilang 213 orang. “Untuk Aceh, itu 366 orang meninggal dunia, hilang 97 orang, mengungsi 914.202 orang,” jelas dia. Sedangkan, 914.202 orang dilaporkan mengungsi akibat terdampak bencana alam ini. “Aceh untuk yang terisolir, yang masih cukup berat ada dua kabupaten, Bener Meriah dan Aceh Tengah,” ujar dia.

Adapun data ini masih dapat berubah sewaktu-waktu sampai proses evakuasi dinyatakan selesai.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *