"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Mengenal Flu Super yang Kini Masuk ke RI, Gejala dan Penanganannya

Penyebaran Penyakit Super Flu di Indonesia

Penyakit yang dikenal sebagai “super flu” kini telah menyebar di berbagai provinsi di Indonesia. Dikutip dari data sistem surveilans nasional hingga akhir tahun 2025, sebanyak 62 kasus penyakit ini telah terdeteksi di wilayah seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Hal ini diungkapkan oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), drg Widyawati, yang menjelaskan bahwa temuan tersebut berasal dari laporan 88 sentinel influenza like illness (ILI) dan severe acute respiratory infections (SARI) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Apa Itu Super Flu?

Meskipun istilah “super flu” kini menjadi topik utama dalam perbincangan masyarakat, para ahli menegaskan bahwa istilah ini bukanlah istilah ilmiah resmi. Secara medis, kondisi yang disebut super flu biasanya merujuk pada infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza tertentu atau virus pernapasan lain, seperti rhinovirus, adenovirus, atau respiratory syncytial virus (RSV). Gejala yang muncul bisa berupa demam tinggi, batuk, pilek berat, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan ekstrem, hingga gangguan pencernaan pada sebagian pasien.

Menurut James Hay, Peneliti Rekanan, Pemodelan Penyakit Menular di Oxford University, tingkat penyebaran virus dan tingkat keparahan penyakit super flu ini masih berada dalam kategori normal. Virus influenza memang terus berevolusi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Itulah sebabnya vaksin flu harus diperbarui secara berkala. Dalam tahun-tahun tertentu, mutasi virus bisa lebih signifikan, dengan perubahan besar biasanya terjadi setiap empat hingga lima tahun.

Subtipe flu yang dominan tahun ini adalah influenza A (H3N2) subclade K, yang sebenarnya sudah ada sejak 1968 dan telah mengalami banyak perubahan dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, fenomena yang disebut “super flu” sebenarnya muncul setiap beberapa tahun sekali.

Perbedaan Antara Super Flu dan Flu Biasa

Data terbaru CDC mengindikasikan strain H3N2, khususnya subvarian K, menjadi varian dominan di AS dan dinilai lebih menular dibandingkan strain flu lainnya. Saat ini, H3N2 menyumbang hampir 90 persen dari seluruh kasus flu yang dilaporkan di AS. “Jelas terlihat varian ini mengungguli strain flu lainnya, yang mengindikasikan tingkat penularannya lebih tinggi,” ujar Dr. David Weber, spesialis penyakit menular dari UNC Health.

Sejumlah penelitian dan laporan pemantauan juga menunjukkan musim flu yang didominasi H3N2 cenderung dikaitkan dengan penyakit yang lebih parah, serta angka rawat inap dan kematian yang lebih tinggi, terutama pada kelompok lanjut usia. Dampaknya dinilai lebih berat dibandingkan strain lain seperti H1N1 dan influenza B.

Mengapa Kasus Super Flu Banyak Terjadi pada Anak dan Remaja?

Anak-anak dan remaja lebih rentan terinfeksi flu karena tingkat kontak yang tinggi di sekolah, tempat penyebaran virus sering terjadi. Selain itu, sistem kekebalan mereka masih tidak sekuat orang dewasa dalam menghadapi virus influenza. Pada orang dewasa, risiko terinfeksi umumnya lebih rendah karena frekuensi kontak yang lebih sedikit dan kekebalan yang lebih terbentuk. Namun, lansia di atas 64 tahun lebih berisiko mengalami gejala berat jika terinfeksi, karena banyak di antaranya memiliki penyakit penyerta dan sistem imun yang melemah akibat proses immunosenescence. Bayi juga termasuk kelompok rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang sempurna.

Efektivitas Vaksin Lebih Rendah pada Lansia

Data terbaru menunjukkan vaksin flu mampu menurunkan risiko rawat inap akibat flu sekitar 30 hingga 40 persen pada lansia. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan vaksin untuk beberapa virus lain, tapi masih sejalan dengan efektivitas vaksin flu pada tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, vaksinasi tetap menjadi langkah terbaik untuk melindungi diri sekaligus mengurangi infeksi super flu. Vaksin terbukti efektif mencegah flu berat. Anak-anak yang divaksin memiliki risiko 70 hingga 75 persen lebih rendah untuk dirawat di IGD atau dirawat di rumah sakit akibat flu. Sementara pada orang dewasa, penurunannya sekitar 30 hingga 40 persen.

Cara Melindungi Diri dari Flu

Sejumlah langkah pencegahan yang dianjurkan tenaga kesehatan antara lain:

  • Gunakan masker, terutama di dalam ruangan dan tempat ramai, karena flu menyebar lewat partikel udara.
  • Lakukan vaksinasi, baik untuk anak-anak, orang dewasa, maupun lansia.
  • Lakukan pengobatan dini jika gejala flu melanda, seperti meminum antivirus oral, yang paling efektif jika diberikan dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul. Namun, tetap harus konsultasi dahulu dengan dokter.
  • Terapkan kebiasaan dasar pencegahan, seperti menutup mulut saat batuk atau bersin, rajin mencuci tangan, meningkatkan sirkulasi udara, dan tetap di rumah saat sedang sakit.
Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *