Membangun Kepemimpinan dengan Keyakinan Diri
Kepemimpinan tidak hanya tentang posisi atau jabatan, tetapi juga tentang kemampuan seseorang untuk memotivasi dan membimbing orang lain. Namun, banyak orang seringkali merasa tidak mampu mengembangkan potensi kepemimpinannya karena rasa rendah diri. Psikolog Patrick Yessandro Pristantyo dari Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang menjelaskan bahwa keberanian mencoba menjadi kunci penting dalam membangun kepemimpinan.
Rasa Rendah Diri Menghambat Potensi
Menurut Patrick, banyak orang gagal mengembangkan potensi kepemimpinannya karena terlalu meragukan diri sendiri. “Yang sering membunuh potensi seseorang adalah ketika ia merasa, ‘Saya tidak bisa’. Akhirnya, ia tidak mau bergerak,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pola pikir memainkan peran besar dalam pengembangan kepemimpinan. Dalam teori psikologi, terdapat dua jenis pola pikir: fixed mindset dan growth mindset. Seseorang dengan growth mindset cenderung lebih berani mencoba dan tidak takut melakukan kesalahan.
Patrick menyarankan agar setiap orang mencoba dulu, bahkan jika ada kesalahan. “Lebih baik salah tetapi bisa diperbaiki daripada tidak memiliki pengalaman sama sekali,” katanya. Ini menjadi pedoman penting bagi siapa pun yang ingin mengembangkan kepemimpinan.
Tips untuk Pemimpin Baru
Bagi seseorang yang baru pertama kali memimpin dan merasa gugup, Patrick memberikan beberapa tips. Menurutnya, rasa grogi sering muncul karena pikiran dipenuhi berbagai kekhawatiran sebelum mencoba. “Grogi itu sebenarnya berasal dari pikiran. Karena kita belum mencoba, lalu muncul banyak kekhawatiran,” jelasnya. Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar seseorang meningkatkan jam terbang dengan terus mencoba dan belajar dari orang yang lebih berpengalaman.
“Tidak mungkin kita meningkatkan jam terbang jika hanya membandingkan diri dengan orang lain,” tambahnya. Dengan terus berlatih dan belajar, seseorang akan semakin percaya diri dalam memimpin.
Empat Tipe Karakter dalam Kepemimpinan
Dalam sesi diskusi, Patrick juga menjelaskan bahwa setiap orang memiliki tipe kepribadian berbeda. Ia menyebutkan empat tipe karakter yang sering muncul dalam kepemimpinan, yaitu:
- Tipe dominan atau leader
- Tipe influence yang komunikatif
- Tipe follower yang mendukung
- Tipe thinker yang analitis
Menurutnya, tidak semua pemimpin harus memiliki karakter dominan. “Yang paling penting adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu sehingga kita tahu bagaimana memahami orang lain,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar memberi perintah tetapi juga memahami orang-orang yang dipimpin.
“Kuncinya sederhana, kenali diri sendiri dan kenali orang lain,” katanya.
Program Softskill Series SCU
Selain materi tentang kepemimpinan, SCU juga rutin menggelar kegiatan soft skill sebagai bagian dari program Magister Manajemen. Ketua Program Studi Magister Manajemen SCU Dwi Hayu Agustini menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar setiap awal semester dengan tema berbeda. Topik-topik yang dibahas antara lain kepemimpinan, komunikasi, berpikir kritis, serta pembentukan karakter.
Tujuan dari kegiatan ini adalah membentuk mahasiswa agar memiliki kemampuan manajerial yang utuh, terutama dalam mengambil keputusan. “Karena kami memang bidangnya manajemen yang arahnya adalah level manajerial, jadi tidak hanya operasional tetapi pengambil keputusan, baik di level middle maupun top manajemen,” jelasnya.
Kegiatan Hybrid untuk Mahasiswa
Kegiatan Softskill Series ini diikuti oleh mahasiswa aktif Magister Manajemen SCU dan dilaksanakan secara hybrid, yakni secara langsung di Semarang serta melalui platform daring bagi mahasiswa yang berada di luar kota. Hal ini memastikan bahwa semua peserta dapat mengikuti materi tanpa terbatas oleh lokasi.











