Sejarah SMP Aisyiyah Rancaekek
SMP Aisyiyah Rancaekek merupakan salah satu lembaga pendidikan swasta tingkat menengah pertama yang berada di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sekolah ini resmi didirikan pada 31 Desember 1979 berdasarkan Surat Keputusan Nomor 120/102.kep/E/79 dan berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keberadaannya menjadi bagian penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya bagi masyarakat di wilayah Rancaekek dan sekitarnya.
Lebih dari itu, SMP Aisyiyah Rancaekek memiliki posisi istimewa dalam sejarah pendidikan, karena dikenal sebagai SMP Aisyiyah pertama di Indonesia dan hingga kini menjadi satu-satunya yang menggunakan nama tersebut secara resmi. Hal ini menjadikannya bukan hanya sekadar institusi pendidikan, tetapi juga pelopor dalam gerakan pendidikan Aisyiyah di tingkat sekolah menengah pertama.
Berlokasi di Jalan Rancaekek–Majalaya No. 245, Rancaekek Wetan, sekolah ini lahir dari gagasan dan perjuangan seorang tokoh perempuan inspiratif, almarhumah Hj. Euis Umidah Hendarsih. Beliau dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Bandung. Bersama suaminya, Tata Ahmad Dimyati, yang juga merupakan seorang pendidik dan mantan pegawai negeri sipil, mereka merintis berdirinya SMP Aisyiyah Rancaekek dengan penuh semangat dan dedikasi.
Pada awal pendiriannya, langkah untuk mendirikan sekolah ini tidaklah mudah. Bahkan, sempat mendapat penolakan dari berbagai pihak, termasuk karena telah adanya lembaga pendidikan lain yang lebih dahulu berkembang di bawah naungan Muhammadiyah. Namun, berkat kegigihan dan keyakinan Hj. Euis Umidah Hendarsih, akhirnya SMP Aisyiyah Rancaekek berhasil memperoleh izin untuk berdiri, meskipun di tengah berbagai keraguan dan penolakan.
Tata Ahmad Dimyati kemudian dipercaya menjadi kepala sekolah pertama. Di masa awal operasional, tantangan kembali muncul ketika masyarakat belum sepenuhnya percaya untuk menyekolahkan anak-anaknya di SMP Aisyiyah. Namun, dengan latar belakang keduanya sebagai pendidik, mereka terus berupaya membangun kepercayaan masyarakat. Perlahan namun pasti, kepercayaan itu tumbuh. Jumlah siswa meningkat signifikan hingga sekolah mengalami keterbatasan ruang kelas.
Salah satu warga Rancaekek Wetan mengenang masa-masa tersebut.
“Dulu mah orang-orang masih ragu nyekolahkan anaknya ke sini. Tapi Bu Euis sama Pak Tata itu sabar banget, door to door juga ke masyarakat. Lama-lama orang jadi percaya,” ujarnya.
Dalam kondisi keterbatasan ruang, Tata Ahmad Dimyati mengambil langkah berani dengan menggunakan dana pribadi yang diperoleh melalui pinjaman ke salah satu bank atas nama pribadi untuk membangun ruang kelas tambahan di lantai dua bagian belakang gedung utama. Keputusan ini menjadi bukti nyata pengorbanan dan komitmen beliau demi keberlangsungan pendidikan di SMP Aisyiyah Rancaekek.
Seorang alumni angkatan awal turut membagikan pengalamannya.
“Kami dulu belajar seadanya, bahkan sempat kelasnya digabung. Tapi justru di situ terasa kekeluargaannya. Guru-gurunya juga sangat berdedikasi,” kenangnya.
Seiring berkembangnya jumlah siswa dan meningkatnya kepercayaan masyarakat, perhatian dari berbagai pihak pun mulai bermunculan. Ironisnya, pihak-pihak yang sebelumnya meragukan justru mulai tertarik untuk mengambil alih pengelolaan sekolah.
Ketika masa pengabdian Tata Ahmad Dimyati sebagai kepala sekolah mendekati akhir, kepemimpinan diserahkan kepada Cep Ahmad Bahtiar. Selain dinilai memiliki kemampuan yang mumpuni, ia juga merupakan putra dari Tata Ahmad Dimyati. Penunjukan ini bukan semata karena hubungan keluarga, tetapi juga mempertimbangkan tanggung jawab yang masih berjalan, termasuk kewajiban pembayaran pinjaman pembangunan sekolah.
Namun, di tengah perjalanan, Cep Ahmad Bahtiar menghadapi tekanan untuk mengundurkan diri dari jabatan kepala sekolah oleh pihak yang mengatasnamakan organisasi, dengan alasan belum memiliki gelar sarjana. Demi menghindari konflik berkepanjangan, pihak keluarga akhirnya menyerahkan pengelolaan sekolah kepada organisasi tersebut. Meski demikian, tanggung jawab finansial berupa cicilan pembangunan tetap diselesaikan oleh keluarga, bukan oleh pihak yang mengambil alih.
Seorang warga lainnya menyoroti fase perubahan tersebut.
“Pas muridnya sudah banyak, barulah banyak yang ingin ikut mengelola. Tapi jasa pendirinya tidak bisa dilupakan,” katanya.
Dalam perjalanan fisiknya, SMP Aisyiyah Rancaekek juga mengalami perpindahan lokasi. Gedung awal yang terletak di Jalan Rancaekek, bersebelahan dengan SMP Negeri 1 Rancaekek, kini telah beralih fungsi menjadi gedung SMA Muhammadiyah 5 Rancaekek. Sementara itu, SMP Aisyiyah Rancaekek menempati gedung di Jalan Rancaekek–Majalaya No. 245, yang sebelumnya digunakan oleh Hj. Euis Umidah Hendarsih untuk kegiatan SKYPA (Santunan Keluarga Yatim Piatu Aisyiyah).
Alumni lainnya menilai sekolah ini memiliki nilai historis yang kuat.
“SMP Aisyiyah itu bukan sekadar sekolah, tapi tempat yang penuh cerita perjuangan. Dari yang dulu diremehkan, sekarang jadi kebanggaan,” ungkapnya.
Kini, SMP Aisyiyah Rancaekek terus melangkah sebagai lembaga pendidikan yang berakar dari perjuangan, ketulusan, dan pengabdian. Statusnya sebagai SMP Aisyiyah pertama dan satu-satunya di Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri, sekaligus amanah besar untuk terus menjaga kualitas dan nilai-nilai perjuangan para pendirinya dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











