"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Krisis Aceh, Sumbar, dan Sumut Pasca Banjir: Antre BBM, Penjarahan, serta Sampah Kayu

Banjir dan Tanah Longsor Mengakibatkan Kesulitan Warga Aceh, Sumut, dan Sumbar

Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) dalam sepekan terakhir telah menyebabkan warga kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok. Bencana ini juga mengakibatkan kerusakan besar, termasuk rumah-rumah yang hanyut, akses jalan terputus, serta komunikasi padam di beberapa wilayah.

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Minggu (30/11/2025), total korban meninggal dunia mencapai 303 orang. Situasi pascabanjir di Aceh juga menunjukkan antrean kendaraan yang panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Ratusan kendaraan roda dua antre untuk mengisi BBM, khususnya di SPBU Cot Gapu Bireuen. Antrean tersebut mencapai lebih dari 500 meter dari depan SMAN 2 Bireuen hingga SPBU.

Tidak hanya kendaraan roda dua, kendaraan roda empat juga harus berlapis-lapis antre. Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Juli Bireuen, di mana para pengendara bahkan harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan bahan bakar.

Warga Bireuen, Rusli, mengaku terpaksa antre karena tangki motornya hampir kosong. “Saya sudah antre sejak pukul 15.00 WIB, ini belum ada kepastian ada atau tidaknya minyak,” ujarnya.

Penjarahan di Sumut Akibat Kekurangan Sembako

Di Sumatra Utara, situasi semakin memprihatinkan. Warga yang mulai panik akibat kehabisan sembako melakukan penjarahan di minimarket. Peristiwa itu terjadi di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut. Sejumlah warga menjarah makanan dan minuman di sejumlah minimarket pada hari Sabtu.

Padahal, Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution dan bahan logistik telah tiba di daerah tersebut sejak Jumat (28/11/2025) sore. Dari video yang viral di media sosial, tampak warga menjarah bahan pokok seperti beras, minyak, hingga telor. Di sejumlah minimarket yang berada di Jalan Lintas Sibolga-Tapanuli Selatan, terlihat barang di toko itu sudah kosong karena dijarah warga.

Seorang warga bernama Syakila mengatakan warga menjarah minimarket lantaran sembako di rumah mereka sudah habis. “Hari ini, baru penjarahan. Karena bahan sembako kami udah pada habis,” katanya. Ia juga menyebut bahwa bantuan logistik dari Pemprov Sumut belum terbagi secara merata.

Selain itu, harga kebutuhan pokok seperti telur dan cabai menjadi sangat mahal pasca-banjir. “Telur sebutir Rp5 ribu, cabai Rp200 ribu satu kg. Semua mahal. Apalagi gak ada tempat ambil uang. Uang kami udah pada habis, makanya semua ujungnya menjarah,” katanya.

Kayu Gelondongan Memenuhi Bibir Pantai

Di Sumatra Barat, situasi juga tidak kalah memprihatinkan. Kayu gelondongan memenuhi bibir Pantai Parkit di Kelurahan Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, pada hari Sabtu. Pantauan menunjukkan kayu berbagai ukuran mulai dari gelondongan besar hingga potongan kecil berserakan sepanjang garis pantai.

Tidak hanya kayu, pantai itu juga dipenuhi sampah plastik, sampah rumah tangga hingga puing-puing barang elektronik. Kayu gelondongan juga memenuhi Pantai Gajah hingga Pantai Patenggangan yang masih berada di kawasan Air Tawar Barat.

Warga sekitar, Prisilia Utari Candra, mengatakan tumpukan kayu dan sampah itu memenuhi bibir pantai sejak tiga hari terakhir. Menurutnya, material tersebut terbawa arus saat banjir melanda wilayah tersebut. “Sudah tiga hari terakhir ini tumpukan sampah ini muncul. Ini akibat terbawa banjir,” ujarnya.

Prisilia menyebut bahwa sebelumnya warga bahkan bisa berjalan di atas tumpukan kayu yang memenuhi area hingga ke tengah laut. “Kemarin masyarakat bisa berjalan di atas tumpukan kayu menuju arah tengah laut. Tapi sekarang sudah tidak bisa lagi karena sampahnya berkurang,” imbuhnya.






Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *