Sejarah dan Makna Gerbang Monumental di Berbagai Budaya
Gerbang-gerang monumental telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia. Dari zaman kuno hingga masa modern, gerbang-gerbang ini tidak hanya berfungsi sebagai struktur fisik, tetapi juga sebagai simbol peringatan, identitas, dan kekuasaan. Di Washington, rencana pembangunan gerbang setinggi 76 meter memicu perdebatan yang menggambarkan kompleksitas makna dan konsekuensi dari proyek semacam ini.
Awal mula ide pembangunan gerbang tersebut berasal dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengusulkan pembangunan sebuah gapura kemenangan di Washington DC untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan AS. Proyek ini diberi nama “Arc de Trump” karena desainnya yang terinspirasi dari Arc de Triomphe di Paris. Saat itu, Trump menunjuk dirinya sendiri sebagai pihak yang akan dihormati oleh gerbang tersebut, menjadikannya salah satu aspek yang memicu kontroversi.
Rencana ini kembali bergaung pada awal tahun ini, dengan rencana pembangunan gerbang setinggi 250 kaki (76 meter), yang lebih tinggi daripada monumen lainnya seperti Lincoln Memorial dan Gedung Putih. Lokasinya, yang berada antara Pemakaman Nasional Arlington dan Lincoln Memorial, mendapat banyak kritik. Namun, Trump berargumen bahwa 57 kota di dunia memiliki gerbang kemenangan, dan Washington D.C. adalah satu-satunya kota besar yang tidak memiliki yang serupa.
Tradisi Arsitektur yang Bersejarah
Pembangunan gerbang melengkung memiliki akar sejarah yang dalam. Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa peradaban kuno di Mesopotamia, sejak milenium ke-10 hingga abad ke-6 SM, telah menggunakan teknik batu bata yang dibuat dari lumpur dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Teknik ini kemudian digunakan oleh peradaban Romawi, yang mengadaptasi bentuk lengkung untuk memperkuat struktur bangunan seperti saluran air dan Colosseum.
Di abad ke-1 M, gerbang Romawi mulai berubah fungsi menjadi simbol propaganda dan peringatan. Contohnya, Arch of Titus yang dibangun oleh Kaisar Domitianus untuk memperingati kemenangan Titus dalam Perang Yahudi-Romawi Pertama. Relief-relief di dalamnya menggambarkan tentara Romawi membawa rampasan perang dari Bait Suci Kedua di Yerusalem, termasuk menorah emas bercabang tujuh. Menurut Mary Beard, profesor dari Universitas Cambridge, monumen seperti ini dirancang untuk mencatat peristiwa sekaligus mempengaruhi cara orang-orang mengingat peristiwa tersebut.

Berabad-abad kemudian, Napoleon Bonaparte memerintahkan pembangunan Arc de Triomphe pada tahun 1806, meskipun proyek ini baru selesai pada tahun 1836. Monumen ini menjadi tempat upacara dan peringatan hari nasional di Paris, serta menjadi spot foto populer di Instagram.
Gerbang Monumental di Berbagai Wilayah
Di berbagai wilayah dan periode, gerbang-gerbang monumental telah berfungsi sebagai tempat politik dan seremonial bersejarah. Salah satu contohnya adalah Taq i-Kisra, gerbang melengkung dari bata yang merupakan sisa dari Ctesiphon kuno di Irak. Dibangun antara abad ke-3 dan ke-6 Masehi, gerbang ini menjadi contoh luar biasa dari teknik kuno tanpa penggunaan baja atau beton. Saat ini, gerbang ini adalah yang kedua terbesar di dunia setelah Gavmishan Bridge di Iran.
Di Berlin, Gerbang Brandenburg bergaya neoklasik dibangun atas perintah Frederick William II dari Prusia sebagai gerbang masuk kota. Selama Perang Dunia II, gerbang ini menjadi panggung pertunjukan Nazi. Setelah Tembok Berlin runtuh di tahun 1989, maknanya berubah menjadi lambang reunifikasi Jerman dan keterbukaan Eropa.

Gapura sebagai Simbol Identitas Komunal
Namun, gapura melengkung tidak hanya sekadar lambang kekuasaan atau penaklukan. Di komunitas diaspora Cina, Paifang atau gapura melengkung dengan beragam hiasan kerap menjadi pintu masuk ke area Chinatown. Warna-warnanya yang cerah dan elemen tradisional seperti naga, singa, dan kaligrafi membuat gerbang ini menonjol di lanskap jalanan. Di Cina, gerbang-gerbang ini menandai situs suci atau menghormati keluarga-keluarga yang dihormati. Di luar negeri, keberadaannya menjadi simbol identitas Cina.
India Gate di New Delhi, yang dirancang oleh arsitek Inggris Edwin Lutyens, terinspirasi oleh tradisi gerbang kemenangan Romawi. Awalnya dibangun sebagai monumen peringatan Tentara India yang tewas antara tahun 1914 dan 1921 dalam Perang Dunia I dan Perang Anglo-Afghan Ketiga. Seiring waktu, area di sekitar India Gate menjadi ruang publik ikonik kota, serta tempat diadakannya upacara dan parade nasional tahunan.

Gerbang sebagai Penghubung Ruang Spiritual
Di Jepang, torii di kuil Shinto yang sebagian besar dicat merah terang bukanlah gerbang struktural, tetapi dipercaya mengusir kejahatan. Pengunjung seringkali membungkuk saat melewatinya, karena melangkah di bawahnya menandai transisi dari dunia sekuler menuju alam para dewa-dewi dalam kepercayaan Shinto.
Di Eropa abad pertengahan, pemahat batu Gotik kerap membuat lengkungan runcing, atap berbentuk kubah, dan jendela kaca berwarna untuk mengarahkan pandangan pengunjung ke atas dan mengisi ruang gereja dengan cahaya suci. Gaya arsitektur Gotik mulai terlihat ketika Biara Saint-Denis di utara Paris dibangun kembali pada abad ke-12 oleh Abbot Suger. Penyebaran gaya ini kemudian mengubah cara orang mengalami ruang spiritual.

Kini, gerbang melengkung bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi objek perdebatan yang sering kali memicu perselisihan. Di Washington, gugatan hukum diajukan pada Februari 2026 oleh tiga veteran Perang Vietnam dan seorang sejarawan arsitek. Mereka berpendapat bahwa usulan Independence Arch memerlukan persetujuan Kongres dan akan menghalangi garis pandang yang telah lama terbentuk antara Arlington House dan Lincoln Memorial.
Garis pandang ini sengaja dilestarikan untuk melambangkan persatuan nasional setelah perang saudara dan selama hampir satu abad tidak ada penghalang di antara keduanya. Hal ini lantas menimbulkan pertanyaan: Akankah kota dengan lansekap yang telah dipenuhi monumen dan dijaga dengan cermat akan menambahkan gerbang monumen baru? Dan kisah apa yang akan dibawa monumen ini?
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











