Penutupan Operasi Pencarian Korban Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung
Operasi pencarian dan pertolongan terhadap korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, telah resmi ditutup. Sebanyak 11 paket berisi jenazah atau bagian tubuh korban berhasil ditemukan dan diserahkan kepada Rumah Sakit Bhayangkara untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Paket terakhir ditemukan pada Jumat pagi, 23 Januari 2026, dengan waktu penemuan masing-masing pukul 08.55 dan 09.16 WITA. Dari total 11 paket tersebut, 10 di antaranya berisi jenazah utuh yang telah teridentifikasi secara awal, sedangkan satu paket lainnya berisi potongan tulang atau bagian tubuh korban.
Tim Fire and Emergency Services (FES) PT Vale Indonesia turut serta dalam operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat tersebut. Tim FES bergabung dengan tim SAR gabungan untuk melakukan evakuasi di medan ekstrem berupa jurang terjal dengan kedalaman mencapai sekitar 400 meter. Proses penyelamatan dilakukan menggunakan sistem rope access atau vertical rescue, yaitu teknik penyelamatan berbasis tali dan sistem rigging untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses seperti tebing dan jurang curam.
PT Vale Indonesia mengerahkan empat personel dari Tim FES sejak Minggu, 18 Januari 2026. Coord Senior Station Operation PT Vale Indonesia Alfian Rauf menyampaikan bahwa pihaknya turut berbelasungkawa atas kejadian yang menimpa pesawat PK-THT. Ia mengatakan, selama operasi terdapat kendala seperti pandangan terbatas dan angin kencang, serta medan berat yang membuat gerakan sangat terbatas. Namun, semua tantangan ini dapat diatasi hingga operasi ditutup.
Upaya pencarian dilakukan bersama tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, dan relawan dari satuan pencarian lainnya. Seluruh unsur bekerja secara intensif menyisir area pencarian dengan tetap mengutamakan keselamatan. Keterlibatan ini merupakan wujud dukungan kemanusiaan dari berbagai pihak.
Identitas Korban yang Teridentifikasi
Berikut adalah daftar identitas 10 korban yang telah teridentifikasi:
- Florencia Lolita (33), Pramugari/Awak Kabin
- Esther Aprilita (27), Pramugari/Awak Kabin
- Deden Mulyana (44), penumpang dan merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), jabatan Pengelola Barang Milik Negara.
- Yoga Nauval Prakoso teridentifikasi dari kantong jenazah PM 62 B.05, cocok dengan data AM008.
- Hariadi teridentifikasi dari kantong jenazah PM 62 B.06 dan PM 62 B.03.
- Muhammad Farhan Gunawan teridentifikasi dari kantong jenazah PM 62.B.07 (AM001) melalui sidik jari dan gigi.
- Feri Irawan teridentifikasi dari kantong jenazah PM 62.B.08 (AM007) melalui sidik jari, properti, dan ciri medis.
- Dwi Murdiono teridentifikasi dari kantong jenazah PM 62.B.09 (AM005) melalui sidik jari dan gigi.
- Restu Adi Pribadi teridentifikasi dari kantong jenazah PM 62.B.10A, PM 62.B.10b, dan properti (AM009) melalui sidik jari, properti, dan ciri medis.
- Andi Dahananto teridentifikasi dari kantong jenazah PM 62.B.11 (AM010) melalui sidik jari, gigi, properti, dan ciri medis.
Kronologi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi membeberkan kronologi lengkap kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Selasa (20/1/2026). Menurut Dudy, pada Sabtu, 17 Januari 2026 pukul 08.08 WIB, pesawat ATR 42-500 registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh PT Indonesia Air Transport berangkat dari Yogyakarta.
Pesawat tersebut di-carter oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melakukan surveillance di wilayah perairan Indonesia yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab mereka. Pesawat ini melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar dengan jumlah manifest 10 orang, terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang dari KKP.
Pukul 12.23 WITA, Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan ke landasan Pacu Runway 21, Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Pada jam itu pula ATC mengidentifikasi pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya. ATC pun memberikan arahan koreksi posisi kepada awak pesawat, serta menyampaikan instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur.
“Kemudian komunikasi antara ATC dan pesawat terputus atau lost contact dan ATC segera mendeklarasikan fase darurat atau distress phase sesuai prosedur,” kata Dudy dalam kesempatan yang sama. Selanjutnya, Airnav Indonesia dan MATSC berkoordinasi dengan Basarnas, TNI Polri, Pemerintah Daerah Provinsi dan maupun Pemerintah Daerah Kabupaten, instansi terkait untuk membentuk crisis center yang disiapkan di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.
Pada Minggu, 18 Januari 2026, pukul 06.15 WITA, operasi pencarian terpadu dimulai dengan mengerahkan drone milik TNI Angkatan Udara di wilayah Gunung Bulusaraung yang terletak di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep. Pukul 07.46 WITA, tim SAR gabungan mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela sebagai penanda awal lokasi kecelakaan. Pukul 07.49 WITA, ditemukan serpihan besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya.
Pukul 10.05 WITA, konferensi pers dilaksanakan di bawah koordinasi Basarnas bersama unsur TNI, Polri, KNKT, Kementerian Perhubungan, Airnav, dan Operator Penerbangan. Pukul 11.59 WITA, Pos Komando Crisis Center Basarnas menerima laporan penemuan satu jenazah berjenis kelamin laki-laki dan segera dilakukan proses evakuasi. Pada pukul 18.30 WITA, Kementerian Perhubungan bersama Ketua Basarnas menggelar rapat koordinasi dengan sepuluh instansi terkait guna memantau pelaksanaan operasi SAR yang dipimpin Basarnas.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











