Puasa Sebelum Menikah, Tradisi yang Penuh Makna
Bagi masyarakat Jawa, puasa sebelum menikah mungkin sudah tidak asing lagi. Namun, bagi sebagian masyarakat lainnya, tradisi ini mungkin belum banyak diketahui. Puasa sebelum menikah adalah ritual yang dilakukan oleh calon mempelai sebelum melangsungkan pernikahan. Para pendahulu percaya bahwa puasa ini memiliki berbagai manfaat, baik secara spiritual maupun fisik.
Berikut penjelasan lengkap tentang puasa sebelum menikah, termasuk cara melakukannya dan manfaatnya:
1. Puasa Mutih
Selain midodareni, pengantin yang mengusung tradisi adat Jawa juga diimbau untuk melakukan puasa sebelum menikah atau yang lebih dikenal dengan nama puasa mutih. Kata “mutih” berasal dari kata “putih”, yang artinya puasa sebelum menikah ini dilakukan dengan cara menghindari mengonsumsi makanan selain yang berwarna putih.
Waktu pelaksanaannya bisa dimulai dari 40 hingga 3 hari sebelum resepsi digelar. Biasanya, puasa mutih dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Nggak boleh sembarangan, umumnya puasa mutih akan didampingi oleh sesepuh atau seorang guru. Hal ini bertujuan agar sang guru bisa menentukan kapan waktu terbaik untuk melaksanakan puasa sebelum menikah ini.
2. Cara Melaksanakan Puasa Mutih
Ada dua pendapat berbeda dalam melaksanakan puasa mutih ini. Sebagian orang melakukannya dengan cara yang sama seperti puasa pada umumnya, yakni dari waktu subuh hingga maghrib. Pembedanya hanya terletak pada menu makanan yang akan dikonsumsi, yakni hanya berbuka dan sahur dengan makanan dan minuman berwarna putih.
Sedangkan pendapat lainnya, memperbolehkan calon mempelai tetap makan di waktu makan seperti biasa. Hanya saja, kamu harus mengubahnya dengan makanan dan minuman putih yang diperbolehkan. Beberapa jenis menu yang berwarna putih antara lain nasi putih, putih telur, tahu putih, air putih, susu, dan garam.

3. Niat Melakukan Puasa Mutih
Setiap puasa tentu membutuhkan niat. Niat sebelum puasa bertujuan agar kamu tahu apa capaian yang diharapkan dalam melakukan puasa tersebut. Dalam puasa mutih yang dilakukan sebelum menikah, biasanya niat akan dilafalkan dalam bahasa Jawa setelah salat Isya.
“Niat ingsun puasa mutih supados putih batin kulo, putih awak kulo, putih kaya dining banyu suci karena Allah Ta’ala.”
Artinya:
“Saya berniat puasa mutih supaya putih batin saya, putih badan saya, putih seperti air suci karena Allah Ta’ala.”

4. Manfaat Melakukan Puasa Mutih
Seperti yang telah disebut dalam niat puasa mutih, puasa ini bertujuan agar kedua calon mempelai memiliki batin yang putih (bersih) demi menyongsong kehidupan rumah tangga setelahnya. Namun, selain itu puasa mutih juga memiliki manfaat lainnya, seperti:
- Memancarkan aura bersinar selama resepsi
- Memohon kelancaran dalam pernikahan
- Membuang energi negatif dari tubuh
- Membantu mengurangi racun dari dalam tubuh
- Mengurangi kadar lemak jahat
- Membantu penurunan gula darah
Jadi, bila dilihat lebih jauh ternyata puasa sebelum menikah ini juga memberikan banyak manfaat untuk tubuh, ya!

5. Ibadah Pendamping
Selama melakukan puasa mutih, calon pengantin juga diharapkan melakukan ibadah pendamping lainnya. Sebab, dengan ibadah pendamping ini kamu bisa meminta hal-hal yang sekiranya baik dan dibutuhkan selama prosesi pernikahan dan keberlangsungan rumah tanggamu kelak. Ibadah yang bisa kamu lakukan berupa salat Hajat dan perbanyak zikir.
“Subhanallah, wal hamdulillah wa laailaaha illallahu allahu akbar.”

6. Puasa Mutih dalam Islam
Sudah disebutkan sebelumnya, bahwa puasa mutih adalah puasa yang sering dilakukan oleh orang-orang yang masih menganut tradisi adat Jawa Kuno. Jadi, puasa ini tidak tertulis sebagai salah satu puasa sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan. Akan tetapi, puasa mutih juga bukan sesuatu yang dilarang selama tidak menyalahi ajaran Tauhid. Maksudnya, selalu tanamkan dalam jiwa bahwa kamu berpuasa hanya untuk meminta perlindungan Allah agar Dia meridai pernikahanmu kelak.

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











