"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Keterlambatan Bicara: Bukan Telat, Tapi Waktunya Berbeda

Perkembangan bicara anak menjadi salah satu hal yang sangat dinantikan oleh orang tua, terutama ketika anak masih berada di masa balita. Banyak orang tua merasa panik ketika anak usia dua tahun masih mengucapkan “mam…aa..ee…”, sementara anak-anak lainnya sudah bisa membacakan ABC dari A sampai Z. Namun, setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda. Beberapa anak tergolong late talkers atau late bloomers, yang hanya membutuhkan stimulasi tambahan, sedangkan sebagian lainnya berkembang lebih cepat (early talkers), dan ada juga anak yang membutuhkan bantuan lebih intensif melalui intervensi profesional.

Apa Itu Speech Delay?

Speech delay bukan sekadar anak telat ngomong. Lebih tepatnya, anak memiliki perkembangan bicara yang berjalan lebih lambat dibanding usia yang seharusnya. Artinya, bukan karena anak malas, tetapi karena pola perkembangan mereka berbeda. Menurut Jullien (2021), speech delay merupakan kondisi ketika perkembangan kemampuan berbicara sebenarnya mengikuti pola yang benar, namun berlangsung lebih lambat dibandingkan perkembangan normal usianya.

Late Language Emergence (LLE)

LLE sering dipahami sebagai bentuk keterlambatan bahasa awal yang muncul pada anak usia sekitar dua tahun. Berdasarkan penelitian Martnez, Solano, dan Nez (2023), LLE ditandai oleh kemampuan kosakata yang belum mencapai jumlah kata sesuai tahap perkembangan atau belum munculnya kemampuan menggabungkan dua kata. Kondisi ini kerap muncul sebagai speech delay pada masa batita. Namun penting digarisbawahi bahwa anak dengan LLE bukan berarti akan mengalami hambatan jangka panjang. Banyak di antara mereka yang menunjukkan perkembangan bahasa yang baik seiring bertambahnya usia, terutama ketika mendapatkan stimulasi, interaksi, dan intervensi yang tepat.

Faktor Penyebab Speech Delay

Faktor penyebab speech delay itu kompleks. Ibarat membuat kopi susu: kadang kopinya kurang, susunya kebanyakan, atau baristanya lagi bad mood. Tapi semuanya bisa diperbaiki.

  1. Jenis Kelamin
    Anak laki-laki lebih banyak mengalami keterlambatan bicara dibandingkan anak perempuan. Hal ini berkaitan dengan perbedaan perkembangan neurologis serta kemampuan verbal yang cenderung lebih cepat pada anak perempuan.

  2. Riwayat Prenatal
    Kondisi kehamilan dan proses kelahiran juga mempengaruhi perkembangan bahasa anak, seperti:

  3. BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)
  4. Lahir prematur
  5. Asfiksia/permasalahan saat persalinan

  6. Pola Asuh
    Gaya pengasuhan memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan bahasa. Anak yang diasuh dengan pola otoriter atau kurang dialog cenderung mengalami keterlambatan bicara.

  7. Durasi Penggunaan Gadget
    Penggunaan gadget berlebihan menjadi salah satu penyebab terbesar speech delay masa kini. Anak yang terlalu banyak menonton layar cenderung pasif, hanya menerima visual dan audio tanpa mengolah interaksi.

  8. Kurangnya Stimulasi Lingkungan
    Anak belajar bahasa melalui interaksi. Ketika anak jarang diajak berbicara, jarang dibacakan buku, atau tidak memiliki lingkungan yang komunikatif, perkembangan bahasanya pun terhambat.

Bagaimana Mengenali Speech Delay?

Speech delay bisa dikenali melalui beberapa indikator yang menunjukkan keterlambatan dalam pemerolehan bahasa, terutama pada anak usia 18–24 bulan. Tanda-tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
– Kosakata terbatas pada usia 24 bulan
– Anak belum mencapai jumlah kata minimum yang diharapkan
– Kesulitan meniru kata atau suara
– Pemahaman bahasa terbatas
– Tidak menunjukkan perkembangan bahasa sesuai milestone normal

Bagaimana Cara Membantu Anak Speech Delay?

Membantu anak dengan speech delay sebenarnya tidak selalu harus kaku dan tegang. Justru, banyak langkah yang bisa dilakukan dengan suasana menyenangkan, selama dilakukan secara konsisten dan terarah.

  1. Ajak Anak Ngobrol, Tapi dengan Cara Lebih Halus
    Berbicara pada anak bukan sekadar mengajak bicara, melainkan mengatur cara berkomunikasi. Orang tua dianjurkan berbicara pelan, mengulang kata penting, dan memberi kesempatan anak menjawab.

  2. Bacakan Cerita Sebelum Tidur
    Membaca buku cerita ternyata bukan hanya momen bonding, tetapi juga alat stimulasi bahasa yang sangat efektif.

  3. Jadikan Waktu Bermain Sebagai Waktu Latihan Bahasa
    Game kecil seperti menyusun lego, puzzle, menggambar, atau bermain peran memberi banyak celah untuk stimulasi verbal.

  4. Gadget Boleh, Tapi Ada Aturannya
    Salah satu hambatan yang paling sering muncul adalah paparan gadget tanpa kontrol. Anak menjadi pendengar pasif dan tidak mendapat kesempatan membalas atau berlatih bicara.

  5. Jangan Ragu ke Terapis (jika dibutuhkan)
    Terapi profesional 1x seminggu selama sekitar satu jam terbukti membantu perkembangan bicara anak secara progresif.

Anak-anak Gen Alpha tumbuh di dunia yang serba visual, instan, dan teknologi. Bukan hal aneh kalau perkembangan bahasanya ikut terdampak. Tapi bukan berarti mereka “kurang”. Mereka hanya punya jalur yang berbeda. Tugas kita sebagai orang dewasa? Jangan panik. Jangan bandingkan. Jangan menghakimi. Justru bantu, dampingi, dan berikan stimulasi yang sesuai. Karena bicara itu bukan sekadar kata-kata. Bicara adalah jembatan. Dan setiap jembatan dibangun dengan sabar, pelan-pelan, tapi pasti.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *